JEMBER, RadarBangsa.co.id – Pemerintah Kabupaten Jember mengambil langkah strategis untuk menekan angka stunting serta Angka Kematian Ibu dan Bayi (AKI-AKB) yang masih tinggi. Bupati Jember Gus Fawait mengumpulkan sekitar 1.200 tenaga kesehatan (nakes) di GOR PKPSO Kaliwates, Senin (26/1/2026), sekaligus meluncurkan Program Jember Cinta Kesehatan Ibu dan Anak.
Dalam arahannya, Gus Fawait menegaskan bahwa stunting dan AKI-AKB merupakan persoalan serius yang membutuhkan penanganan luar biasa. Ia menyebut, dalam satu dekade terakhir Jember kerap berada di jajaran atas daerah dengan kasus stunting dan kematian ibu-bayi tertinggi di Jawa Timur.
“Selama ini penanganan berjalan sendiri-sendiri. Puskesmas, kecamatan, hingga dinas bekerja terpisah. Mulai hari ini, semuanya kita satukan dalam satu komando,” tegas Gus Fawait di hadapan ribuan nakes.
Sebagai langkah konkret, Pemkab Jember membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan Stunting, AKI, dan AKB. Satgas ini melibatkan lintas sektor, mulai dari tenaga kesehatan dan penyuluh KB, aparatur pemerintahan dari camat hingga desa, unsur pendidikan untuk pendataan yang akurat, serta dukungan TNI dan Polri guna memperkuat efektivitas pelaksanaan di lapangan.
Gus Fawait menargetkan penurunan signifikan angka stunting pada 2026. Lebih jauh, ia membidik Jember menjadi daerah dengan prevalensi stunting terendah di Jawa Timur pada periode 2029–2030.
Untuk memastikan program berjalan efektif dan bukan sekadar seremonial, evaluasi kinerja akan dilakukan setiap tiga bulan. Penilaian tersebut mencakup kinerja organisasi perangkat daerah (OPD), camat, hingga kepala puskesmas.
“Salah satu indikator utama keberhasilan pejabat di Jember adalah kemampuan menurunkan stunting dan kematian ibu-anak di wilayahnya,” ujarnya.
Dari sisi anggaran, Bupati memastikan pengelolaan keuangan dilakukan secara terencana dan berdampak langsung kepada masyarakat. Ia menegaskan tidak akan ada pemborosan anggaran untuk kegiatan seremonial atau pelatihan yang tidak memberi hasil nyata.
Gus Fawait juga menjamin Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi tenaga kesehatan tidak akan dikurangi. Kebijakan ini diambil untuk menjaga motivasi dan kualitas pelayanan kesehatan di Jember.
“Kita ingin anggaran benar-benar dirasakan masyarakat. Pelayanan kesehatan harus membaik, bukan sekadar habis untuk seminar,” pungkas Gus Fawait.
Penulis : Herry
Editor : Zainul Arifin


















Komentar