Jatim Borong 7 Penghargaan Wana Lestari 2026, Gubernur Khofifah Soroti Peran Desa dan Masyarakat

Selasa, 1 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Jawa Timur menorehkan prestasi di tingkat nasional setelah tujuh wakilnya meraih Penghargaan Wana Lestari Nasional 2026. Tiga di antaranya menyabet predikat Terbaik I, tiga Terbaik II, dan satu lainnya meraih Harapan III.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, penghargaan itu menunjukkan bahwa upaya menjaga kelestarian hutan di Jawa Timur telah menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, masyarakat, hingga kelompok pengelola hutan.

“Alhamdulillah, tujuh wakil Jawa Timur berhasil menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan seluruh masyarakat, saya menyampaikan selamat dan terima kasih atas dedikasi luar biasa dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus memberdayakan masyarakat,” ujar Khofifah di Surabaya, Selasa (1/9).

Khofifah menilai, pelestarian hutan kini tidak hanya berkaitan dengan menjaga kawasan dan sumber daya alam. Hutan yang terawat juga dapat menjadi sumber penghidupan, ruang konservasi, sekaligus fondasi pembangunan berkelanjutan.

“Para penerima penghargaan ini adalah teladan nyata bahwa pelestarian hutan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Hutan yang lestari bukan hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga manfaat sosial dan ekonomi yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Tiga wakil Jawa Timur yang meraih predikat Terbaik I nasional adalah Johan Prasetyo, S.Hut. dari Balai Penegakan Hukum Kehutanan Wilayah Jabalnusra untuk kategori Polisi Kehutanan (Polhut).

Kemudian Hendro Supeno dari Desa Wringin Putih, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, pada kategori Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM).

Predikat Terbaik I juga diraih Kelompok Tani Hutan (KTH) Sumber Lestari yang diketuai Sungkono dari Desa Samar, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung.

Hendro Supeno dinilai berhasil menunjukkan dedikasinya dalam mendampingi masyarakat mengelola ekosistem mangrove di Teluk Pang Pang Banyuwangi secara lestari.

Sementara KTH Sumber Lestari mendapatkan penghargaan atas keberhasilannya mengembangkan pengelolaan hutan rakyat secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat.

Khofifah mengatakan, capaian tersebut tidak lahir secara instan. Ada proses panjang berupa pendampingan, konsistensi, kerja bersama, dan kepedulian masyarakat dalam menjaga hutan serta lingkungan.

“Prestasi ini tidak lahir dalam waktu singkat. Ada ketekunan, konsistensi, kerja bersama, dan komitmen panjang dalam merawat hutan. Mereka membuktikan bahwa dari desa dan komunitas dapat lahir praktik-praktik terbaik yang menjadi inspirasi bagi Indonesia,” ungkapnya.

Tiga wakil Jatim lainnya meraih predikat Terbaik II nasional. Mereka adalah Rudiyanto pada kategori Kader Konservasi Alam (KKA), Kelompok Pecinta Alam (KPA) Pelita pada kategori Kelompok Pecinta Alam, serta Lembaga Desa Wilis Sejahtera dari Kabupaten Madiun pada kategori Pemegang Persetujuan Pengelolaan Hutan Desa (HD).

Satu penghargaan lainnya diraih KP Lesung Gemilang Sejahtera dengan predikat Harapan III nasional pada kategori Pemegang Persetujuan Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HKm).

Menurut Khofifah, capaian tujuh wakil Jatim tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan hutan lestari di Jawa Timur bergerak di berbagai lini. Mulai dari penegakan hukum, penyuluhan, konservasi, pemberdayaan kelompok masyarakat, hingga pengelolaan hutan berbasis desa dan masyarakat.

“Capaian di tujuh kategori ini menggambarkan lengkapnya ekosistem pengelolaan hutan lestari di Jawa Timur, mulai dari penyuluhan, pemberdayaan kelompok tani dan pelestari alam, penegakan hukum kehutanan, hingga pengelolaan hutan desa dan hutan kemasyarakatan,” jelas Khofifah.

Lima penghargaan untuk kategori KTH, PKSM, Polhut, KKA, dan KPA diserahkan langsung Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni dalam Temu Karya Teladan Penerima Penghargaan Wana Lestari Tingkat Nasional Tahun 2026 di Jakarta.

Sedangkan penghargaan untuk dua kategori perhutanan sosial, yakni Hutan Desa dan Hutan Kemasyarakatan, diserahkan Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Catur Endah Prasetiani dalam rangkaian peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta, Kamis (13/8).

Secara nasional, Penghargaan Wana Lestari Tahun 2026 diberikan kepada 63 penerima dari 20 kategori. Penghargaan tersebut merupakan agenda tahunan Kementerian Kehutanan yang telah diselenggarakan sejak 2007.

Penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada individu maupun kelompok yang dinilai berkontribusi menjaga kelestarian hutan sekaligus meningkatkan manfaat hutan bagi masyarakat.

Proses penilaian dilakukan secara berjenjang mulai tingkat provinsi hingga nasional berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.15 Tahun 2024 tentang Penghargaan Wana Lestari.

Khofifah berharap penghargaan tersebut tidak menjadi garis akhir. Para penerima dari Jawa Timur diharapkan dapat menjadi pusat pembelajaran sekaligus penggerak inovasi baru dalam pengelolaan hutan di daerah masing-masing.

“Penghargaan ini bukanlah garis akhir. Justru setelah menerima penghargaan, praktik-praktik baik yang telah dilakukan harus semakin diperluas, direplikasi, dan ditularkan kepada kelompok maupun daerah lainnya,” pesannya.

Pemprov Jatim, lanjut Khofifah, akan terus memperkuat kolaborasi bersama pemerintah pusat, pemerintah kabupaten dan kota, penyuluh kehutanan, kelompok masyarakat, dunia usaha, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun tata kelola hutan yang lestari, produktif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Khofifah menegaskan, keberhasilan menjaga hutan pada akhirnya harus bermuara pada dua tujuan yang berjalan beriringan, yakni terjaganya fungsi ekologis hutan dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang hidup di sekitarnya.

“Semangat Wana Lestari harus terus tumbuh menjadi gerakan bersama. Hutan tetap terjaga, masyarakat memperoleh manfaat dan kesejahteraan, serta generasi mendatang dapat mewarisi lingkungan hidup yang sehat dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam arahannya menekankan pentingnya menjadikan Wana Lestari sebagai instrumen untuk memperluas replikasi berbagai praktik terbaik pengelolaan hutan di daerah.

Praktik tersebut mencakup peningkatan pendapatan masyarakat, konservasi keanekaragaman hayati, hingga upaya penurunan emisi sejalan dengan target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Menaker Yassierli: Indonesia Siap Jadi Mitra Dialog Pekerja ASEAN di Tengah Gejolak Global
Kapolri Tekankan Integritas Personel serta Pelayanan Humanis untuk Perkuat Kepercayaan Publik
Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak
PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan
PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani
DPRD Kabupaten Pasuruan Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi
Kemnaker Verifikasi Mitra MagangHub hingga 30 Oktober, Ini Jadwal Seleksi Peserta
Gus Iqdam di Pasuruan: Serukan Ilmu, Akhlak, dan Sedekah

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:18

Menaker Yassierli: Indonesia Siap Jadi Mitra Dialog Pekerja ASEAN di Tengah Gejolak Global

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:02

Kapolri Tekankan Integritas Personel serta Pelayanan Humanis untuk Perkuat Kepercayaan Publik

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:38

Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak

Kamis, 29 Oktober 2026 - 23:36

PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:47

PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani

Berita Terbaru