BANDA ACEH, RadarBangsa.co.id – Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur–Aceh yang dipimpin Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mencatat transaksi final sebesar Rp1.218.708.522.000 atau sekitar Rp1,218 triliun, Senin (19/10/2026). Capaian tersebut berasal dari penjualan produk Jawa Timur ke pasar Aceh dan pembelian komoditas oleh pelaku usaha Jawa Timur.
Berdasarkan rekapitulasi final, penjualan produk Jawa Timur mencapai Rp1.044.828.522.000. Sementara itu, pembelian oleh pelaku usaha Jawa Timur tercatat sebesar Rp173.880.000.000.
Misi dagang yang berlangsung di Amel Hotel Convention Hall, Kota Banda Aceh, itu mempertemukan 40 pelaku usaha dari Jawa Timur dengan 109 pelaku usaha dari Aceh. Berbagai komoditas dipertemukan, mulai dari produk pertanian, perkebunan, pangan, perikanan, fesyen, kerajinan hingga manufaktur.
Gubernur Khofifah mengatakan misi dagang menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk mempertemukan potensi produksi dengan kebutuhan pasar antardaerah.
“Misi dagang menjadi instrumen strategis. Kita ingin mempertemukan daerah yang memiliki komoditas dengan daerah yang membutuhkan pasokan, memperpendek rantai distribusi, memperluas pasar produk unggulan sekaligus memperkuat penggunaan produk dalam negeri,” ujarnya.
Produk yang ditawarkan pelaku usaha Jawa Timur kepada pasar Aceh mencakup susu, benih hortikultura, daging unggas, bibit ayam umur sehari atau day-old chick (DOC), rokok, benih tanaman pangan, kain sutra dan katun, tas kulit, mentega, bawang merah, gula merah, pakan ikan dan udang, cabai, teh curah, kulit lembaran, pupuk, alat pertanian, bibit jagung, serta beras.
Sebaliknya, pelaku usaha Jawa Timur membeli sejumlah komoditas dari Aceh, terutama ikan cakalang, ikan tuna, serta jambe atau pinang. Pertukaran tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat perdagangan dua arah antara kedua provinsi.
Salah satu transaksi bernilai besar tercatat pada penjualan rokok oleh Gabungan Perusahaan Rokok (Gapero) Surabaya kepada PT Bentoel/BAT Banda Aceh. Komitmen lainnya mencakup produk peternakan, pakan ikan dan udang, hasil perikanan, teh, gula merah, cabai, bawang merah, alat pertanian, bibit jagung, pupuk, serta benih pertanian.
Khofifah menegaskan bahwa capaian transaksi tersebut melalui proses persiapan sebelum kegiatan berlangsung. Pemerintah melakukan kurasi pelaku usaha dan produk sedikitnya dua kali serta menyelenggarakan business matching minimal lima kali, termasuk secara daring.
“Jadi tidak ujug-ujug, tetapi proses yang kita bangun melalui berbagai pertemuan dan bisnis matching secara online,” katanya.
Menurut Khofifah, perdagangan antardaerah perlu membuka peluang bagi produk unggulan kedua wilayah agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Ia berharap hubungan ekonomi Jawa Timur dan Aceh terus berkembang melalui kerja sama yang berkelanjutan.
“Kita ingin agar arus perdagangan tidak hanya bergerak dari Jawa Timur menuju Aceh, tetapi juga semakin membuka akses bagi produk-produk unggulan Aceh untuk menjangkau pasar Jawa Timur. Hal itu, menguatkan hubungan ekonomi serta persaudaraan antara Jawa Timur dan Aceh untuk tumbuh, berkembang, maju dan sejahtera bersama,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah berharap kerja sama kedua provinsi tidak hanya terbatas pada sektor pertanian dan perkebunan, tetapi juga berkembang ke sektor pariwisata.
“Orang Jawa Timur harus bisa merasakan bagaimana indahnya Aceh paling ujung Indonesia dan baru dianggap Indonesia Raya kalau orang sudah mengunjungi kilometer nol,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar