JOMBANG, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghadiri puncak peringatan Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke-16 di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Rabu (17/12). Kehadiran ini sekaligus menjadi ruang refleksi atas warisan nilai kemanusiaan Gus Dur yang dinilai tetap relevan bagi kehidupan berbangsa hingga hari ini.
Didampingi Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak, Khofifah menyebut haul tahun ini memiliki makna khusus karena dirangkai dengan tasyakuran atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Gus Dur, Presiden ke-4 Republik Indonesia. Momentum tersebut, menurutnya, mempertegas pengakuan negara atas kontribusi besar Gus Dur dalam merawat kebhinekaan dan kemanusiaan.
Khofifah mengajak masyarakat untuk kembali meneladani keikhlasan dan pandangan kemanusiaan Gus Dur yang melampaui sekat agama, suku, dan golongan. Ia mengenang kedekatannya dengan Gus Dur semasa hidup, termasuk pesan almarhum yang ingin dikenang sebagai seorang humanis.
“Gus Dur bukan hanya Bapak Pluralisme, tetapi juga Bapak Kemanusiaan. Beliau hidup dan hadir di hati siapa pun, tanpa melihat latar belakang agama, daerah, atau organisasi,” ujar Khofifah.
Menurutnya, kuatnya ikatan batin masyarakat dengan sosok Gus Dur lahir dari ketulusan dan keberpihakan beliau pada nilai-nilai kemanusiaan universal. Warisan tersebut, lanjut Khofifah, menjadi modal sosial yang besar, tidak hanya bagi Jawa Timur dan Indonesia, tetapi juga bagi dunia internasional.
Terkait gelar Pahlawan Nasional yang diberikan pada November lalu, Khofifah menegaskan bahwa Gus Dur sejatinya telah menjadi pahlawan kemanusiaan jauh sebelum pengakuan formal negara. “Semoga kita mampu meneladani keikhlasan dan komitmen beliau dalam merawat keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan secara bersamaan,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan putri Gus Dur, Yenny Wahid. Ia menilai keikhlasan sang ayah menjadi kunci mengapa Gus Dur tetap dicintai lintas generasi dan golongan. “Keteladanan keikhlasan itulah yang membuat Gus Dur selalu hidup di hati masyarakat,” ujarnya.
Yenny juga menyinggung Nahdlatul Ulama sebagai organisasi dengan aset tak berwujud berupa keikhlasan, nilai yang menurutnya dipraktikkan langsung oleh Gus Dur dan menguatkan NU sebagai organisasi Islam terbesar di dunia.
Haul ke-16 Gus Dur turut dihadiri Wakil Menteri Agama RI KH R. Muhammad Syafi’i, Inayah Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Machfudz, jajaran Forkopimda Jawa Timur, serta ribuan jamaah dari berbagai daerah. Peringatan ini menegaskan bahwa ajaran dan keteladanan Gus Dur tetap menjadi rujukan moral bangsa.
Lainnya:
- Tak Ada Demo Ricuh, May Day Jember 2026 Berubah Jadi Panggung Harmoni Buruh dan Pengusaha
- Negara Turun ke Laut, Ratifikasi ILO 188 Jadi Tameng Baru Buruh Perikanan dari Eksploitasi
- Hari Kebebasan Pers Sedunia, SMSI Tegaskan Hak Dirikan Media Dijamin Konstitusi
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








