PACITAN, RadarBangsa.co.id – Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan mengingatkan warga agar tidak menganggap remeh hipertensi atau tekanan darah tinggi. Penyakit yang dikenal sebagai silent killer itu disebut berpotensi memicu komplikasi serius hingga gangguan fungsi otak jika terlambat dikendalikan.
Peringatan itu disampaikan menyusul masih banyaknya penderita yang tidak menyadari kondisi mereka sampai muncul gejala berat.
Hipertensi kini menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan. Penyakit yang sering datang tanpa gejala itu dinilai menjadi ancaman nyata karena dapat memicu stroke, gangguan jantung, hingga penurunan konsentrasi dan fungsi kognitif penderita.
Kepala Dinas Kesehatan Pacitan, dr. Daru Mustikoaji, mengatakan sebagian besar pasien baru mengetahui dirinya hipertensi setelah tekanan darah naik drastis dan memicu keluhan fisik berat.
“Sebagian besar penderita baru sadar setelah muncul sakit kepala hebat, pusing mendadak, wajah memerah, leher tegang, pandangan kabur, jantung berdebar, telinga berdenging sampai mimisan,” ujar dr. Daru, Minggu (17/5/2026).
Menurutnya, kondisi itu membuat hipertensi berbahaya karena sering terlambat ditangani. Padahal, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol bisa merusak organ vital secara perlahan tanpa disadari pasien.
Karena itu, Dinkes Pacitan meminta masyarakat rutin memeriksa tekanan darah dan menjaga angka tensi tetap di bawah 140/90 mmHg.
“Jangan menunggu gejala berat muncul. Deteksi dini menjadi kunci agar komplikasi bisa dicegah,” tegasnya.
Dinkes juga menyoroti pola hidup masyarakat yang masih memicu tingginya risiko hipertensi, mulai dari konsumsi garam berlebih, kurang olahraga, hingga kebiasaan merokok dan stres berkepanjangan.
Kepala Bidang Kesmas Dinkes Pacitan, Nunuk Irawati, menjelaskan penanganan hipertensi tidak cukup hanya mengandalkan obat. Perubahan pola hidup disebut menjadi langkah paling mendasar untuk menjaga tekanan darah tetap stabil.
“Masyarakat perlu mengurangi makanan olahan, memperbanyak sayur dan buah, olahraga minimal 150 menit per minggu, serta menghentikan rokok dan alkohol,” kata Nunuk, Selasa (19/5/2026).
Selain pola hidup sehat, pasien juga diminta disiplin menjalani pengobatan medis jika tekanan darah sulit turun. Penggunaan obat herbal pun diminta tidak dilakukan sembarangan tanpa pengawasan tenaga kesehatan.
“Konsumsi obat, baik medis maupun herbal, harus disiplin dan tetap memperhatikan dosis serta pengawasan tenaga medis,” ujarnya.
Dinkes Pacitan berharap masyarakat mulai lebih aktif melakukan kontrol kesehatan rutin dan tidak menunggu kondisi memburuk. Kesadaran warga dinilai menjadi faktor penting untuk menekan lonjakan komplikasi hipertensi di Pacitan.
“Hipertensi bisa dikendalikan jika masyarakat mau disiplin menjaga pola hidup dan rutin memeriksakan diri,” pungkasnya.
Penulis : Yuan
Editor : Zainul Arifin









Komentar