LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, pada Senin malam (12/5), memicu banjir yang merendam tiga desa. Luapan air sungai menggenangi Desa Kedungrejo, Sambangrejo, dan Karangpilang, serta meluas ke area lahan persawahan warga.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, Joko Nursiyanto, menyebut tingginya curah hujan di kawasan hulu, khususnya di Desa Yungyang, Pule, dan sekitarnya, sebagai pemicu utama terjadinya banjir.
“Curah hujan yang sangat tinggi di wilayah Desa Yungyang, Pule, dan sekitarnya menyebabkan volume air sungai meningkat drastis dan meluap ke arah desa Kedungrejo, Sambangrejo, dan Karangpilang,” terang Joko kepada *Radarbangsa*, Selasa (13/5).
Joko menyebutkan bahwa fenomena banjir di wilayah tersebut bukan hal baru. Pola aliran air setiap musim hujan cenderung mengarah ke desa-desa tersebut, membuat warga sudah cukup akrab dengan ancaman banjir tahunan.
“Banjir ini sudah menjadi hal yang biasa bagi sebagian besar warga Sambangrejo, terutama ketika intensitas curah hujan sangat tinggi. Dampak yang paling terasa adalah terganggunya akses jalan antar desa dan terendamnya areal persawahan warga,” tambahnya.
Lebih mengkhawatirkan, kata Joko, adalah ancaman kerusakan tanaman padi yang saat ini baru berumur sekitar 40 hari. Genangan air yang bertahan lebih dari seminggu berpotensi merusak tanaman dan menyebabkan gagal panen.
“Kami berharap dan berdoa agar air segera surut, sehingga para petani tidak mengalami kerugian besar akibat kondisi cuaca ekstrem ini,” ujarnya dengan nada prihatin.
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca ekstrem diprediksi masih akan melanda wilayah Jawa Timur, termasuk Lamongan, hingga 17 Mei mendatang. BPBD pun mengimbau para camat dan kepala desa untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Kami mengharapkan seluruh warga Lamongan untuk tetap waspada dan selalu memantau informasi terkini mengenai kondisi cuaca. Langkah ini penting untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir susulan atau bencana hidrometeorologi lainnya,” tutup Joko.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin









