SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh insan keinsinyuran memperkuat kolaborasi, inovasi, dan profesionalisme untuk mempercepat pembangunan di berbagai sektor strategis. Menurutnya, peran insinyur menjadi faktor penentu dalam meningkatkan daya saing daerah sekaligus mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Ajakan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri pelantikan Pengurus Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia (PW PII) Jawa Timur Masa Bakti 2026–2029 yang dipimpin Ketua Umum PII Ilham Habibie di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu (25/7).
Dalam sambutannya, Khofifah menegaskan pembangunan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang unggul, terutama para insinyur yang mampu menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
“Sejalan dengan visi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara, pembangunan daerah diarahkan untuk memperkuat konektivitas, mempercepat hilirisasi industri, mendorong transformasi ekonomi, serta memperkuat inovasi di berbagai sektor,” ujar Khofifah.
Ia mengatakan, agenda pembangunan tersebut tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan insan keinsinyuran yang memiliki kompetensi, integritas, serta kemampuan menjawab berbagai tantangan pembangunan yang terus berkembang.
“Seluruh agenda tersebut memerlukan dukungan sumber daya manusia yang unggul, termasuk para insinyur yang memiliki kompetensi, integritas, dan kemampuan menghadirkan solusi atas berbagai tantangan pembangunan,” katanya.
Khofifah menilai posisi Jawa Timur sebagai kontributor ekonomi terbesar kedua nasional sekaligus lumbung pangan Indonesia membuat kebutuhan terhadap inovasi teknologi semakin mendesak. Berbagai sektor strategis memerlukan rekayasa teknik yang mampu meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan pembangunan.
Salah satu perhatian utama yang disampaikan Gubernur adalah sektor ketahanan pangan. Menurutnya, keberhasilan Jawa Timur mempertahankan posisi sebagai produsen padi terbesar nasional selama tujuh tahun berturut-turut harus dijaga melalui penguatan infrastruktur pertanian.
“Saya ingin menggarisbawahi bidang ketahanan pangan. Kekuatan Jawa Timur sesungguhnya luar biasa. Selama tujuh tahun berturut-turut sejak kami mendapat mandat memimpin Pemerintah Provinsi Jawa Timur, produksi padi Jawa Timur selalu menjadi yang tertinggi di antara seluruh provinsi di Indonesia. Bahkan hingga Semester I tahun ini, produksi padi Jawa Timur kembali menjadi yang tertinggi dengan kenaikan sekitar 5,49 persen,” ungkapnya.
Ia menilai tantangan berikutnya adalah memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian, khususnya saat musim kemarau. Karena itu, optimalisasi jaringan irigasi tersier dinilai menjadi pekerjaan bersama yang membutuhkan kontribusi nyata para insinyur.
“Persoalan yang masih kita hadapi adalah bagaimana memaksimalkan irigasi tersier. Di sinilah peran para insinyur sangat dibutuhkan untuk menghadirkan solusi sehingga pada musim kemarau pasokan air tetap dapat terpenuhi. Ini menurut saya menjadi pekerjaan penting yang harus kita kerjakan bersama,” tegasnya.
Khofifah juga meminta agar PII Jawa Timur menjadikan ketahanan pangan sebagai salah satu fokus utama program organisasi. Potensi besar Jawa Timur sebagai penghasil padi, jagung, dan susu nasional dinilai harus diperkuat melalui inovasi teknologi dan pendampingan yang berkelanjutan.
“Saya juga sudah menyampaikan kepada Ketua PII Jawa Timur agar bidang ketahanan pangan menjadi salah satu penguatan program organisasi. Jawa Timur memiliki potensi yang sangat besar untuk memperkuat sektor pangan,” ujarnya.
Menurut Khofifah, hampir seluruh pembangunan yang dinikmati masyarakat saat ini tidak terlepas dari peran para insinyur. Infrastruktur jalan, jembatan, bendungan, kawasan industri, hingga transformasi digital merupakan hasil rekayasa dan inovasi yang lahir dari profesi tersebut.
“Karena itu, profesi insinyur bukan sekadar menghasilkan karya rekayasa. Lebih dari itu, insinyur adalah agen transformasi yang menghadirkan solusi, memperkuat daya saing, dan mendorong terwujudnya masyarakat yang semakin maju, mandiri, serta sejahtera,” jelasnya.
Menghadapi perkembangan zaman, Khofifah mengingatkan tantangan pembangunan akan semakin kompleks. Transformasi digital, Artificial Intelligence (AI), transisi energi, hilirisasi industri, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya air, hingga pembangunan infrastruktur yang adaptif terhadap perubahan iklim memerlukan sumber daya manusia yang adaptif dan inovatif.
Karena itu, ia menilai peningkatan kompetensi insinyur harus berjalan seiring dengan penguatan budaya riset, penguasaan teknologi, serta kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan organisasi profesi.
Khofifah juga memberikan apresiasi kepada Persatuan Insinyur Indonesia yang terus memperkuat kualitas profesi melalui Program Profesi Insinyur (PPI), Sertifikasi Insinyur Profesional (SIP), hingga sertifikasi ASEAN Engineer. Langkah tersebut dinilai sebagai investasi penting untuk mencetak insinyur Indonesia yang mampu bersaing di tingkat global.
Ia turut menyambut tema pelantikan “Kolaborasi PII untuk Indonesia Maju 2045” yang dinilai sejalan dengan arah pembangunan nasional. Menurutnya, target Indonesia menjadi negara maju hanya dapat dicapai melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan.
Semangat kolaborasi tersebut, kata Khofifah, telah diwujudkan di Jawa Timur melalui berbagai forum kemitraan, termasuk Forum Jasa Konstruksi yang mempertemukan pemerintah, asosiasi profesi, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan kualitas pembangunan.
“Keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki, tetapi juga oleh kualitas kolaborasi, inovasi, dan integritas seluruh elemen bangsa,” tegasnya.
Ia berharap kepengurusan baru PW PII Jawa Timur mampu memperkuat posisinya sebagai mitra strategis pemerintah dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan pembangunan. Organisasi profesi tersebut juga diharapkan menjadi wadah pengembangan kompetensi, riset terapan, inovasi, serta kolaborasi lintas sektor yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Saya mengajak seluruh insan keinsinyuran untuk terus berkarya dengan integritas, profesionalisme, dan semangat pengabdian. Jadikan setiap inovasi dan karya rekayasa sebagai ikhtiar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat daya saing bangsa, mempercepat transformasi ekonomi, serta mengantarkan Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2045,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar