Jerry Massie: Soeharto Layak Mendapatkan Gelar Pahlawan Nasional

Jumat, 21 November 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Soeharto layak dianugerahi gelar pahlawan nasional, Foto Dok NET)

Presiden Soeharto layak dianugerahi gelar pahlawan nasional, Foto Dok NET)

JAKARTA, RadarBangsa.co.id – Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie, menegaskan bahwa Presiden kedua RI, Soeharto, pantas dianugerahi gelar pahlawan nasional. Menurut Jerry, rekam jejak pembangunan dan stabilitas yang dicapai Soeharto memiliki dampak signifikan bagi kesejahteraan rakyat serta reputasi Indonesia di dunia internasional.

“Dari ekonomi, teknologi, pendidikan, pangan, hingga stabilitas negara, jejaknya luar biasa. Karena itu saya berpendapat Soeharto layak diberi gelar pahlawan nasional,” ujar Jerry, Kamis, (20/11/2025).

Alasan utama penilaian tersebut, menurut Jerry, terletak pada keberhasilan Soeharto menstabilkan ekonomi Indonesia pada awal Orde Baru. Saat itu, inflasi mencapai lebih dari 600 persen, warisan krisis dari era sebelumnya. Melalui penataan kebijakan fiskal dan moneter, serta dukungan ekonom papan atas seperti Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Ma’rie Muhammad, J.B. Sumarlin, Radius Prawiro, dan Soemitro Djojohadikusumo, inflasi berhasil ditekan hingga 10 persen. Kepercayaan investor meningkat, pertumbuhan ekonomi stabil, dan di akhir era Orde Baru, laju ekonomi Indonesia mencapai 7,8 persen pada 1996–1997, melampaui Jepang, Korea Selatan, dan China. Prestasi ini kemudian membuat Indonesia mendapat julukan “Macan Asia.”

Selain ekonomi, Jerry menyoroti capaian teknologi yang dicapai Soeharto. Pada 9 Juli 1976, Indonesia meluncurkan Satelit Palapa A1, menjadikan negara ini salah satu dari sedikit negara berkembang yang memiliki satelit komunikasi sendiri. Keberhasilan ini diikuti serangkaian satelit Palapa lainnya, memperkuat integrasi komunikasi nasional dari Sabang hingga Merauke. Pada 1980–1984, pemerintah juga berhasil mengakuisisi Indosat dari ITT Amerika Serikat senilai US$43,6 juta, langkah yang menurut Jerry menunjukkan keberanian menjaga kedaulatan teknologi telekomunikasi.

Di sektor otomotif dan kedirgantaraan, Soeharto juga meninggalkan fondasi penting. Peluncuran mobil nasional Timor pada 1996 menandai langkah awal Indonesia memasuki industri otomotif, meski menuai kontroversi. Bersamaan dengan itu, BJ Habibie mengembangkan industri dirgantara melalui IPTN, menghasilkan pesawat CN-235 pada 1983 dan N-250 Gatotkaca pada 1995. Kekuatan udara TNI diperkuat dengan pengadaan F-5 Tiger, A-4 Skyhawk, dan BAE Hawk, menjadikan Indonesia hampir masuk kategori negara maju.

Pembangunan sumber daya manusia juga menjadi fokus era Soeharto. Pemerintah membangun hampir 150 ribu SD Inpres hingga 1994, program yang menurunkan angka buta huruf, meningkatkan partisipasi sekolah dasar, dan menjadi studi penting bagi ekonom dunia. Penelitian dampaknya terhadap kualitas hidup dan mobilitas sosial bahkan berkontribusi pada riset yang meraih Hadiah Nobel Ekonomi 2019. Era ini juga melahirkan generasi teknokrat dan intelektual kelas dunia, termasuk Widjojo Nitisastro, Emil Salim, Mohammad Sadli, dan Ali Wardhana yang dijuluki “Mafia Berkeley.” Tokoh intelejen seperti Benny Moerdani dan Ali Moertopo menjadi penopang stabilitas negara.

Di bidang pangan, Soeharto mencapai prestasi monumental dengan tercapainya swasembada beras pada 1984. Keberhasilan ini didukung pembangunan infrastruktur irigasi, intensifikasi pertanian, pembangunan waduk dan pabrik pupuk, serta pembentukan Kelompencapir sebagai forum komunikasi antara pemerintah dan petani. Hasilnya, Indonesia diundang berbicara di konferensi FAO Roma 1985 dan menyumbangkan 100 ribu ton beras ke Afrika, serta menerima FAO World Food Day Award.

Selain itu, Soeharto juga mendapat pengakuan internasional lain, seperti UN Population Award (1989), Global Statesman Award (1988), Health for All Gold Medal WHO (1991), serta UNDP Award (1997). Menurut Jerry, penghargaan-penghargaan ini menegaskan kontribusi Soeharto di bidang pembangunan, kesehatan, pangan, dan kependudukan.

Jerry juga menekankan peran Soeharto dalam menumpas pemberontakan PKI 1965, yang menjadi titik balik stabilitas politik dan keamanan nasional, membuka jalan bagi pembangunan tiga dekade berikutnya.

“Dengan seluruh rangkaian prestasi tersebut, mulai dari stabilitas ekonomi, kemajuan teknologi, pendidikan, hingga keamanan nasional, Soeharto jelas meninggalkan warisan besar bagi bangsa ini,” pungkas Jerry.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

BSU 2026 Rp900 Ribu Dibayar Sekaligus, Ini Syarat Penerimanya
Menaker Yassierli Ungkap 3 Karakter SDM yang Dibutuhkan di Era AI
SMSI Siap Kawal Prabowo, Ini Sikap Organisasi Pers terhadap Pemerintah
Yassierli Targetkan Pendampingan Produktivitas Menjangkau Ratusan Ribu Perusahaan
Kemnaker-IWIP Perkuat SDM Lokal, 80 Persen Peserta Magang Masuk Kawasan Industri
Lia Istifhama Turun Langsung, Donor Darah HUT DPD RI di Jatim Tembus 100 Orang
Kemnaker Fasilitasi 100 Pekerja Musik, Dorong Kompetensi dan Pelindungan Profesi
AI Ubah Dunia Jurnalistik, Wamenaker Tekankan Kompetensi dan Perlindungan Insan Pers

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 20:53

BSU 2026 Rp900 Ribu Dibayar Sekaligus, Ini Syarat Penerimanya

Kamis, 5 November 2026 - 10:47

Menaker Yassierli Ungkap 3 Karakter SDM yang Dibutuhkan di Era AI

Rabu, 4 November 2026 - 18:30

SMSI Siap Kawal Prabowo, Ini Sikap Organisasi Pers terhadap Pemerintah

Selasa, 3 November 2026 - 19:42

Yassierli Targetkan Pendampingan Produktivitas Menjangkau Ratusan Ribu Perusahaan

Selasa, 3 November 2026 - 07:46

Kemnaker-IWIP Perkuat SDM Lokal, 80 Persen Peserta Magang Masuk Kawasan Industri

Berita Terbaru