Anggota DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama Dorong Kolaborasi Masyarakat dan Pertamina untuk Distribusi Elpiji 3 Kg

- Redaksi

Rabu, 5 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Anggota DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

SURABAYA, RadarBangsa.co.id — Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menegaskan perlunya kolaborasi antara masyarakat dan Pertamina dalam pengelolaan serta distribusi elpiji subsidi 3 kilogram. Ia menilai kemitraan ini tak hanya menjamin ketersediaan energi bagi rakyat kecil, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi di tingkat lokal.

Dalam pandangannya, Lia menilai bahwa elpiji 3 kilogram bukan sekadar komoditas, melainkan kebutuhan pokok yang menyangkut hajat hidup masyarakat. Karena itu, tata kelola distribusinya tidak bisa hanya diserahkan sepenuhnya kepada Pertamina tanpa melibatkan peran aktif masyarakat. Menurutnya, pola kemitraan yang melibatkan warga sebagai mitra distribusi akan menciptakan sistem yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan.

“Selama ini, kita masih menghadapi masalah klasik seperti kelangkaan dan harga yang tidak stabil di lapangan. Salah satu solusinya adalah menjadikan masyarakat sebagai bagian dari sistem itu sendiri, bukan hanya sebagai konsumen,” kata Lia dalam keterangannya di Surabaya, Selasa (4/11/2025). Ia menegaskan bahwa pelibatan warga bisa menjadi cara efektif untuk menjaga pasokan dan menekan praktik penimbunan elpiji bersubsidi.

Senator muda yang akrab disapa Ning Lia itu menambahkan, masyarakat dapat berperan aktif sebagai mitra resmi Pertamina dalam pengelolaan pangkalan elpiji. Ia menyebut, kemitraan seperti ini tidak hanya menciptakan pemerataan distribusi, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat. “Walaupun tetap berada di bawah pengawasan Pertamina, model ini akan membuka lapangan usaha baru, meningkatkan tanggung jawab sosial, dan memperkuat kepercayaan publik terhadap kebijakan energi,” ujarnya.

Lia juga menyoroti pentingnya transparansi dan data yang terintegrasi antara pemerintah daerah, Pertamina, dan aparat pengawas di lapangan. Menurutnya, dengan sistem yang terhubung dan akuntabel, potensi penyimpangan bisa ditekan sejak awal. “Bayangkan bila setiap kecamatan memiliki mitra pangkalan elpiji yang terverifikasi dan menjalankan standar operasional yang jelas. Harga gas akan lebih terkontrol, dan masyarakat tidak perlu lagi antre panjang atau membayar lebih mahal,” tambahnya.

Dalam konteks yang lebih luas, Lia mendorong Pertamina serta pemerintah daerah membuka ruang partisipasi publik melalui pelatihan dan pembinaan. Ia menilai masih banyak masyarakat yang memiliki semangat wirausaha, namun belum mendapat kesempatan menjadi agen resmi elpiji 3 kg. “Pertamina bisa menggandeng warga lokal yang memiliki integritas dan semangat sosial untuk menjadi mitra distribusi. Ini bukan hanya soal bisnis energi, tapi tentang keadilan sosial dan pembangunan ekonomi dari bawah,” tuturnya.

Selain aspek ekonomi, Lia menilai kemitraan masyarakat dan Pertamina juga memiliki nilai sosial yang besar. Ia menegaskan bahwa keterlibatan publik akan memperkuat rasa kepemilikan terhadap sistem subsidi energi. Dengan demikian, masyarakat akan merasa bertanggung jawab menjaga keberlangsungan distribusi gas yang adil dan merata. “Kalau masyarakat ikut dilibatkan, mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga penjaga moral agar distribusi tetap bersih dari penyimpangan,” katanya.

Lia menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor antara Pertamina, pemerintah daerah, dan masyarakat harus segera diwujudkan untuk memastikan distribusi elpiji 3 kilogram tepat sasaran. Ia berharap langkah ini bisa menjadi model kemitraan energi nasional yang menyeimbangkan efisiensi ekonomi dengan nilai kemanusiaan. “Distribusi elpiji yang adil bukan sekadar urusan pasokan, tapi soal rasa keadilan bagi rakyat kecil. Saat masyarakat dilibatkan, sistem ini akan lebih kuat dan berkelanjutan,” pungkas Lia Istifhama.

Lainnya:

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

DPRD Musi Rawas Gaspol 4 Raperda Krusial Dibahas, Dari Tata Ruang hingga Ketertiban Daerah
Banjir Sidoarjo Tak Kunjung Usai, Pemkab Gandeng BNPB Gaspol Rp209 M
Sidoarjo Hapus Denda Pajak 2026, Warga Dikejar Deadline Oktober
Jalan Rusak Kencong Disorot, Bupati Jember Turun Tangan Kejar Perbaikan
2.956 Jamaah Haji Dilepas, Bupati Jember Ingatkan Ancaman Fisik di Tanah Suci
Tekan Stunting, Bangkalan Genjot Tanam Padi Biofortifikasi Kaya Zat Besi
May Day 2026: Saat Buruh Masih Rentan, BPJS Ketenagakerjaan Cairkan Santunan Rp744 Juta di Lamongan
Darurat Lapangan Kerja, Wamenaker Ungkap 155 Juta Pekerja Masih Bertahan di Sektor Informal

Berita Terkait

Selasa, 5 Mei 2026 - 07:32 WIB

DPRD Musi Rawas Gaspol 4 Raperda Krusial Dibahas, Dari Tata Ruang hingga Ketertiban Daerah

Selasa, 5 Mei 2026 - 06:06 WIB

Banjir Sidoarjo Tak Kunjung Usai, Pemkab Gandeng BNPB Gaspol Rp209 M

Selasa, 5 Mei 2026 - 05:52 WIB

Jalan Rusak Kencong Disorot, Bupati Jember Turun Tangan Kejar Perbaikan

Selasa, 5 Mei 2026 - 05:45 WIB

2.956 Jamaah Haji Dilepas, Bupati Jember Ingatkan Ancaman Fisik di Tanah Suci

Senin, 4 Mei 2026 - 17:54 WIB

Tekan Stunting, Bangkalan Genjot Tanam Padi Biofortifikasi Kaya Zat Besi

Berita Terbaru