Gubernur Khofifah Ajak Generasi Muda Teladani Semangat Juang Pelajar TRIP Hadapi Tantangan Era Digital

Sabtu, 1 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Destry Damayanti mengikuti ziarah dan tabur bunga pada Peringatan Hari Peristiwa Pertempuran 31 Juli 1947 di Monumen Pahlawan TRIP, Kota Malang, Jumat (31/7). Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Destry Damayanti mengikuti ziarah dan tabur bunga pada Peringatan Hari Peristiwa Pertempuran 31 Juli 1947 di Monumen Pahlawan TRIP, Kota Malang, Jumat (31/7). Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id

MALANG, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak generasi muda menjadikan semangat perjuangan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) sebagai inspirasi dalam menghadapi tantangan zaman, mulai dari disrupsi teknologi, persaingan global, hingga ancaman terhadap persatuan bangsa. Ajakan itu disampaikan saat menghadiri Upacara Ziarah dan Tabur Bunga Peringatan Hari Peristiwa Pertempuran 31 Juli 1947 di Monumen Pahlawan TRIP, Jalan Pahlawan TRIP, Kota Malang, Jumat (31/7).

Upacara yang berlangsung khidmat tersebut digelar untuk memperingati 79 tahun perjuangan para Pelajar Pejuang TRIP dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pada 31 Juli 1947. Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Ketua Umum Pengurus Pusat Paguyuban Mas TRIP Jawa Timur yang juga Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti.

Khofifah menegaskan perjuangan para Pelajar TRIP merupakan warisan sejarah yang memiliki nilai luhur dan tetap relevan bagi kehidupan bangsa hingga saat ini. Menurutnya, semangat yang ditunjukkan para pelajar pada masa awal kemerdekaan menjadi teladan bagi generasi penerus dalam mengisi pembangunan nasional.

Ia mengingatkan bahwa hanya dua tahun setelah Indonesia merdeka, para pelajar yang sebagian besar masih duduk di bangku SMP dan SMA rela meninggalkan sekolah demi mempertahankan kemerdekaan dari agresi Belanda.

“Fragmennya sederhana dan pendek. Tapi pesannya, kebayang nggak sih anak-anak SMP-SMA berjuang saat itu mempertahankan kemerdekaan dimana kita baru dua tahun merdeka, Belanda datang lagi,” kata Khofifah.

Menurut Khofifah, keterbatasan persenjataan saat itu tidak mengurangi keberanian para pelajar untuk mempertahankan bangsa. Mereka tetap berjuang menggunakan kemampuan dan perlengkapan yang tersedia.

“Dan mereka berjuang dengan menggunakan senjata apa adanya yang mereka memungkinkan akses,” tambahnya.

Gubernur yang juga Ketua Dewan Pembina Kehormatan Paguyuban Mas TRIP Jawa Timur itu menilai keberanian para pelajar membuktikan bahwa pengabdian kepada bangsa tidak dibatasi usia. Nilai patriotisme, keberanian, keikhlasan berkorban, dan cinta tanah air harus terus diwariskan kepada generasi muda.

“Ikhtiar ini sangat penting agar sejarah tidak berhenti sebagai cerita tentang masa lalu. Sejarah harus tetap hidup sebagai sumber keteladanan, inspirasi, dan kekuatan moral dalam membangun masa depan bangsa,” tegasnya.

Khofifah menjelaskan bentuk perjuangan setiap generasi memang berbeda. Apabila generasi 1945 mempertahankan kemerdekaan melalui perjuangan fisik, maka generasi saat ini menghadapi tantangan berupa perkembangan teknologi digital, penyebaran hoaks, intoleransi, radikalisme, kejahatan siber, penyalahgunaan narkotika, hingga krisis lingkungan.

Menurutnya, generasi muda harus menjawab tantangan tersebut dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat persatuan, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Sekarang senjata kita adalah IT, persatuan dan kesatuan serta kualitas SDM. Senjata kita adalah ilmu pengetahuan, kesatuan, kebersamaan, kegotongroyongan,” ujarnya.

Khofifah menambahkan makna kepahlawanan pada era modern tidak lagi identik dengan mengangkat senjata. Setiap warga negara dapat menjadi pahlawan melalui karya, prestasi, integritas, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Kepahlawanan masa kini juga berarti keberanian menjaga kebenaran di tengah derasnya arus informasi, merawat persaudaraan di tengah perbedaan, dan terus menghadirkan solusi di tengah berbagai keterbatasan,” ungkapnya.

Ia juga berpesan kepada para pelajar, mahasiswa, anggota Resimen Mahasiswa (Menwa), dan seluruh generasi muda Jawa Timur agar terus meningkatkan kompetensi, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki daya saing global tanpa meninggalkan nilai-nilai kebangsaan.

“Jangan pernah merasa terlalu muda untuk mengambil peran. Para Pelajar Pejuang TRIP telah memberikan teladan bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk mencintai, membela, dan memberikan karya terbaik bagi Indonesia,” pesannya.

Khofifah turut menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Paguyuban Mas TRIP Jawa Timur yang dinilai konsisten menjaga warisan sejarah perjuangan bangsa sekaligus menanamkan nilai patriotisme kepada generasi penerus.

Menurutnya, Paguyuban Mas TRIP memiliki peran strategis sebagai ruang pembelajaran sejarah dan jembatan yang menghubungkan nilai perjuangan para pendahulu dengan generasi masa kini.

“Kita semua memiliki tugas yang sama menjaga kemerdekaan Republik Indonesia, sesuai profesi, peran, dan bidang pengabdian kita masing-masing,” katanya.

Ketua Umum Pengurus Pusat Paguyuban Mas TRIP Jawa Timur, Destry Damayanti, menegaskan peringatan Hari Bersejarah 31 Juli bukan sekadar seremoni, tetapi momentum membangun kesadaran sejarah dan memperkuat rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda.

“Kita tentu ingin memberikan contoh yang baik buat anak-anak sekaligus juga menyadarkan mereka betapa besarnya dan betapa berpotensinya negara kita sehingga harus terus kita jaga,” ucap Destry.

Ia menambahkan semangat perjuangan Mas TRIP merupakan warisan yang harus terus dijaga dari generasi ke generasi sebagai penguat karakter kebangsaan.

“Hal semacam ini bukan hanya kegiatan yang sifatnya seremonial, tapi juga untuk menimbulkan kesadaran kepada kita dan anak-anak muda bahwa orang tua kita itu pernah menjadi bagian dari merah putih ini,” pungkasnya.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Kemnaker Seleksi Peserta MagangHub Batch 2 Angkatan II, Mulai Magang 21 September
Kemnaker-Baznas Perluas Akses Kerja Inklusif, Disabilitas hingga Magang ke Jepang
Pemerintah Tetapkan 26 Hari Libur 2027, Ini Aturan Kerja dan Cuti Bersamanya
Menaker Ungkap Cara Adopsi AI Bisa Dongkrak Produktivitas hingga 40 Persen
Khofifah Percepat BSPS di Jatim, 12.371 Rumah Sudah Masuk Tahap Konstruksi
Panen Padi MT II Capai 11,3 Ton per Hektare, Petani Truni Lamongan Siap Percepat MT III
Harga Tembakau Lamongan Tembus Rp52 Ribu per Kilogram, Petani Dapat Kabar Baik
Workshop Nasional MATRIX RSUD H. Moh Ruslan Mataram Uji Kesiapsiagaan Bencana Lewat Simulasi Lapangan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 09:43

Kemnaker Seleksi Peserta MagangHub Batch 2 Angkatan II, Mulai Magang 21 September

Rabu, 16 September 2026 - 09:38

Kemnaker-Baznas Perluas Akses Kerja Inklusif, Disabilitas hingga Magang ke Jepang

Rabu, 16 September 2026 - 09:32

Pemerintah Tetapkan 26 Hari Libur 2027, Ini Aturan Kerja dan Cuti Bersamanya

Rabu, 16 September 2026 - 09:27

Menaker Ungkap Cara Adopsi AI Bisa Dongkrak Produktivitas hingga 40 Persen

Rabu, 16 September 2026 - 09:03

Khofifah Percepat BSPS di Jatim, 12.371 Rumah Sudah Masuk Tahap Konstruksi

Berita Terbaru