Keracunan MBG Masih Terjadi, Senator Lia Istifhama: Harus Ada Penyesuaian Porsi

Selasa, 12 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Viral menjadi perbincangan. Hal ini gegara dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) lagi-lagi terjadi hari ini, 11 Mei 2026. Dan kali ini menimpa 12 sekolah di Kota Surabaya. Tak tanggung-tanggung, 200 siswa harus mendapatkan penanganan medis akibat dugaan mengalami keracunan usai mengkonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh, Bubutan, Surabaya, Jawa Timur.

Seperti halnya keracunan pada umumnya, para pelajar itu mengalami gejala, diantaranya mual, muntah, hingga pusing, yang kemudian mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Tembok Dukuh Surabaya. Sebagian siswa bahkan sempat dirujuk ke rumah sakit meski mayoritas dalam kondisi ringan.

Peristiwa itu memang langsung disikapi tegas oleh Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur (Jatim) yang menutup sementara SPPG Tembok Dukuh tersebut. Meski Wawali Surabaya Armuji sempat melakukan sidak SPPG tersebut dan menemukan fakta kebersihan dapur penyedia MBG itu.

Namun Langkah tegas BGN tetap patut diapresiasi, sebagaimana yang disampaikan anggota DPD RI Komite III Lia Istifhama.

Senator Jatim itu menjelaskan bahwa langkah tegas BGN Korwil Jatim sangat tepat, sembari menunggu hasil laboratorium yang menguji kelayakan makanan yang disajikan pada siswa di 12 sekolah itu.

“Kita sama-sama mendapatkan informasi bahwa sampel makanan sedang diuji laboratorium. Namun tentunya sambil menunggu hasil pun, Langkah tegas memang harus dilakukan. Dan yang dilakukan BGN dengan menutup SPPG itu secara sementara, sangat tepat.”

Meski mengapresiasi Langkah BGN, politisi itu tetap memberikan catatan kritisnya.

“Dugaan keracunan akibat sajian menu MBG ini kan bukan peristiwa pertama. Tapi ini sudah kesekian kali dan terjadi di tempat lainnya, bukan hanya Surabaya. Maka yang harus dipahami bersama adalah upaya preventif. Jika penutupan SPPG yang bermasalah, itu kan langkah kuratif.”

Secara tegas, ia menyoroti langkah preventif mengingat penerima adalah anak-anak dan kelompok rentan seperti ibu hamil.

“Nah, bagaimana langkah preventif? Disini yang harus diakui bersama, bahwa memasak 3000 porsi memang bukan perkara mudah. Jika penyedia makanan tidak memiliki latar belakang usaha kuliner atau catering dengan ribuan porsi, maka potensi salah pengolahan atau penyajian, sangat mungkin terjadi.”

“Apalagi dengan target penerima adalah anak-anak maupun kelompok rentan, maka higienitas dalam proses pengolahan sampai penyajian tentu akan sangat diperlukan. Contoh yang terjadi di Tembok Dukuh itu. Siswa mengaku bumbu krengsengan ada rasa pahit. Nah, apakah SPPG sebelum menyajikan sudah mencoba sampel makanan tersebut?”

“Dan apakah memasak dilakukan 3000 porsi sekaligus? Misal proses pengolahan dilakukan lebih dari satu kali untuk mencapai 3000 porsi, maka per pengolahan saat mau disajikan, tentu harus dicoba terlebih dahulu oleh mereka. Jangan sampai dicoba pada pengolahan sekian porsi yang pertama, berikutnya tidak, maka resiko keracunan akan terus berpotensi terjadi.”

Usut punya usut, legislator itu telah menyinggung masalah yang bisa muncul akibat 3000 porsi menu MBG.

“Menurut hemat saya dan pernah saya sampaikan di awal kami Rapat Dengar Pendapat dengan BGN awal 2025 lalu, bahwa target 3000 porsi mohon jangan saklek, jangan dipatenkan. Kenapa begitu? Karena skill pengolahan makanan porsi jumbo tidak semua orang bisa, apalagi jika dilakukan setiap hari dan berkejaran dengan waktu penyajian. dan inilah resiko, potensi keracunan jika yang oknum SPPG tidak memiliki skill khusus.”

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Mabes TNI Gencarkan Pencegahan Karhutla di Pelalawan, Kearifan Lokal Jadi Kekuatan
Polsek Laren Atur Lalu Lintas Pagi di Jalur Sekolah, Cegah Macet dan Kecelakaan di Lamongan
Bhabinkamtibmas Pelangwot Cek Bibit Cabai, Dukung Ketahanan Pangan di Lamongan
Suporter Persekabpas Pasuruan Siap Jaga Ketertiban Jelang Liga 3 Jawa Timur
Belum Ada Kehamilan dari Program IVF, RSUD H. Moh. Ruslan Evaluasi Kasus Pasien
Polsek Tikung Pantau Panen Biji Kangkung, Dorong Warga Lamongan Perkuat Ketahanan Pangan
Di Hadapan Ribuan Jamaah Suko, Bupati Subandi Tekankan Pentingnya Menjaga Kerukunan
Pasuruan Woman’s Run 2026 di Taman Dayu, Pelari 12 Tahun Tuntaskan 5K dalam 18 Menit 13 Detik
Tag :

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 16:49

Mabes TNI Gencarkan Pencegahan Karhutla di Pelalawan, Kearifan Lokal Jadi Kekuatan

Selasa, 15 September 2026 - 16:04

Polsek Laren Atur Lalu Lintas Pagi di Jalur Sekolah, Cegah Macet dan Kecelakaan di Lamongan

Selasa, 15 September 2026 - 15:32

Bhabinkamtibmas Pelangwot Cek Bibit Cabai, Dukung Ketahanan Pangan di Lamongan

Senin, 14 September 2026 - 13:45

Suporter Persekabpas Pasuruan Siap Jaga Ketertiban Jelang Liga 3 Jawa Timur

Senin, 14 September 2026 - 13:38

Belum Ada Kehamilan dari Program IVF, RSUD H. Moh. Ruslan Evaluasi Kasus Pasien

Berita Terbaru