MOJOKERTO, RadarBangsa.co.id – Di tengah dominasi produk cokelat massal, kemunculan Cokelat Mojopahit dari Mojokerto menghadirkan model bisnis berbasis hilirisasi kakao yang berdampak langsung pada ekonomi petani dan penguatan produk lokal. Inisiatif ini dinilai sejalan dengan dorongan pemerintah dalam meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.
Berbeda dari industri makanan ringan pada umumnya, Cokelat Mojopahit justru berangkat dari sektor pariwisata desa sejak 2004. Dari sana, potensi kakao mulai dilirik sebagai komoditas strategis yang selama ini hanya dijual mentah dengan nilai rendah.
CTO Cokelat Mojopahit, Alif Wahyu Dewa, mengatakan langkah awal yang dilakukan adalah membangun ekosistem dari hulu dengan melibatkan petani lokal.
“Awalnya kami melihat kakao ini punya potensi besar. Kalau hanya dijual mentah, nilainya rendah. Karena itu kami dorong petani untuk mulai menanam dan mengelola kakao,” ujarnya.
Langkah tersebut berdampak langsung pada perubahan pola ekonomi masyarakat. Petani yang sebelumnya tidak menanam kakao mulai beralih, bahkan membentuk desa berbasis komoditas kakao.
Transformasi ini menjadi contoh konkret hilirisasi yang selama ini menjadi fokus kebijakan pemerintah, yakni mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi di dalam negeri.
Titik penting terjadi pada 2018, saat fasilitas produksi mulai dibangun. Sejak itu, proses pengolahan dilakukan secara terintegrasi, mulai dari fermentasi biji kakao selama lima hari, pengeringan, sortasi, hingga menjadi pasta kakao dan produk jadi.
“Proses ini menentukan kualitas. Cokelat asli itu pahit, rasa manis datang dari proses dan komposisi bahan,” jelas Alif.
Dari sisi produk, Cokelat Mojopahit memilih segmen premium dengan memproduksi cokelat jenis couverture. Produk ini berbeda dari cokelat umum di pasaran yang banyak menggunakan lemak dan gula tambahan.
Langkah ini sekaligus menjadi edukasi bagi masyarakat terkait kualitas cokelat yang dikonsumsi. Selama ini, pasar lebih didominasi cokelat imitasi atau kompon.
“Kalau couverture, bahan utamanya benar-benar kakao. Ini yang ingin kami kenalkan ke masyarakat,” tegasnya.
Dampaknya tidak hanya pada kualitas konsumsi, tetapi juga membuka peluang pasar baru bagi produk lokal dengan standar internasional.
Selain produksi, konsep bisnis juga diperluas ke sektor wisata edukasi. Pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan cokelat hingga mencoba membuat produk sendiri.
Model ini memberikan nilai tambah, tidak hanya dari sisi penjualan, tetapi juga edukasi publik tentang rantai produksi kakao.
“Dari awal konsepnya memang bukan sekadar pabrik. Kami ingin masyarakat memahami prosesnya dan lebih menghargai produk lokal,” katanya.
Di tengah potensi Indonesia sebagai salah satu produsen kakao dunia, tantangan terbesar masih terletak pada hilirisasi. Sebagian besar biji kakao berkualitas masih diekspor tanpa diolah di dalam negeri.
Kondisi ini membuat nilai ekonomi lebih banyak dinikmati oleh pasar luar negeri dibandingkan petani lokal.
“Sayang kalau kita hanya jadi pemasok bahan mentah. Harusnya produk terbaik juga bisa dinikmati masyarakat sendiri,” ujarnya.
Untuk mendukung distribusi, Cokelat Mojopahit juga melayani pengiriman ke berbagai daerah. Mereka menggandeng jasa logistik untuk memastikan produk sampai dalam kondisi baik.
Pendekatan ini memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkuat daya saing produk lokal di tingkat nasional.
Dengan mengintegrasikan pertanian, industri, dan pariwisata, Cokelat Mojopahit menjadi contoh bagaimana hilirisasi dapat mendorong ekonomi daerah.
“Intinya kami mengikuti kebutuhan pasar, tapi kualitas tetap kami jaga. Itu kunci agar produk lokal bisa bersaing,” pungkas Alif.
Editor : Zainul Arifin


















Komentar