SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Industri tekstil Indonesia tengah menghadapi tantangan besar akibat penurunan permintaan global dan derasnya arus produk impor. Namun, di balik tantangan itu, muncul gagasan segar dari Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, yang mendorong kebangkitan sektor ini melalui pendekatan kreatif, inovatif, dan berkelanjutan.
Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri workshop bertajuk “Batik and Brew” yang digelar di Hotel Ciputra Surabaya, bertepatan dengan peringatan Hari Kopi Internasional pada 1 Oktober dan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober. Acara ini diikuti 15 peserta dari berbagai kalangan komunitas Ibu Semangat Indonesia Kuat (ISIK) yang didorong untuk bereksperimen dengan bahan ramah lingkungan, termasuk ampas kopi sebagai pewarna alami serta sprei hotel bekas sebagai media batik.
Dari proses kreatif tersebut, lahir beragam karya eco-print mulai dari tote bag, sarung bantal, hingga kain batik yang memiliki nilai seni sekaligus ramah lingkungan.
Menurut Lia Istifhama, kegiatan ini lebih dari sekadar perayaan budaya batik. Ia menilai workshop tersebut bisa menjadi pintu masuk untuk membangkitkan kembali kejayaan tekstil Indonesia dengan sentuhan budaya sekaligus inovasi.
“Industri tekstil Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius akibat turunnya permintaan global dan persaingan produk impor. Melalui pelatihan kreatif seperti ini, kita bisa memperkuat kembali tekstil lokal dengan budaya, inovasi, dan keberlanjutan,” ujarnya, Sabtu (4/10/2025).
Ia menekankan bahwa batik tidak hanya memiliki makna simbolis sebagai identitas bangsa, tetapi juga peluang ekonomi yang tinggi di pasar global. Dengan pengelolaan profesional, batik bisa menjadi produk unggulan Indonesia, terutama jika dikaitkan dengan kerja sama perdagangan internasional seperti perjanjian ekonomi komprehensif Indonesia-Uni Eropa (EU-CEPA).
“Batik bukan sekadar busana, melainkan identitas budaya. Jika dikemas dengan inovasi, ramah lingkungan, dan sesuai tren global, produk tekstil kita bisa kembali berjaya dan menjadi kebanggaan Indonesia,” tegasnya.
Senator yang akrab disapa Ning Lia itu juga menekankan pentingnya peran perempuan, terutama kaum ibu, dalam industri batik. Menurutnya, usaha berbasis komunitas perempuan tidak hanya mampu menjaga kelestarian budaya, tetapi juga memperkuat ekonomi keluarga.
“Pemberdayaan perempuan melalui usaha batik komunitas sangat penting. Dengan kreativitas mereka, kita bisa mencetak produk yang bernilai ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan budaya bangsa,” kata Lia.
Wakil Direktur I ISIK, M. Lukman Hakim, menilai kegiatan ini sebagai langkah edukasi masyarakat untuk lebih peduli pada keberlanjutan. “Daripada dibuang, sprei hotel bisa diolah kembali menjadi produk baru. Ditambah pewarna alami dari kopi, hasilnya unik sekaligus ramah lingkungan,” jelasnya.
Dukungan serupa datang dari pihak swasta. Stephanie Caroline, Marketing Communication Hotel Ciputra World Surabaya, menyebut acara ini sebagai bentuk kolaborasi yang menghubungkan kreativitas dengan momentum nasional. “Kami ingin menunjukkan bahwa kopi tidak hanya bisa dinikmati sebagai minuman, tetapi juga memberi nilai tambah sebagai bagian dari seni batik,” ujarnya.
Workshop Batik and Brew menjadi bukti bahwa inovasi berbasis kearifan lokal mampu menjawab tantangan industri tekstil nasional. Dengan menggabungkan budaya, kreativitas, dan prinsip ramah lingkungan, batik berpotensi besar untuk kembali merebut perhatian dunia.
“Batik harus tetap menjadi kebanggaan Indonesia dengan wajah baru yang kreatif, inovatif, dan berkelanjutan,” pungkas Ning Lia.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar