Reyog Diakui UNESCO, Gubernur Khofifah Tekankan Regenerasi dan Pentas Rutin

- Redaksi

Selasa, 14 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Khofifah menerima Tim Reyog Kyai Lodra di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pekan lalu. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Gubernur Khofifah menerima Tim Reyog Kyai Lodra di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pekan lalu. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya penguatan ekosistem Reyog Ponorogo setelah kesenian tersebut diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Penegasan itu disampaikan saat menerima seniman Tim Reyog Kyai Lodra di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pekan lalu.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari persiapan tim menghadapi Festival Reyog Nasional Ponorogo (FRNP) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Juni mendatang. Dalam kesempatan itu, Pemprov Jatim juga menyalurkan dukungan dana pembinaan sebesar Rp25 juta.

Khofifah menyampaikan, pengakuan dunia terhadap Reyog harus dijawab dengan langkah nyata agar seni tradisi tersebut tidak berhenti sebatas seremoni. Menurutnya, pelestarian harus mencakup regenerasi pelaku seni, ruang pentas, penguatan komunitas, hingga adaptasi terhadap tantangan zaman.

Ia menilai Reyog bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan simbol identitas bangsa yang sarat nilai keberanian, persatuan, dan harmoni sosial. Karena itu, keberadaan Reyog perlu dijaga melalui kebijakan yang berkelanjutan.

Penguatan tersebut dinilai semakin penting setelah Reyog Ponorogo masuk daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO kategori *In Need of Urgent Safeguarding* pada akhir 2024. Status itu menandakan perlunya perlindungan dan upaya serius agar tradisi tetap hidup di tengah perubahan sosial.

Selain pelestarian nilai budaya, pemerintah juga menyoroti aspek keberlanjutan material pertunjukan. Salah satu perhatian utama ialah penggunaan bahan yang tidak berasal dari satwa dilindungi, sejalan dengan prinsip konservasi dan kesejahteraan hewan.

Khofifah menambahkan, meningkatnya pengakuan global terhadap Ponorogo sebagai Kota Kreatif Dunia UNESCO menjadi momentum strategis untuk memperluas promosi budaya lokal ke tingkat internasional. Reyog diharapkan menjadi pintu masuk penguatan ekonomi kreatif berbasis tradisi.

“Reyog bukan sekadar atraksi. Di dalamnya ada filosofi yang sangat kuat, tentang keberanian, kebenaran, dan bagaimana keberagaman suku serta agama dapat dirajut dalam harmoni budaya,” ujar Khofifah.

Ia menegaskan, yang terpenting bukan hanya festival tahunan, tetapi nilai yang diwariskan kepada generasi muda. Menurutnya, karakter bangsa dapat dibangun dari warisan budaya yang terus dipraktikkan.

“Harus sering ada pentas dan event, supaya mereka terus berlatih dan regenerasinya berjalan maksimal. Ketika tumbuh rasa bangga, akan muncul dedikasi untuk melestarikan,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim Evy Afianasari mengatakan penguatan ekosistem dilakukan melalui kolaborasi dengan lembaga pendidikan dan komunitas seni.

“Kami menggandeng STKW, SMK 12 Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, serta berbagai sanggar seni Reyog untuk memperkuat ekosistem, mulai dari pelatihan hingga pengembangan kreativitas,” ujarnya.

Langkah Pemprov Jatim dinilai penting karena pengakuan UNESCO membawa konsekuensi besar bagi pemerintah daerah untuk memastikan kelestarian budaya berjalan konsisten. Jika dikelola serius, Reyog berpotensi memperkuat sektor pariwisata, membuka lapangan kerja kreatif, dan meningkatkan kebanggaan masyarakat terhadap identitas lokal.

Di sisi lain, regenerasi menjadi tantangan utama. Tanpa ruang tampil dan dukungan pembinaan, minat generasi muda terhadap seni tradisi dikhawatirkan menurun.

Perwakilan Tim Reyog Kyai Lodra, Joko Winarko, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah daerah terhadap para seniman muda. Ia menegaskan keikutsertaan tim di FRNP 2026 bukan sekadar kompetisi, melainkan bentuk komitmen menjaga warisan budaya.

“Keikutsertaan kami bukan hanya soal lomba, tetapi kebanggaan sekaligus komitmen generasi muda dalam melestarikan Reyog,” pungkasnya.

Lainnya:

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Tak Ada Demo Ricuh, May Day Jember 2026 Berubah Jadi Panggung Harmoni Buruh dan Pengusaha
Negara Turun ke Laut, Ratifikasi ILO 188 Jadi Tameng Baru Buruh Perikanan dari Eksploitasi
Hari Kebebasan Pers Sedunia, SMSI Tegaskan Hak Dirikan Media Dijamin Konstitusi
Menteri PKP Turun ke Bangkalan, 573 Rumah Warga Siap Dibedah Tahun Ini
Di Tengah Konflik Dunia, Khofifah Serukan Perdamaian dari Surabaya Saat Nyepi 1948
Saat Dunia Memanas, Khofifah Pilih Panggung Nyepi untuk Serukan Stop Perang Global
May Day Asahan Memanas, Bupati Tegaskan Buruh Penopang Utama Ekonomi Daerah
NTB Resmikan Pusat Informasi Rinjani, Perkuat Status UNESCO Global Geopark

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 23:13 WIB

Tak Ada Demo Ricuh, May Day Jember 2026 Berubah Jadi Panggung Harmoni Buruh dan Pengusaha

Minggu, 3 Mei 2026 - 22:50 WIB

Negara Turun ke Laut, Ratifikasi ILO 188 Jadi Tameng Baru Buruh Perikanan dari Eksploitasi

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:51 WIB

Hari Kebebasan Pers Sedunia, SMSI Tegaskan Hak Dirikan Media Dijamin Konstitusi

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:02 WIB

Di Tengah Konflik Dunia, Khofifah Serukan Perdamaian dari Surabaya Saat Nyepi 1948

Minggu, 3 Mei 2026 - 17:53 WIB

Saat Dunia Memanas, Khofifah Pilih Panggung Nyepi untuk Serukan Stop Perang Global

Berita Terbaru