SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperkuat langkah strategis di sektor riset dan inovasi melalui kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pertemuan berlangsung di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu (9/5), dipimpin langsung oleh Khofifah Indar Parawansa bersama Kepala BRIN Arif Satria.
Pertemuan tersebut menjadi ruang penguatan ekosistem riset, dengan fokus utama pada percepatan hilirisasi inovasi agar tidak berhenti di tataran laboratorium, melainkan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Dalam pertemuan itu, Pemprov Jatim dan Badan Riset dan Inovasi Nasional membahas berbagai potensi kerja sama lintas sektor, mulai dari kesehatan, pangan, energi, hingga teknologi industri strategis.
Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa Jawa Timur memiliki potensi besar dalam pengembangan dan pemanfaatan hasil riset. Namun, tantangan terbesarnya adalah memastikan inovasi tersebut dapat diakses dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.
“Yang paling penting adalah bagaimana hasil riset tidak berhenti di ruang laboratorium, tetapi benar-benar menjadi solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat dan penguatan ekonomi daerah,” ujarnya dalam forum tersebut.
Dalam pemaparannya, Khofifah menyebut BRIN memiliki sekitar 6.000 kekayaan intelektual yang sebagian telah dipatenkan. Inovasi tersebut mencakup sektor pangan, kesehatan, energi, lingkungan, hingga teknologi maritim.
Menurutnya, potensi tersebut menjadi peluang besar bagi Jawa Timur untuk mempercepat pembangunan berbasis inovasi. Salah satu langkah konkret adalah membuka akses kerja sama antara lembaga riset dengan rumah sakit pendidikan dan industri daerah.
“BRIN memiliki banyak inovasi strategis, mulai dari ketahanan pangan hingga teknologi kesehatan. Ini bisa menjadi peluang besar bagi Jawa Timur,” tambahnya.
Dalam sektor kesehatan, Pemprov Jatim juga mendorong kolaborasi antara BRIN dengan RSUD Dr. Soetomo Surabaya sebagai pusat riset klinis. RSUD Dr. Soetomo disebut sebagai salah satu rumah sakit percontohan nasional dalam pengembangan clinical research.
Salah satu inovasi yang dibahas adalah implan tulang hasil riset BRIN yang dinilai memiliki potensi besar dalam dunia medis. Teknologi ini diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut melalui uji klinis dan kolaborasi riset terpadu.
“Ada peluang besar untuk mengembangkan teknologi kesehatan seperti implan tulang melalui kerja sama riset klinis di RS Soetomo,” kata Khofifah.
Selain sektor kesehatan, inovasi pangan juga menjadi perhatian. Salah satunya adalah teknologi food saver dari BRIN yang berfungsi menjaga kualitas dan memperpanjang masa simpan bahan pangan seperti beras, telur, hingga buah-buahan.
Teknologi ini dinilai relevan untuk mendukung efisiensi distribusi pangan skala industri serta mengurangi potensi kerugian akibat bahan pangan cepat rusak.
“Teknologi penyimpanan pangan seperti ini sangat penting untuk menjaga kualitas dan stabilitas distribusi komoditas,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan komitmen lembaganya untuk memperluas kerja sama dengan pemerintah daerah, termasuk Jawa Timur.
Ia menegaskan bahwa hasil riset tidak boleh berhenti pada tahap pengembangan, melainkan harus masuk ke tahap hilirisasi agar memberi dampak langsung bagi masyarakat.
“Kami terus membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah agar inovasi bisa diterapkan secara nyata dan dirasakan manfaatnya,” ujarnya.
Kolaborasi ini dipandang sebagai langkah strategis dalam memperkuat daya saing daerah berbasis inovasi. Pemprov Jatim menilai sinergi dengan BRIN dapat mempercepat transformasi ekonomi berbasis riset sekaligus memperkuat layanan publik di berbagai sektor.
Ke depan, integrasi riset dan kebijakan daerah diharapkan mampu menciptakan ekosistem inovasi yang berkelanjutan, terutama dalam mendukung industri kesehatan, pangan, dan teknologi terapan.
Pertemuan di Grahadi tersebut menegaskan arah baru pembangunan Jawa Timur yang berbasis inovasi. Hilirisasi riset tidak lagi menjadi wacana, tetapi mulai diarahkan menjadi kebijakan nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.
“Kolaborasi ini bukan hanya tentang riset, tetapi tentang bagaimana inovasi benar-benar hadir dan memberi dampak bagi kehidupan masyarakat,” pungkasnya.
Lainnya:
- Riset BRIN Masuk Jatim, Khofifah Dorong Inovasi Jadi Solusi Publik
- Pelecehan di Pesantren Menggila, RABN Jatim: Ini Bukan Lagi Kasus Biasa
- 568 Pesilat Padati Bangkalan, Seleksi Popda Jatim 2026 Memanas
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








