Kejari Lamongan Selidiki Dugaan Penjualan LKS SD, Selisih Harga Jadi Sorotan

Sabtu, 27 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Lamongan di Jalan Veteran No. 4, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Lamongan di Jalan Veteran No. 4, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Kejaksaan Negeri (Kejari) Lamongan mulai mendalami dugaan praktik penjualan Lembar Kerja Siswa (LKS) di sekolah dasar yang disebut telah berlangsung selama bertahun-tahun. Penyelidikan dilakukan menyusul adanya aduan masyarakat terkait dugaan mark up harga dan potensi pelanggaran aturan dalam distribusi buku tersebut.

Seperti dilansir memorandum.disway.id, Kepala Seksi Intelijen Kejari Lamongan, Erfan Nurcahyo mengatakan, pihaknya tengah mendalami aduan masyarakat terkait dugaan penjualan LKS di sekolah dasar.

“Kami dalami aduan dan data di lapangan,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, praktik penjualan LKS disebut menjangkau lebih dari 600 sekolah dasar pada 27 kecamatan di Lamongan. Buku tersebut dikabarkan dijual kepada siswa seharga Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per eksemplar, sementara harga grosir disebut berkisar Rp3.900 hingga Rp7.500, dan harga eceran normal berada di kisaran Rp7.500 sampai Rp20 ribu.

Operator distribusi LKS, H. Wignyo, mengakui penyaluran buku dilakukan berdasarkan nota pesanan dari paguyuban kelas atau wali murid.

Menurutnya, distribusi tersebut tidak didukung memo atau disposisi resmi dari Dinas Pendidikan.

Ia juga menegaskan, Kepala Dinas, Sekretaris Dinas, Kepala Bidang, maupun Ketua K3S Kabupaten tidak terlibat dalam mekanisme distribusi tersebut.

“Kami tidak mengantongi memo disposisi resmi dari dinas. Kadin, Sekdin, Kabid, dan Ketua K3S Kabupaten tidak terlibat,” ujarnya.

Dugaan praktik tersebut menjadi perhatian karena dinilai tidak sejalan dengan ketentuan PP Nomor 17 Tahun 2010 Pasal 181 dan Permendikbud Nomor 8 Tahun 2016 Pasal 9 yang melarang sekolah maupun komite sekolah memperjualbelikan buku ajar, termasuk LKS. Selisih harga yang cukup besar juga dinilai berpotensi membebani orang tua siswa, terutama dari kalangan ekonomi lemah.

Erfan menegaskan, penyelidikan masih terus berjalan. Apabila ditemukan bukti adanya pungutan liar, praktik mark up yang melanggar hukum, maupun keterlibatan oknum tertentu, Kejari akan menindaklanjutinya sesuai ketentuan yang berlaku.

“Jika ada bukti pungli, mark up liar, atau keterlibatan oknum, kami proses hukum. Pendidikan tidak boleh jadi ladang bancakan,” tutupnya.

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

SMK Muhammadiyah 3 Weleri Bentuk Siswa Disiplin dan Peduli Lingkungan
Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak
PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan
PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani
DPRD Kabupaten Pasuruan Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi
Gus Iqdam di Pasuruan: Serukan Ilmu, Akhlak, dan Sedekah
Paripurna, Fraksi Golkar DPRD Ngawi Soroti Defisit RAPBD 2027, Usulkan Stadion Baru Berkapasitas 40.000 Penonton
HKG PKK ke-54, Luthfiana Lukman Hakim Perkuat Peran Keluarga di Bangkalan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 23:43

SMK Muhammadiyah 3 Weleri Bentuk Siswa Disiplin dan Peduli Lingkungan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:38

Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak

Kamis, 29 Oktober 2026 - 23:36

PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:47

PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:31

DPRD Kabupaten Pasuruan Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi

Berita Terbaru