MALANG, RadarBangsa.co.id — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan peran strategis Universitas Brawijaya (UB) sebagai salah satu kampus dengan kontribusi riset dan inovasi aplikatif terbesar di Indonesia. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Sidang Pleno Terbuka Majelis Wali Amanat UB dalam rangka Dies Natalis ke-63 di Gedung Samantha Krida, Kota Malang, Senin (5/1).
Mengusung tema Tumbuh Berdaya, Berdampak Nyata, agenda tersebut dihadiri Ketua MWA UB Prof. Muhadjir Effendy, Rektor UB Prof. Widodo, serta Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan posisi UB sebagai simpul penting kolaborasi antara dunia akademik dan pemerintah.
Khofifah menyampaikan bahwa perguruan tinggi memegang peran krusial dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul sekaligus melahirkan solusi konkret bagi tantangan pembangunan. Ia menyebut Jawa Timur saat ini memiliki 344 perguruan tinggi, terdiri dari 17 PTN dan 327 PTS, dengan jumlah mahasiswa mencapai sekitar 947.251 orang pada 2024.
“Dengan jumlah mahasiswa sebesar itu, potensi lahirnya inovasi dan riset berdampak sangat besar. Perguruan tinggi adalah pusat solusi berbasis ilmu pengetahuan yang dibutuhkan pemerintah dalam perumusan hingga implementasi kebijakan,” ujar Khofifah.
Menurutnya, UB selama ini konsisten menjadi mitra strategis pemerintah daerah. Capaian UB di tingkat nasional dan internasional dinilai memperkuat peran tersebut, antara lain peringkat ke-4 nasional versi Webometrics 2025, peringkat ke-9 nasional, serta posisi 208 Asia dalam QS World University Rankings 2024.
“UB adalah salah satu penyumbang riset dan inovasi aplikatif terbesar, khususnya di Jawa Timur. Iklim akademiknya kuat dan menjadi modal penting untuk mendorong pembangunan berkelanjutan,” kata Khofifah.
Ia optimistis sinergi antara pemerintah dan kampus seperti UB mampu menjawab tantangan global, mulai dari ketidakpastian ekonomi, perubahan iklim, hingga dinamika geopolitik yang berdampak langsung ke daerah.
Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli dalam orasi ilmiahnya menyoroti transformasi pasar kerja nasional di tengah disrupsi teknologi, termasuk IT dan kecerdasan buatan. Ia menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mengatasi kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri.
“Perguruan tinggi harus terus berbenah agar mampu menghasilkan lulusan yang siap kerja dan relevan dengan kebutuhan industri,” ujarnya.
Yassierli menambahkan, pemerintah menyiapkan program magang bagi 100 ribu lulusan perguruan tinggi selama enam bulan sebagai upaya meningkatkan kesiapan kerja. Ia meyakini UB memiliki kapasitas untuk menjawab tuntutan tersebut.
Penegasan komitmen antara pemerintah dan UB ini menjadi sinyal kuat bahwa riset, inovasi, dan penguatan SDM tetap menjadi fondasi utama pembangunan Jawa Timur ke depan.
.
Lainnya:
- Kapolres Lamongan Ganjar Anggota Berprestasi, Pesan Keras: Kerja Bukan Cari Pujian
- May Day 2026: Saat Buruh Masih Rentan, BPJS Ketenagakerjaan Cairkan Santunan Rp744 Juta di Lamongan
- May Day 2026 di Lamongan: BPJS Ketenagakerjaan Fokus pada Perlindungan Pekerja
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








