Batik ‘Pakrida’ Khas Pasuruan Laris Manis, Jumiati Kebanjiran Order ASN

Senin, 13 Oktober 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jumiati, pembatik asal Desa Kemantren Rejo, Kecamatan Rejoso, tengah mencanting kain batik tulis “Pakrida” pesanan ASN Pemkab Pasuruan di rumah produksinya, Senin (13/10/2025). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Jumiati, pembatik asal Desa Kemantren Rejo, Kecamatan Rejoso, tengah mencanting kain batik tulis “Pakrida” pesanan ASN Pemkab Pasuruan di rumah produksinya, Senin (13/10/2025). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

PASURUAN, RadarBangsa.co.id – Jumiati, seorang pembatik asal Desa Kemantren Rejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, tengah menikmati lonjakan pesanan batik tulis khas ASN Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan. Sejak Maret 2025, pesanan kain batik “Pakrida” yang menjadi identitas resmi ASN di lingkungan Pemkab terus mengalir deras, membuat Jumiati nyaris tak pernah sepi pekerjaan.

Ditemui di rumah sekaligus tempat produksinya pada Senin (13/10/2025) pagi, Jumiati tampak sibuk mencanting kain yang terbentang di mejanya. Tangannya cekatan menorehkan malam cair, membentuk motif-motif khas Kabupaten Pasuruan yang penuh filosofi. Ia bercerita, dalam sebulan bisa menyelesaikan sekitar 60 lembar kain batik tulis. Seluruh proses dilakukan secara manual, mulai dari menggambar pola, mencanting, hingga pewarnaan.

“Semua pesanan batik tulis, karena hasilnya lebih indah dan tahan lama. Kalau dirawat dengan baik bisa awet sampai sepuluh tahun,” ujar Jumiati sambil tersenyum.

Proses pembuatan satu lembar kain batik tulis, kata Jumiati, memakan waktu antara empat hingga tujuh hari, tergantung tingkat kerumitan motif. Namun ketika jumlah pesanan meningkat, ia tidak bekerja sendirian. Beberapa pekerja lokal ikut membantunya dalam proses produksi. Setiap orang memiliki peran masing-masing, mulai dari pembuat pola, pencanting, pewarna, hingga pengepak.

“Saya biasa menyelesaikan satu kain seminggu, tapi kalau pesanan banyak tetap bisa selesai karena dikerjakan bersama. Ada yang fokus menggambar, ada yang mewarnai, ada juga yang mencanting dan mengemas,” jelasnya.

Harga setiap lembar kain batik bervariasi, menyesuaikan kualitas bahan dan tingkat kesulitan motif. Untuk jenis standar dijual mulai Rp 275 ribu per lembar, sedangkan batik berkualitas tinggi dengan kain primisima dibanderol hingga Rp 375 ribu.

“Kalau kain primisima saya jual Rp 350 ribu sampai Rp 375 ribu, karena bahannya lembut, tidak panas, dan hasil batiknya juga lebih halus,” tambahnya.

Motif batik “Pakrida” sendiri memiliki makna mendalam, menggambarkan semangat kerja, pelayanan publik, dan karakter masyarakat Pasuruan yang religius, tangguh, serta berdaya saing. Pemkab Pasuruan telah menetapkan motif ini sebagai batik resmi ASN, dan kebijakan tersebut turut menggairahkan ekonomi pelaku usaha batik lokal.

Jumiati mengaku bersyukur karena pesanan batik dari ASN memberi dampak besar bagi usahanya dan para pekerja di desanya. “Alhamdulillah, sejak banyak pesanan dari ASN, ekonomi di sekitar juga ikut bergerak. Banyak yang ikut membantu proses batik,” tuturnya.

Sebagai pengrajin yang sudah lebih dari 15 tahun menekuni dunia batik, Jumiati juga memberikan sejumlah tips agar batik tulis tetap awet. Ia menyarankan agar kain batik tidak dicuci menggunakan deterjen, melainkan cukup dengan larutan lerak atau sampo bayi. Selain itu, batik sebaiknya tidak dijemur langsung di bawah terik matahari agar warnanya tidak mudah pudar.

“Yang penting jangan dicuci pakai deterjen, nanti warna batiknya cepat luntur. Cukup dibilas lembut dan dijemur di tempat teduh,” pesannya.

Ia berharap, keberadaan batik “Pakrida” tidak hanya menjadi simbol identitas ASN Pasuruan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi para pengrajin batik di desa-desa sekitar. “Selama masyarakat bangga memakai batik lokal, kami para pembatik akan terus semangat berkarya,” ujarnya penuh harap.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak
PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan
PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani
DPRD Kabupaten Pasuruan Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi
Gus Iqdam di Pasuruan: Serukan Ilmu, Akhlak, dan Sedekah
Paripurna, Fraksi Golkar DPRD Ngawi Soroti Defisit RAPBD 2027, Usulkan Stadion Baru Berkapasitas 40.000 Penonton
HKG PKK ke-54, Luthfiana Lukman Hakim Perkuat Peran Keluarga di Bangkalan
Pelatihan Pelinting Rokok di Bangkalan, 30 Warga Burneh Ikuti Pembekalan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:38

Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak

Kamis, 29 Oktober 2026 - 23:36

PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:47

PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:31

DPRD Kabupaten Pasuruan Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:22

Gus Iqdam di Pasuruan: Serukan Ilmu, Akhlak, dan Sedekah

Berita Terbaru