SEMARANG, RadarBangsa.co.id – Fenomena pasar tumpah menjelang Hari Raya Idulfitri mulai memadati kawasan Bangetayu, Semarang Timur. Lonjakan aktivitas jual beli membuat ruas jalan di sekitar pasar dipenuhi pedagang dadakan dan pembeli, sehingga memicu kemacetan panjang sejak pagi hari, , Kamis (19/3/2026).
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi pasar yang sesak dan berjubel. Pedagang menggelar dagangan hingga ke bahu jalan, mulai dari kebutuhan pokok, jajanan Lebaran, hingga anyaman kupat, yang menyebabkan arus lalu lintas tersendat dan kendaraan harus melaju perlahan.
Kondisi ini terjadi dalam beberapa hari terakhir seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran. Kehadiran pedagang musiman yang memanfaatkan momen tersebut turut memperparah kepadatan di kawasan pasar.
Widodo, warga setempat yang biasanya berjualan ikan pindang, kini beralih menjadi juru parkir dadakan untuk membantu mengurai kemacetan. Ia mengaku aktivitas pasar yang melonjak membuat situasi jalan sulit dikendalikan.
“Beberapa hari ini saya pegang parkiran karena jalan macet. Biasanya saya jualan ikan pindang, tapi sekarang lapak saya juga dipakai untuk jualan yang lain,” ujar Widodo.
Menurutnya, pasar tumpah memang membawa berkah ekonomi bagi masyarakat, namun juga menimbulkan persoalan baru terkait ketertiban dan kelancaran lalu lintas. “Pasar jadi semakin ramai, pembeli membludak. Tapi jalan jadi penuh, susah lewat,” katanya.
Sementara itu, Ayu, pedagang polo pendem, memilih meliburkan lapaknya untuk sementara waktu. Ia memberi kesempatan kepada pedagang lain yang ingin memanfaatkan lokasi strategis untuk berjualan kebutuhan Lebaran.
“Kondisi seperti ini sudah jadi tradisi tahunan. Banyak yang butuh tempat jualan jelang Lebaran,” ungkap Ayu.
Fenomena pasar tumpah ini menunjukkan tingginya perputaran ekonomi masyarakat menjelang Hari Raya. Namun, tanpa penataan yang baik, kondisi tersebut berpotensi mengganggu ketertiban umum dan mobilitas warga.
Warga pun berharap adanya langkah penertiban dari pihak terkait agar aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan kenyamanan pengguna jalan.
“Yang penting semua bisa cari rezeki, tapi tetap tertib biar tidak saling merugikan,” pungkas Widodo.
Penulis : Bandi
Editor : Zainul Arifin


















Komentar