SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Krisis gula kembali menjadi ancaman serius bagi Indonesia. Namun, Jawa Timur masih menjadi tumpuan utama dalam menjaga stabilitas pangan strategis tersebut. Berdasarkan data Kementerian Pertanian 2024, lebih dari 51,87 persen produksi gula nasional disumbang dari pabrik-pabrik di Jawa Timur.
Capaian itu menegaskan bahwa Jawa Timur tidak hanya dikenal sebagai lumbung padi nasional, tetapi juga sentra utama gula yang menopang ketahanan pangan negeri.
Senator DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menilai peran Jatim sangat krusial dalam upaya swasembada gula. Menurutnya, keberpihakan terhadap petani tebu menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
“Jawa Timur menjadi penopang gula nasional. Jika kekuatan ini dijaga, kita bisa menekan ketergantungan impor,” ujar Lia, Minggu (7/9/2025).
Ia menambahkan, penguatan industri gula rakyat harus menjadi fondasi utama. “Kalau Jawa Timur mampu memperkuat sektor gula, maka swasembada bukan lagi mimpi. Justru bisa jadi tonggak bagi Indonesia untuk mandiri pangan,” tegasnya.
Meski potensinya besar, Jawa Timur menghadapi persoalan serius. Lebih dari 74.700 ton gula petani menumpuk di gudang pabrik, terutama di kawasan Tapal Kuda seperti Jember, Lumajang, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi. Kondisi ini menghambat aktivitas petani dan pabrik.
Sekjen DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Sunardi Eko Sukamto, menyebut keadaan semakin berat. “Kami sudah kesulitan. Beberapa pabrik gula bahkan berhenti giling karena stok menumpuk,” ujarnya di Surabaya, Jumat (15/8/2025).
Sunardi mendesak agar dana Rp1,5 triliun dari Danantara segera dicairkan untuk menyerap gula petani. “Kalau dana itu tidak cair, jangan harap Indonesia bisa swasembada gula. Petani tebu akan mogok massal,” tegasnya.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan pihaknya terus mencari solusi bersama pemerintah pusat dan BUMN pangan. Salah satunya lewat koordinasi dengan Danantara.
“Mereka menyiapkan anggaran Rp1,5 triliun untuk menyerap tebu rakyat. Komunikasi sudah berjalan lama, bahkan di Lumajang sudah ada realisasi serapan gula langsung,” kata Khofifah, Sabtu (6/9/2025).
Pemprov Jatim juga berperan sebagai mediator antara petani, Danantara, dan BUMN pangan seperti Sinergi Gula Nusantara (SGN) serta Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) agar produksi gula tidak berhenti di gudang.
Meski tantangan masih besar, optimisme tetap ada. Jawa Timur sudah memiliki dasar hukum melalui Pergub Nomor 87 Tahun 2014 tentang Pengembangan Perkebunan Tebu Terpadu, yang mengatur dukungan teknologi modern, insentif bagi petani, hingga hilirisasi produk gula.
Senator Lia Istifhama menilai, jika sinergi antara pemerintah, BUMN, dan petani berjalan konsisten, Jawa Timur bisa kembali menjadi poros kekuatan gula nasional.
“Kalau potensi ini dioptimalkan, Jawa Timur bukan hanya menyelamatkan petani, tapi juga menjaga masa depan ketahanan pangan Indonesia,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar