NGAWI, RadarBangsa.co.id – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Mantingan Ngawi dinilai memiliki posisi strategis sebagai representasi pendidikan Islam negeri di wilayah perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Letaknya yang hanya sekitar 500 meter dari batas provinsi menjadikan madrasah ini bukan sekadar lembaga pendidikan lokal, melainkan etalase kehadiran negara di kawasan barat Jawa Timur.
Penilaian tersebut disampaikan Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, saat melakukan kunjungan kerja ke MAN 3 Mantingan, Kamis (8/1/2026). Dalam agenda itu, Lia meninjau fasilitas madrasah, berdialog dengan kepala sekolah dan guru, serta menyerap aspirasi para siswa terkait proses belajar dan pengembangan sekolah.
“MAN 3 Mantingan bukan hanya tempat belajar, tetapi wajah pendidikan Islam negeri di gerbang barat Jawa Timur. Sekolah di perbatasan memiliki makna simbolik yang kuat karena menjadi cerminan langsung kehadiran negara,” ujar Lia Istifhama, Senator DPD RI.
Menurut Lia, posisi geografis MAN 3 Mantingan membuatnya berperan ganda. Selain melayani kebutuhan pendidikan masyarakat Ngawi, madrasah ini juga menjadi rujukan bagi warga dari wilayah sekitar yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. Kondisi tersebut, kata dia, menuntut dukungan fasilitas dan infrastruktur yang sepadan agar kualitas layanan pendidikan tetap terjaga.
Sejalan dengan itu, Kepala MAN 3 Ngawi, Masrukhin, mengungkapkan bahwa minat masyarakat terhadap madrasah terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Setiap tahun, jumlah pendaftar tercatat mencapai hingga tiga kali lipat dari daya tampung yang tersedia.
“Tingginya animo ini menunjukkan kepercayaan publik terhadap MAN 3 Mantingan. Namun, di sisi lain, kami masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana yang perlu segera ditangani,” kata Masrukhin.
Dari sisi program unggulan, MAN 3 Mantingan dikenal aktif mengembangkan pembinaan olahraga bola voli. Program ini telah mengantarkan siswa meraih prestasi di tingkat kabupaten hingga regional, sekaligus memperkuat citra madrasah di tengah persaingan antar sekolah menengah di wilayah Ngawi dan sekitarnya.
Selain prestasi nonakademik, madrasah ini juga mengembangkan pendekatan pendidikan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Model pembelajaran tersebut dirancang agar lulusan memiliki keterampilan praktis yang relevan, tanpa meninggalkan nilai dan karakter pendidikan Islam.
“Pendekatan vokasi kami kembangkan agar siswa siap menghadapi dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan, dengan tetap berlandaskan nilai keislaman,” ujar Masrukhin.
Meski demikian, keterbatasan fasilitas fisik masih menjadi tantangan utama. Pihak madrasah telah mengajukan proposal pembangunan gedung kepada Kementerian Agama RI, namun hingga kini belum terealisasi.
Menanggapi hal tersebut, Lia Istifhama menegaskan komitmennya untuk mengawal aspirasi MAN 3 Mantingan di tingkat pusat. Ia menilai peningkatan kualitas pendidikan harus berjalan seiring dengan pemerataan infrastruktur, terutama bagi madrasah di wilayah perbatasan.
“Ketika prestasi dan minat masyarakat tinggi, negara tidak boleh tertinggal. Pembangunan fasilitas di MAN 3 Mantingan adalah bagian dari keadilan pembangunan pendidikan nasional,” kata Lia.
Ke depan, dukungan kebijakan dan percepatan pembangunan infrastruktur diharapkan mampu memperkuat posisi MAN 3 Mantingan Ngawi sebagai madrasah unggulan sekaligus ikon pendidikan Islam negeri di gerbang barat Jawa Timur.
Lainnya:
- Alarm Bahaya Gadget, Wabup Mimik Siapkan Wahana Belajar Tanpa Gawai di Sidoarjo
- Khofifah Buat Sejarah di Hardiknas 2026: Paskibra SD Pimpin Upacara, Siswa SR Pidato 5 Bahasa
- Bupati Bangkalan Sikat Titipan Siswa, PPDB 2026 Wajib Transparan
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








