Dusun Balian Banyuwangi Viral, Seni Budaya dan Cabe Jawa Tembus Jepang

Minggu, 10 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

 Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, saat mengunjungi Dusun Balian di Desa Patoman, Banyuwangi, yang dikenal sebagai kampung toleransi dan sentra ekonomi kreatif. Minggu, 10 Mei 2026 (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, saat mengunjungi Dusun Balian di Desa Patoman, Banyuwangi, yang dikenal sebagai kampung toleransi dan sentra ekonomi kreatif. Minggu, 10 Mei 2026 (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

BANYUWANGI, RadarBangsa.co.id – Dusun Patoman Tengah di Kecamatan Blimbingsari memiliki wajah berbeda dibanding kampung lain di Banyuwangi. Mayoritas penduduknya merupakan umat Hindu, dengan rumah-rumah khas Bali dan pura yang berdiri di tengah permukiman warga.

Namun bukan sekadar identitas budaya yang membuat dusun ini dikenal. Kehidupan sosial masyarakat yang harmonis di tengah perbedaan agama justru menjadi kekuatan utama kampung tersebut.

Warga menyebutnya sebagai Kampung Pancasila karena budaya gotong royong masih terjaga tanpa sekat keyakinan.

“Selama ini tidak pernah ada masalah. Kalau umat Hindu ada kegiatan, umat lain ikut membantu. Begitu juga sebaliknya, jadi saling mengisi,” ujar Kepala Dusun Patoman Tengah, I Gede Yuda Permana.

Nilai toleransi itu tidak berhenti pada kehidupan sosial. Dusun Balian juga aktif menjaga seni dan budaya melalui berbagai aktivitas kreatif masyarakat.

Di kawasan tersebut terdapat Pura Desa yang tak hanya digunakan untuk ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran seni tradisional. Anak-anak hingga remaja rutin belajar tari, gamelan, hingga pendidikan agama.

Kondisi itu dinilai penting di tengah derasnya budaya digital yang mulai menggeser minat generasi muda terhadap kesenian daerah.

Selain seni budaya, denyut ekonomi warga juga tumbuh dari sektor UMKM kreatif. Salah satu yang cukup dikenal adalah usaha seni ukir kayu dan pasir milik Kayan Suartana.

Kayan mulai merintis usahanya sejak tahun 2000 sambil tetap aktif sebagai seniman tari dan musik tradisional Banyuwangi. Ketekunannya melestarikan budaya melalui karya seni membuatnya menerima penghargaan tali kasih dari mantan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, pada 2015.

Kini produknya dipasarkan hingga Bali, Nganjuk, dan Jawa Tengah.

“Awalnya kecil-kecilan, sekarang banyak pesanan ornamen rumah dan patung artistik. Yang dicari biasanya motif khas Bali dan Banyuwangi,” kata Kayan.

Tak hanya sektor seni, warga juga mulai mengembangkan komoditas Cabe Jawa atau Cabe Puyang yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Salah satu petani, Made Ardana, mengembangkan sekitar seribu pohon Cabe Jawa di lahan 3.000 meter persegi. Tanaman tersebut disebut lebih mudah dirawat dibanding cabai biasa.

“Perawatannya lebih simpel dibanding cabai biasa. Setelah dipanen tinggal direbus lalu dijemur sekitar tiga hari,” ujarnya.

Permintaan Cabe Jawa disebut terus meningkat karena digunakan untuk kebutuhan industri kosmetik dan herbal. Hasil panen warga bahkan telah dipasarkan hingga Jepang dan China.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menilai Dusun Balian menjadi contoh bagaimana toleransi, budaya, dan ekonomi kreatif bisa berjalan beriringan dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Di tengah perubahan zaman, Dusun Balian menunjukkan bahwa menjaga tradisi bukan berarti tertinggal. “Justru dari budaya lokal itu, warga menemukan identitas sekaligus sumber penghidupan baru,”pungkasnya.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi
Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter
Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit
Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan
Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember
Hari Jadi Pasuruan ke-1097, RSUD Bangil Gelar Baksos Medis Gratis untuk Puluhan Warga
Tiga Kali Raih Diamond Status, RSUD HMR Mataram Selamatkan 234 Pasien Stroke
95 Lukisan SBY Dipamerkan di Surabaya, Khofifah Soroti Karya tentang Tsunami Aceh

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 20:40

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi

Rabu, 16 September 2026 - 20:16

Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter

Rabu, 16 September 2026 - 20:05

Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit

Rabu, 16 September 2026 - 19:58

Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan

Rabu, 16 September 2026 - 18:45

Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember

Berita Terbaru