Gubernur Khofifah Ajak Semua Pihak Jaga Sungai pada Hari Sungai Nasional 2026

Senin, 27 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga kelestarian sungai pada peringatan Hari Sungai Nasional 2026, Senin (27/7). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga kelestarian sungai pada peringatan Hari Sungai Nasional 2026, Senin (27/7). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat gerakan kolaboratif dalam menjaga dan memulihkan sungai sebagai investasi bagi masa depan. Ajakan itu disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Sungai Nasional 2026 yang diperingati pada Senin (27/7) mengusung tema “Merawat Sungai, Memulihkan Kehidupan.”

Menurut Khofifah, pelestarian sungai tidak lagi dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Upaya menjaga keberlanjutan sungai membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, akademisi, dunia usaha, komunitas, hingga generasi muda agar sumber daya air tetap terjaga bagi generasi sekarang maupun mendatang.

“Sungai adalah penyangga kehidupan. Menjaga sungai berarti menjaga kehidupan. Karena itu, upaya pemulihan dan pelestarian sungai harus menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri,” ujarnya.

Khofifah menegaskan sungai memiliki fungsi yang sangat strategis bagi Jawa Timur. Selain menjadi sumber air baku, sungai juga menopang sistem irigasi pertanian, mendukung aktivitas industri, menjaga keseimbangan ekosistem, sekaligus berperan dalam pengendalian banjir di berbagai wilayah.

Ia menyebut sejumlah sungai utama di Jawa Timur yang memiliki kontribusi besar terhadap kehidupan masyarakat, yakni Sungai Brantas beserta cabangnya Kali Mas dan Kali Porong, Sungai Bengawan Solo berikut anak sungainya Kali Madiun, Sungai Sampean di Situbondo dan Bondowoso, Sungai Bondoyudo dan Bedadung di Lumajang serta Jember, hingga Sungai Rejoso dan Welang di Kabupaten Pasuruan.

Di balik peran penting tersebut, Khofifah mengingatkan sungai menghadapi berbagai tantangan serius. Pencemaran, penumpukan sampah, kerusakan lingkungan, hingga tekanan akibat aktivitas manusia menjadi ancaman yang harus ditangani secara bersama.

“Selama peradaban manusia berlangsung, sungai senantiasa menjadi sumber kehidupan yang menopang ketahanan pangan dan mendukung perekonomian. Tapi seiring berjalannya waktu, kita memiliki tantangan berat seperti kerusakan lingkungan dan penumpukan sampah yang akhirnya mencemari sungai,” ungkapnya.

Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat menjadikan Hari Sungai Nasional sebagai momentum membangun kesadaran kolektif bahwa keberlanjutan sungai akan menentukan kualitas hidup masyarakat dan keberlangsungan pembangunan di masa depan.

“Di peringatan Hari Sungai Nasional ini perlu menjadi momentum bersama untuk berkomitmen dalam menjaga dan memulihkan sungai. Karena kita membutuhkan sungai, tapi sering kali aktivitas manusialah yang justru merusak sumber kehidupan kita ini,” katanya.

Sebagai bentuk komitmen, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus menjalankan berbagai program pelestarian sungai secara berkelanjutan. Program tersebut meliputi kegiatan susur sungai, patroli sungai, hingga perlindungan mata air yang menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas sumber daya air.

Khofifah menjelaskan, kegiatan susur sungai dilakukan untuk mengidentifikasi secara langsung kondisi sungai beserta persoalan yang muncul di sepanjang aliran. Adapun patroli sungai menjadi instrumen pengawasan sekaligus memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan dalam menangani pencemaran maupun kerusakan lingkungan.

“Koordinasi menjadi kunci dalam menangani berbagai persoalan sungai, termasuk pencemaran yang berasal dari aktivitas industri. Karena itu, diperlukan keterlibatan berbagai pihak,” tegasnya.

Ia menambahkan, perlindungan terhadap mata air juga menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan pasokan air bersih dan kelestarian ekosistem.

“Perlindungan mata air tidak hanya berkaitan dengan menjaga kualitas air, tetapi juga memastikan keberlanjutan ekosistem dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber air tersebut,” imbuhnya.

Khofifah juga mengapresiasi semakin kuatnya partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian sungai. Hal itu tercermin melalui penyelenggaraan Konferensi Sungai Indonesia (KSI) 2026 di Wana Wisata Mata Air Sumber Gempong, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Forum tersebut mempertemukan sekitar 170 komunitas sungai dengan hampir 500 pegiat lingkungan dari Aceh hingga Papua. Kegiatan yang digelar mencakup seminar, diskusi panel, lokakarya pengelolaan sungai berbasis masyarakat, aksi bersih sungai, penanaman pohon di kawasan sempadan sungai, hingga penyusunan rekomendasi bersama.

Menurut Khofifah, keberadaan komunitas sungai menjadi kekuatan penting karena berada di garis depan dalam mengawal berbagai program pelestarian lingkungan.

“Puncak kegiatannya diisi dengan penanaman pohon, dialog interaktif untuk menumbuhkan dan meningkatkan awareness, serta pembacaan deklarasi komunitas sungai. Saya sangat mengapresiasi ini karena menjaga sungai merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan kolaborasi dan partisipasi seluruh elemen masyarakat,” ungkapnya.

Ia menilai komunitas sungai telah menunjukkan peran nyata dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sungai terus tumbuh dan perlu diperkuat melalui sinergi bersama pemerintah.

Mengakhiri pesannya, Khofifah berharap Hari Sungai Nasional tidak sekadar menjadi agenda tahunan, melainkan mampu membangun budaya gotong royong dalam menjaga sungai mulai dari lingkungan keluarga, sekolah hingga masyarakat luas.

“Selamat Hari Sungai Nasional. Mari kita tanamkan peduli sungai dalam keseharian kita. Sebagai pemerintah, kami akan membuat kebijakan dan peraturan yang sesuai. Di sekolah dan di rumah, guru-guru serta orang tua perlu menanamkan pentingnya kelestarian sungai pada anak. Dalam bermasyarakat, mari saling mengingatkan untuk tidak mencemari sumber kehidupan kita,” pungkasnya.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi
Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter
Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit
Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan
Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember
Hari Jadi Pasuruan ke-1097, RSUD Bangil Gelar Baksos Medis Gratis untuk Puluhan Warga
Tiga Kali Raih Diamond Status, RSUD HMR Mataram Selamatkan 234 Pasien Stroke
95 Lukisan SBY Dipamerkan di Surabaya, Khofifah Soroti Karya tentang Tsunami Aceh

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 20:40

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi

Rabu, 16 September 2026 - 20:16

Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter

Rabu, 16 September 2026 - 20:05

Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit

Rabu, 16 September 2026 - 19:58

Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan

Rabu, 16 September 2026 - 18:45

Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember

Berita Terbaru