BANYUWANGI, RadarBangsa.co.id – Festival Durian Songgon di Kecamatan Songgon, Banyuwangi, diserbu pengunjung saat digelar pada 4–5 April 2026. Event ini menjadi sorotan karena berlangsung di tengah penurunan produksi durian akibat faktor cuaca.
Sebagai salah satu sentra durian di Jawa Timur, kawasan ini tetap menunjukkan daya tarik kuat lewat festival yang menghadirkan berbagai jenis durian unggulan, mulai dari durian merah, pelangi hingga lokal kuning.
Kecamatan Songgon memiliki luas lahan durian mencapai 94,8 hektare dengan produksi mencapai 3.716 ton pada 2025. Namun pada tahun ini, produksi mengalami penurunan hingga sekitar 70 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Festival Durian Songgon digagas oleh pemerintah desa bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan pemuda karang taruna. Beragam kegiatan digelar, seperti kontes durian, bazaar, sarasehan pengembangan durian, hingga agenda makan durian sepuasnya.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengapresiasi inisiatif desa dalam mengangkat potensi lokal melalui cara kreatif. Ia menilai festival ini menjadi strategi efektif untuk mendorong promosi dan ekonomi desa.
“Ini patut kita apresiasi bagaimana desa berinisiatif mengangkat potensinya lewat cara kreatif seperti festival durian ini,” ujar Ipuk, Senin (6/4/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Ipuk juga mencicipi durian merah dan oranye hasil kebun warga. Durian merah Banyuwangi sendiri telah memiliki sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari pemerintah pusat, menjadikannya satu-satunya durian merah di Indonesia yang mendapat perlindungan resmi.
Kepala Desa Songgon, M. Qodari, menjelaskan festival digelar bertepatan dengan panen raya durian. Meski produksi menurun, kualitas durian lokal tetap terjaga dan masih tersedia hingga akhir April.
“Saat ini kami sedang panen raya. Produksi tahun ini menurun sekitar 70 persen karena faktor cuaca, namun durian asli Songgon masih bisa dinikmati sampai akhir April,” katanya.
Salah satu agenda yang menarik perhatian adalah kontes durian yang diikuti 42 peserta dengan dua kategori, yakni durian lokal premium dan durian warna. Kontes ini menjadi ajang unjuk kualitas durian terbaik dari para petani.
Artoni, salah satu pemenang kontes, menamai duriannya “Srengege Wetan” karena warna khas oranye kemerahan dengan sentuhan kuning. Ia menyebut rasa duriannya manis, pulen, dan sedikit gurih pahit.
“Rasanya manis pulen, sedikit ada gurih pahitnya, dengan daging yang cukup tebal,” ujarnya.
Selain itu, agenda makan durian sepuasnya juga menjadi magnet utama. Ratusan durian lokal disiapkan dan diserbu pengunjung yang hanya perlu membayar Rp100 ribu untuk menikmati sepuasnya.
Festival ini berdampak langsung pada peningkatan kunjungan wisata dan perputaran ekonomi lokal. Meski produksi menurun, strategi promosi seperti festival dinilai mampu menjaga eksistensi Banyuwangi sebagai daerah penghasil durian unggulan.
“Kegiatan seperti ini sangat membantu promosi sekaligus meningkatkan ekonomi warga,” pungkas Ipuk.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar