DPD RI Lia Istifhama Dorong Generasi Muda Kritis dan Berani Bersuara

Senin, 9 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPD RI Lia Istifhama berdialog dalam forum Suara Perempuan untuk Indonesia Lebih Setara di Surabaya, Minggu (8/3/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Anggota DPD RI Lia Istifhama berdialog dalam forum Suara Perempuan untuk Indonesia Lebih Setara di Surabaya, Minggu (8/3/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Dr. Lia Istifhama, MEI menegaskan pentingnya keseimbangan antara kelembutan dan ketegasan dalam kepemimpinan perempuan. Menurutnya, perempuan memiliki potensi besar memimpin, namun sering dihadapkan pada stereotip sosial yang menilai mereka terlalu lembut atau sebaliknya dianggap terlalu keras ketika bersikap tegas.

Pernyataan tersebut disampaikan Lia Istifhama dalam forum dialog bertajuk “Suara Perempuan untuk Indonesia Lebih Setara” yang digelar di Surabaya, Minggu (8/3/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional. Dalam kegiatan itu, ia berdiskusi langsung dengan peserta mengenai kepemimpinan perempuan, peran generasi muda, hingga isu kebijakan publik.

Dalam sesi tanya jawab, perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu menjelaskan bahwa perempuan sering menghadapi dilema dalam memimpin. Ketika bersikap lembut, mereka kerap dianggap kurang tegas. Sebaliknya, saat menunjukkan ketegasan, justru dinilai terlalu keras.

“Kadang perempuan dianggap terlalu lembut karena tidak ingin menyakiti orang lain. Tetapi ketika menunjukkan sisi kuat, kita justru bisa terlihat lebih tegas dari laki-laki. Menemukan keseimbangan di tengah itu memang tidak mudah,” ujarnya.

Menurut Lia, pengalaman tersebut juga pernah ia rasakan selama menjalani berbagai peran kepemimpinan. Ia menilai perempuan perlu menunjukkan ketegasan tanpa membuat orang lain merasa tertekan atau takut.

Ia menegaskan bahwa esensi kepemimpinan tidak terletak pada jabatan atau posisi formal semata. Kepemimpinan, kata dia, lebih ditentukan oleh tindakan nyata yang mampu menggerakkan orang lain.

“Leadership itu bukan soal posisi, tetapi aksi. Bagaimana tindakan kita membuat orang mengikuti arahan kita bukan karena takut, tetapi karena mereka memahami bahwa itu benar,” tegasnya.

Lia menambahkan bahwa ketegasan pemimpin harus disertai kemampuan menjelaskan persoalan secara logis dan rasional. Dengan demikian, masyarakat dapat memahami alasan di balik setiap sikap atau kebijakan yang diambil.

Sebagai contoh, ia menyinggung polemik kebijakan impor beras yang sempat ramai diperbincangkan publik. Menurutnya, perdebatan terhadap kebijakan pemerintah seharusnya dilakukan secara analitis dan berbasis data.

“Kalau kita berpikir kritis, jangan langsung menolak atau mendukung. Kita harus melihat dulu analisisnya, bagaimana keseimbangan pasar, bagaimana dampaknya bagi petani lokal, dan bagaimana distribusi antarwilayah,” jelasnya.

Selain isu kebijakan, Lia juga menanggapi pertanyaan peserta terkait implementasi anggaran berbasis gender di lembaga legislatif yang kerap dinilai hanya bersifat seremonial. Ia menilai kegiatan seremonial tetap memiliki tempat di masyarakat, namun perlu diimbangi dengan diskusi yang lebih substansial.

Menurutnya, forum diskusi kecil sering kali justru melahirkan gagasan yang lebih mendalam dibanding kegiatan berskala besar yang bersifat formal. Ia mencontohkan sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia yang lahir dari diskusi intens para pemuda dalam kelompok-kelompok kecil.

Dalam kesempatan tersebut, Lia juga memberikan apresiasi terhadap generasi muda yang semakin kritis terhadap berbagai persoalan bangsa. Ia menilai sikap peduli dan keberanian bertanya merupakan modal penting bagi kemajuan negara.

“Bangsa ini akan kuat jika anak mudanya peduli. Ketika generasi muda kritis dan berani bertanya, itu adalah potensi besar bagi masa depan bangsa,” ujarnya.

Di akhir dialog, Lia mendorong generasi muda agar tidak ragu menyampaikan gagasan dan pandangan mereka. Ia menekankan pentingnya membangun kepercayaan diri bahwa setiap individu memiliki peran dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kita harus membangun persepsi bahwa diri kita dibutuhkan masyarakat. Jangan menunggu dukungan orang lain baru berani bersuara. Mulailah dari keyakinan bahwa kita memiliki peran,” pungkas Lia Istifhama.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Menaker Yassierli: Indonesia Siap Jadi Mitra Dialog Pekerja ASEAN di Tengah Gejolak Global
Kapolri Tekankan Integritas Personel serta Pelayanan Humanis untuk Perkuat Kepercayaan Publik
Kemnaker Verifikasi Mitra MagangHub hingga 30 Oktober, Ini Jadwal Seleksi Peserta
Kemnaker Buka InaSkills 2026, Bidik Talenta untuk Kompetisi Dunia
Kemnaker Umumkan Pemenang Anugerah Informasi Publik 2026
Kemnaker Perpanjang Pendaftaran Mitra MagangHub hingga 29 Oktober
Menaker Paparkan Regulasi Baru untuk Perkuat Pelindungan Pekerja
Senator Cantik Anggota DPD RI Lia Istifhama Ajak Ibu LDII Lindungi Anak di Ruang Digital

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:18

Menaker Yassierli: Indonesia Siap Jadi Mitra Dialog Pekerja ASEAN di Tengah Gejolak Global

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:02

Kapolri Tekankan Integritas Personel serta Pelayanan Humanis untuk Perkuat Kepercayaan Publik

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:39

Kemnaker Verifikasi Mitra MagangHub hingga 30 Oktober, Ini Jadwal Seleksi Peserta

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:23

Kemnaker Buka InaSkills 2026, Bidik Talenta untuk Kompetisi Dunia

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:08

Kemnaker Umumkan Pemenang Anugerah Informasi Publik 2026

Berita Terbaru