SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan penguatan literasi sebagai agenda strategis dalam membangun kualitas sumber daya manusia (SDM). Momentum Hari Buku Sedunia 2026 dimanfaatkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa untuk mendorong budaya membaca sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat terhadap hoaks dan disinformasi.
Langkah ini dinilai penting di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap tidak terverifikasi. Rendahnya literasi bukan hanya berdampak pada pendidikan, tetapi juga berpotensi memicu kesalahan persepsi publik hingga gangguan stabilitas sosial.
“Literasi hari ini bukan sekadar membaca, tetapi kemampuan memahami, menganalisis, dan menyaring informasi secara bijak agar masyarakat tidak mudah terpapar hoaks,” tegas Khofifah, Rabu (23/4/2026).
Ia menyebut, buku tetap menjadi instrumen utama dalam membangun pola pikir kritis. Melalui membaca, masyarakat dapat memperluas wawasan, memahami berbagai perspektif, serta meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
“Buku adalah jendela dunia. Dari membaca, kita bisa memahami peradaban tanpa harus berpindah tempat,” ujarnya.
Khofifah menekankan, penguatan literasi bukan program jangka pendek, melainkan kebijakan berkelanjutan yang membutuhkan keterlibatan lintas sektor. Mulai dari keluarga, sekolah, hingga komunitas memiliki peran penting dalam membentuk budaya membaca.
Data Perpustakaan Nasional menunjukkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Jawa Timur tahun 2025 mencapai 56,29. Angka ini menunjukkan tren positif, namun masih membutuhkan percepatan agar manfaatnya merata hingga ke pelosok daerah.
Sebagai respons, Pemprov Jatim terus memperluas akses layanan literasi melalui berbagai program. Di antaranya penguatan perpustakaan desa, sekolah, dan lembaga pemasyarakatan, serta peningkatan kualitas koleksi dan tenaga pustakawan.
Kebijakan ini bertujuan memastikan seluruh lapisan masyarakat memiliki akses yang sama terhadap sumber pengetahuan. Dengan begitu, kesenjangan literasi antarwilayah dapat ditekan.
Selain layanan konvensional, inovasi juga dilakukan melalui mobil perpustakaan keliling, program dongeng untuk anak, hingga tur edukasi perpustakaan. Upaya ini dirancang agar literasi lebih dekat dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami ingin literasi hadir secara menarik dan menyenangkan, terutama bagi anak-anak agar tidak hanya bergantung pada gadget,” jelasnya.
Dari sisi dampak, penguatan literasi diyakini mampu meningkatkan daya saing tenaga kerja, memperkuat ekonomi berbasis pengetahuan, hingga memperbaiki kualitas demokrasi melalui masyarakat yang lebih kritis dan rasional.
Khofifah juga menyoroti pentingnya adaptasi literasi di era digital. Ia mendorong pemanfaatan e-book dan audiobook sebagai bagian dari transformasi layanan publik berbasis teknologi.
Menurutnya, kemampuan literasi digital menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam arus informasi palsu yang beredar luas di media sosial.
“Ini bukan hanya soal membaca, tetapi bagaimana masyarakat mampu memilah informasi yang benar dan bertanggung jawab,” tegasnya.
Melalui momentum Hari Buku Sedunia, Khofifah mengajak masyarakat untuk membangun kebiasaan membaca secara konsisten. Ia menilai perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana.
“Mari kita biasakan membaca setiap hari. Dari kebiasaan kecil itu akan lahir SDM yang unggul dan berdaya saing global,” ajaknya.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa kekuatan literasi akan menentukan masa depan bangsa. Semakin tinggi tingkat literasi, semakin kuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan global.
“Literasi adalah fondasi kemajuan. Tanpa itu, sulit bagi kita untuk bersaing di tingkat dunia,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar