Hardiknas 2026: Anak SD Jadi Komandan Paskibra, Murid SR Mojokerto Pidato 5 Bahasa di Depan Khofifah

- Redaksi

Senin, 4 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat memimpin Upacara Hardiknas 2026 di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Minggu (4/5/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat memimpin Upacara Hardiknas 2026 di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Minggu (4/5/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

SURABAYA, RadarBangsa.co.id — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya, tak sekadar menjadi seremoni tahunan. Momentum ini berubah menjadi panggung pembuktian arah baru pendidikan Jawa Timur yang kini semakin menonjolkan kualitas sumber daya manusia, keberanian inovasi, dan daya saing global.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa pendidikan kini bukan hanya soal capaian akademik, tetapi bagaimana negara membangun generasi yang kuat secara karakter, sehat secara mental, dan unggul secara kompetensi.

Ada dua momen yang paling menyita perhatian publik dalam Upacara Hardiknas tahun ini. Pertama, sejarah baru tercipta ketika Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) tingkat provinsi untuk pertama kalinya diisi murid lintas jenjang mulai SD, SMP hingga SMA. Bahkan yang lebih mengejutkan, komandan barisan dipercayakan kepada siswa sekolah dasar.

Keputusan tersebut menjadi penanda bahwa pemerintah daerah mulai berani mengubah pola pendidikan dari yang serba formal menjadi berbasis kepercayaan diri, kepemimpinan, dan penguatan mental sejak usia dini.

“Ini luar biasa. Baru pertama kali di Indonesia, Paskibra tingkat provinsi melibatkan siswa SD, SMP, dan SMA secara terintegrasi. Bahkan komandan barisannya dari siswa SD,” kata Khofifah.

Menurut Khofifah, langkah ini menjadi bagian dari transformasi pendidikan Jawa Timur yang ingin membentuk generasi unggul sejak fase awal pendidikan.

Ia menilai keberanian anak-anak tampil dalam panggung besar pemerintahan merupakan indikator kualitas pendidikan yang semakin matang.

Tak hanya soal kepemimpinan, Khofifah juga menyoroti aspek kesehatan generasi muda. Ia melihat secara langsung kondisi fisik siswa SD yang dinilainya menunjukkan peningkatan kualitas gizi yang signifikan.

Bahkan menurutnya, tinggi badan sebagian siswa SD yang terlibat dalam Paskibra sudah setara dengan pelajar SMP maupun SMA.

Hal ini menjadi indikator penting bahwa intervensi pemerintah dalam sektor pemenuhan gizi mulai menunjukkan hasil nyata.

“Ini investasi besar bagi masa depan generasi kita. Artinya kualitas tumbuh kembang anak-anak kita semakin baik,” tegasnya.

Dampaknya bagi masyarakat cukup besar. Kualitas gizi yang baik akan berpengaruh langsung terhadap daya tangkap belajar, kesehatan jangka panjang, hingga produktivitas ekonomi generasi mendatang.

Dalam konteks pembangunan daerah, kualitas anak hari ini adalah kualitas tenaga kerja dan pemimpin masa depan.

Momen kedua yang tak kalah menyedot perhatian terjadi saat lima murid Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 15 Mojokerto tampil menyampaikan pidato dalam lima bahasa sekaligus. Bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, Jerman, dan Arab menggema di halaman Grahadi.
Bagi Khofifah, kemampuan itu bukan sekadar prestasi individu, tetapi menjadi indikator bahwa akses pendidikan berkualitas kini mulai menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini sulit terakses.

“Anak-anak sekolah rakyat ini mampu menyampaikan pidato dalam lima bahasa. Ini bukti bahwa pendidikan Jawa Timur terus berkembang dan mampu bersaing secara global,” ujarnya.

Kehadiran Sekolah Rakyat sendiri menjadi salah satu kebijakan penting dalam memperluas layanan pendidikan bagi kelompok rentan.

Model pendidikan ini didesain untuk memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap mendapat hak belajar berkualitas.

Dari sisi pelayanan publik, kebijakan ini penting karena pendidikan adalah jalur utama memutus rantai kemiskinan. Ketika akses pendidikan diperluas, maka peluang mobilitas sosial masyarakat juga semakin terbuka.

Khofifah menegaskan bahwa pendidikan di Jawa Timur kini bergerak menuju model “pendidikan berdampak”.

Artinya, hasil pendidikan harus dirasakan langsung masyarakat. Bukan hanya melahirkan lulusan dengan nilai tinggi, tetapi juga individu yang siap menghadapi dunia kerja, dunia usaha, dan tantangan global.

Karena itu, Pemprov Jawa Timur terus memperkuat berbagai kebijakan strategis. Salah satunya adalah penataan penggunaan gadget di lingkungan sekolah. Kebijakan ini diambil bukan tanpa alasan.

Pemerintah melihat penggunaan gadget yang berlebihan mulai memicu menurunnya interaksi sosial, meningkatnya distraksi belajar, dan potensi gangguan psikologis pada siswa.

Melalui pembatasan penggunaan gadget saat jam pembelajaran, sekolah didorong kembali menjadi ruang interaksi sosial yang sehat.

“Langkah ini penting untuk memperkuat kolaborasi antarsiswa dan kualitas interaksi dalam proses belajar,” kata Khofifah.

Bagi orang tua, kebijakan ini memberi dampak langsung.Pengawasan penggunaan teknologi pada anak menjadi lebih terukur. Sementara bagi guru, proses belajar menjadi lebih fokus dan efektif.

Tak berhenti di situ, Pemprov Jatim juga memperkuat layanan Bimbingan dan Konseling (BK) sebagai bagian dari penguatan kesehatan mental siswa.

Kebijakan ini menjadi respons atas meningkatnya tekanan psikologis pada pelajar akibat persaingan akademik, tekanan sosial, dan perubahan lingkungan digital.

Khofifah menegaskan sekolah harus menjadi ruang aman secara psikologis.
“Pendidikan harus menjadi ruang yang mendengar, memahami, dan merawat potensi anak,” tegasnya.

Di sektor inovasi pendidikan, Jawa Timur juga terus memperluas program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP).

Hingga kini, sebanyak 146 SMA, SMK, dan SLB telah menjadi pusat pembelajaran produktif berbasis ketahanan pangan.

Program ini bukan sekadar praktik belajar.Namun diarahkan menjadi ruang produksi ekonomi berbasis sekolah. Siswa dilatih langsung memahami ekosistem pangan, peternakan, hingga produksi berbasis teknologi.

Khofifah mencontohkan siswa SMK di Kediri yang telah mampu mengembangkan sistem peternakan modern hingga menghasilkan telur omega.

Ini menjadi bentuk pendidikan vokasi yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri dan ekonomi masyarakat.

Dampaknya cukup strategis. Lulusan sekolah tidak lagi hanya mencari kerja, tetapi mampu menciptakan peluang usaha baru.

Di sektor pendidikan tinggi, Jawa Timur juga masih menjadi provinsi dengan jumlah siswa terbanyak yang diterima di perguruan tinggi negeri tanpa tes selama tujuh tahun berturut-turut.

Capaian itu menjadi indikator kuat bahwa kualitas pendidikan menengah di Jawa Timur terus meningkat.

Tak hanya akademik. Prestasi siswa Jawa Timur juga mendominasi Lomba Kompetensi Siswa (LKS), Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), hingga Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).

Khofifah menyebut capaian tersebut bukan hasil kerja satu pihak. Melainkan hasil kolaborasi seluruh ekosistem pendidikan. Guru, kepala sekolah, orang tua, hingga pemerintah daerah memiliki peran penting.

“Apresiasi kami berikan kepada para guru di Jawa Timur yang terus membimbing siswa hingga mampu menorehkan prestasi nasional maupun internasional,” ujarnya.

Dalam momentum Hardiknas ini, Khofifah juga menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi kebijakan paling strategis.

Sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, sektor pendidikan menjadi fondasi utama pembangunan SDM nasional. Di tingkat daerah, Jawa Timur mengusung konsep “Jatim Cerdas-Pendidikan Berdampak”.

Model ini diarahkan agar pendidikan bukan hanya meningkatkan angka partisipasi sekolah, tetapi juga menghasilkan dampak konkret bagi kehidupan masyarakat.

Mulai dari pengurangan angka putus sekolah, peningkatan keterampilan kerja, penguatan karakter, hingga kemandirian ekonomi.

Khofifah memastikan Pemprov Jatim aktif menjangkau anak-anak yang berisiko putus sekolah agar kembali ke ruang kelas.Kebijakan ini menjadi langkah konkret negara hadir menjaga hak dasar pendidikan warga.

Sebab ketika satu anak putus sekolah, dampaknya bisa menjalar ke persoalan sosial yang lebih besar seperti kemiskinan, pengangguran, hingga kriminalitas.

Karena itu, pemerataan kualitas pendidikan tetap menjadi prioritas.Pemprov Jatim juga menjalankan program revitalisasi dan rehabilitasi satuan pendidikan untuk memastikan fasilitas belajar merata di seluruh wilayah.

Mulai dari kota hingga pelosok desa.Bagi masyarakat, kebijakan ini penting karena kualitas sekolah tidak boleh lagi ditentukan oleh lokasi geografis.

Setiap anak berhak mendapat pendidikan yang sama baiknya.Di akhir pidatonya, Khofifah mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat partisipasi bersama dalam pendidikan.

Ia menegaskan pendidikan bukan hanya tugas pemerintah atau sekolah. Tetapi tanggung jawab bersama. Pemerintah, guru, keluarga, dan masyarakat harus bergerak dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

“Dari ruang-ruang kelas hari ini lahir generasi penentu masa depan. Saya yakin Jawa Timur mampu melahirkan pemimpin masa depan Indonesia yang tangguh dan berdaya saing global,” pungkasnya.

Lainnya:

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Khofifah Buat Sejarah di Hardiknas 2026: Paskibra SD Pimpin Upacara, Siswa SR Pidato 5 Bahasa
Kapolres Lamongan Ganjar Anggota Berprestasi, Pesan Keras: Kerja Bukan Cari Pujian
May Day 2026: Saat Buruh Masih Rentan, BPJS Ketenagakerjaan Cairkan Santunan Rp744 Juta di Lamongan
May Day 2026 di Lamongan: BPJS Ketenagakerjaan Fokus pada Perlindungan Pekerja
Hari Buruh 2026 di Jember, BPJS Ketenagakerjaan Ingatkan Pentingnya Jaminan bagi Pekerja Rentan
Dewan Pers: Jurnalisme Berkualitas Jadi Pilar Masa Depan Damai dan Adil
Tak Ada Demo Ricuh, May Day Jember 2026 Berubah Jadi Panggung Harmoni Buruh dan Pengusaha
Negara Turun ke Laut, Ratifikasi ILO 188 Jadi Tameng Baru Buruh Perikanan dari Eksploitasi

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 21:38 WIB

Hardiknas 2026: Anak SD Jadi Komandan Paskibra, Murid SR Mojokerto Pidato 5 Bahasa di Depan Khofifah

Senin, 4 Mei 2026 - 21:26 WIB

Khofifah Buat Sejarah di Hardiknas 2026: Paskibra SD Pimpin Upacara, Siswa SR Pidato 5 Bahasa

Senin, 4 Mei 2026 - 12:28 WIB

Kapolres Lamongan Ganjar Anggota Berprestasi, Pesan Keras: Kerja Bukan Cari Pujian

Senin, 4 Mei 2026 - 11:41 WIB

May Day 2026: Saat Buruh Masih Rentan, BPJS Ketenagakerjaan Cairkan Santunan Rp744 Juta di Lamongan

Senin, 4 Mei 2026 - 11:30 WIB

May Day 2026 di Lamongan: BPJS Ketenagakerjaan Fokus pada Perlindungan Pekerja

Berita Terbaru