MALANG, RadarBangsa.co.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyapu tiga penghargaan dalam ajang UB Halal Metric Award 2026 di Malang, Selasa (5/5). Capaian ini menegaskan posisi Jatim sebagai salah satu motor penggerak industri halal nasional yang berdampak langsung pada ekonomi dan layanan publik.
Tiga penghargaan tersebut meliputi dua Gold Winner untuk kategori pengembangan infrastruktur halal dan pendidikan halal, serta satu Silver Winner untuk inovasi, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat. Penghargaan diserahkan Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan kepada Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak yang mewakili Gubernur Khofifah Indar Parawansa.
Capaian ini bukan sekadar simbol prestasi. Pemerintah menilai penguatan ekosistem halal kini menjadi kebutuhan publik, terutama dalam menjamin keamanan produk, meningkatkan daya saing UMKM, dan membuka akses pasar global.
Gubernur Khofifah menegaskan bahwa konsep halal telah bergeser dari sekadar kewajiban religius menjadi nilai tambah yang dicari konsumen. Hal ini berdampak pada meningkatnya permintaan produk halal yang aman, sehat, dan terstandar.
“Halal sekarang sudah menjadi customer value. Bukan hanya aspek religius, tapi ada nilai ekonomi dan kepercayaan publik di dalamnya,” tegas Khofifah.
Di Jawa Timur, penguatan ekosistem halal dilakukan secara sistematis. Data Pemprov mencatat, dari 124 Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) nasional, sebanyak 15 berada di Jatim. Selain itu, terdapat 85 LP3H dari total 393 nasional, serta lebih dari 16 ribu pendamping proses produk halal.
Angka ini menunjukkan kesiapan infrastruktur layanan halal di daerah. Dampaknya terasa langsung bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang kini lebih mudah mengakses sertifikasi halal, sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen.
Kebijakan ini juga menjadi bagian dari strategi ekonomi daerah. Dengan mayoritas penduduk muslim dan jaringan pesantren yang kuat, Jatim memiliki basis sosial yang mendorong percepatan industri halal dari hulu ke hilir.
“Pesantren di Jawa Timur bukan hanya pusat pendidikan, tapi juga menjadi mesin penggerak produk halal,” ujar Khofifah.
Di sisi lain, Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan menekankan bahwa halal kini telah menjadi isu global. Permintaan produk halal tidak hanya datang dari negara mayoritas muslim, tetapi juga dari pasar internasional yang mengedepankan standar kualitas dan keamanan.
“Halal is for everybody. Ini adalah ruang tumbuh ekonomi global, bukan hanya kebutuhan keagamaan,” katanya.
Ajang UB Halal Metric Award dinilai menjadi instrumen penting untuk mendorong percepatan pengembangan industri halal nasional. Selain mengukur capaian daerah, penghargaan ini juga memacu inovasi dan kolaborasi lintas sektor.
Bagi masyarakat, dampak dari kebijakan ini semakin nyata. Produk halal yang tersertifikasi memberikan jaminan keamanan konsumsi, memperluas pilihan produk, serta membuka peluang kerja baru di sektor industri halal.
Dengan capaian ini, Jawa Timur diproyeksikan terus memperkuat posisinya sebagai pusat ekonomi syariah nasional. Pemerintah berharap, langkah ini tidak hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi juga menghadirkan layanan publik yang lebih berkualitas dan terpercaya.
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkolaborasi. Ini harus menjadi momentum untuk mempercepat Indonesia sebagai pusat halal dunia,” pungkas Haikal.
Lainnya:
- Khofifah Bawa Jatim Borong 3 Penghargaan Halal 2026, Tegaskan Halal Mesin Ekonomi
- Hardiknas 2026: Khofifah Luncurkan 40 Sekolah Berintegritas, Ubah Cara Didik Siswa
- Danramil Turun Tangan di SPPG Sidoarjo, Ingatkan Soal Nyawa di Balik Makanan Warga
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








