MATARAM, RadarBangsa.co.id – Konsumsi mie instan saat buka puasa dinilai boleh saja, namun tidak dianjurkan terlalu sering karena berisiko terhadap kesehatan, terutama bagi penderita penyakit degeneratif seperti hipertensi dan diabetes.
Peringatan tersebut disampaikan Nurafiani, S.Gz, CHNMP, Kepala Instalasi Gizi di RSUD H. Moh Ruslan, menanggapi kebiasaan masyarakat yang memilih mie instan sebagai menu praktis berbuka selama Ramadhan.
Menurutnya, mie instan memang berbahan dasar tepung yang merupakan sumber karbohidrat, sehingga tidak sepenuhnya berbahaya bagi orang sehat jika dikonsumsi sesekali. Namun, kandungan gizinya didominasi karbohidrat dan kalori, dengan serat serta protein yang relatif rendah.
“Secara umum boleh dikonsumsi, tetapi tidak dianjurkan dalam jumlah banyak atau terlalu sering. Kandungan seratnya rendah sehingga membuat seseorang lebih cepat lapar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsumsi berlebihan dapat berdampak serius bagi kelompok tertentu. Kandungan natrium atau garam dalam mie instan tergolong tinggi dan berpotensi memperberat kondisi penderita hipertensi, penyakit jantung, diabetes, hingga gangguan ginjal.
Dari sisi metabolik, pola konsumsi mie instan yang berlebihan juga dikaitkan dengan risiko dislipidemia, yakni peningkatan kadar kolesterol, LDL, dan VLDL. Selain itu, indeks glikemik yang tinggi dapat memicu lonjakan gula darah, khususnya pada penderita diabetes.
“Risiko penyakit metabolik seperti jantung dan diabetes bisa meningkat jika konsumsi tidak dikendalikan,” jelasnya.
Nurafiani menambahkan, rendahnya kandungan serat dan protein membuat rasa kenyang tidak bertahan lama. Kondisi ini mendorong seseorang untuk menambah porsi atau mengombinasikan mie instan dengan nasi, yang berpotensi meningkatkan asupan kalori berlebih dan memicu obesitas.
Kandungan garam yang tinggi juga dapat meningkatkan rasa haus dan berisiko menyebabkan dehidrasi, terutama setelah seharian berpuasa.
Sebagai solusi, ia menyarankan masyarakat yang tetap ingin mengonsumsi mie instan saat berbuka agar memodifikasi penyajiannya menjadi lebih sehat. Caranya dengan menambahkan sumber protein hewani seperti telur atau ayam, memperbanyak sayuran sebagai sumber serat, serta mengurangi penggunaan bumbu instan.
“Gunakan kaldu alami dari daging atau ayam untuk memperkuat rasa, dan tambahkan bumbu alami seperti bawang merah, bawang putih, atau merica sebagai pengganti sebagian bumbu instan,” sarannya.
Ia juga menyarankan memilih varian mie instan dengan kandungan serat lebih tinggi dan natrium lebih rendah jika tersedia di pasaran.
Momentum Ramadhan, menurutnya, seharusnya dimanfaatkan untuk memperbaiki pola makan agar lebih seimbang dan bergizi. Menu berbuka ideal mengandung karbohidrat kompleks, protein, serat, vitamin, dan mineral dalam komposisi yang cukup.
“Berbuka puasa bukan sekadar menghilangkan lapar, tetapi juga kesempatan mengembalikan energi dengan pilihan makanan yang tepat dan menyehatkan,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar