Konsisten Turun ke Bawah, Lia Istifhama Perkuat Citra DPD RI di Mata Publik

Selasa, 13 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPD RI Lia Istifhama saat berdialog langsung dengan masyarakat Jawa Timur dalam agenda reses. Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id

Anggota DPD RI Lia Istifhama saat berdialog langsung dengan masyarakat Jawa Timur dalam agenda reses. Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id

JAKARTA, RadarBangsa.co.id — Nama Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, semakin menguat dalam peta politik nasional. Terpilih dengan perolehan 2.739.123 suara pada Pemilu 2024, Lia mencatatkan diri sebagai senator perempuan non-petahana dengan raihan suara tertinggi di Indonesia. Capaian tersebut tidak hanya merefleksikan popularitas, tetapi juga konsistensi dalam pendekatan politik yang membumi serta dekat dengan masyarakat.

Perolehan suara Lia Istifhama menempatkannya tepat di bawah figur nasional seperti Komeng dari Jawa Barat dan Gus Yasin dari Jawa Tengah. Namun, perhatian publik tidak semata tertuju pada angka elektoral atau penampilan personalnya, melainkan pada gaya politik “turun ke bawah” yang dijalankannya secara konsisten. Dalam istilah Jawa, pendekatan itu dikenal sebagai mudun ngisor, yakni hadir langsung di tengah masyarakat tanpa sekat jabatan.

Meski berasal dari keluarga tokoh nasional keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sekaligus putri bungsu KH Maskur Hasyim Lia memilih membangun relasi politik yang egaliter. Ia kerap mendatangi desa, komunitas pendidikan, kelompok perempuan, hingga pelaku usaha kecil untuk mendengar langsung aspirasi warga.

“Bagi saya, politik adalah amanah. Wakil rakyat tidak boleh berjarak dengan masyarakat. Jangan hanya hadir di podium, tetapi juga mau mendengar langsung di bawah,” ujar Lia Istifhama, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, saat ditemui dalam agenda reses di Surabaya.

Selain dikenal sebagai senator, Lia juga aktif sebagai advokat, akademisi, penulis, dan pegiat sosial. Ragam latar belakang tersebut membentuk gaya komunikasinya yang cair dan substantif. Ia dinilai mampu menjembatani aspirasi masyarakat akar rumput dengan bahasa kebijakan di tingkat nasional.

Pengamat politik Universitas Negeri Surabaya, Mubarok, menilai pendekatan Lia memberi warna baru bagi DPD RI. “Lia Istifhama menghadirkan pola representasi yang berorientasi konstituen. Ia aktif menyerap aspirasi tanpa segmentasi dan menunjukkan bahwa DPD RI bisa lebih dekat dengan publik,” kata Mubarok.

Menurutnya, pola komunikasi langsung semacam ini penting untuk mengikis anggapan bahwa lembaga perwakilan daerah bersifat elitis dan jauh dari masyarakat.

Komitmen mudun ngisor kembali terlihat dalam agenda reses Lia yang menjangkau 16 kabupaten/kota di Jawa Timur, antara lain Surabaya, Lamongan, Gresik, Malang Raya, Nganjuk, Pacitan, Lumajang, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Tuban, Bondowoso, Pamekasan, Blitar, hingga Bojonegoro.

Dari dialog dengan pemangku kepentingan daerah, tenaga pendidik, pelaku wisata, dan masyarakat umum, Lia mencatat sedikitnya empat isu strategis yang dinilai perlu perhatian pemerintah pusat.

Isu pertama berkaitan dengan layanan kesehatan, khususnya penerapan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS). Lia menilai banyak rumah sakit daerah masih membutuhkan kejelasan teknis agar tetap berdaya dan mampu menyesuaikan kapasitas layanan.

Isu kedua menyentuh sektor pendidikan, terutama akses seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) bagi guru Raudlatul Athfal (RA) di bawah Kementerian Agama. Lia menilai peran pendidik PAUD berbasis keagamaan sangat strategis, namun belum mendapatkan kesempatan yang setara.

Isu ketiga berkaitan dengan sektor pariwisata. Banyak pelaku wisata daerah belum terlindungi jaminan sosial ketenagakerjaan dan kesehatan, meski sektor tersebut menjadi penopang ekonomi lokal. Lia juga mendorong integrasi layanan kesehatan di kawasan wisata sebagai bagian dari pengembangan medical tourism.

Isu keempat menyangkut pelestarian budaya dan bahasa daerah. Lia menyoroti pentingnya penyusunan kamus bagi ratusan bahasa daerah sebagai langkah perlindungan identitas nasional.

Pendekatan politik yang membumi, konsistensi turun ke lapangan, serta keberpihakan pada isu sosial menjadikan Lia Istifhama figur representasi daerah yang relevan dengan kebutuhan publik. Ke depan, hasil penyerapan aspirasi tersebut akan dibawa ke tingkat nasional sebagai bahan advokasi kebijakan, sekaligus menguatkan peran DPD RI sebagai jembatan kepentingan daerah dan pusat.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Pemprov Jatim Raih Satya JKN Awards 2026, Khofifah Perkuat Perlindungan Pekerja
24 Tim dari 18 Kecamatan Ramaikan Bupati Cup Free Fire Pasuruan
Seni Budaya Kendal Tampil di Panggung Nasional TMII, Sedot Perhatian Pengunjung
SMK Muhammadiyah 3 Weleri Bentuk Siswa Disiplin dan Peduli Lingkungan
Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak
PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan
PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani
DPRD Kabupaten Pasuruan Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 10:14

Pemprov Jatim Raih Satya JKN Awards 2026, Khofifah Perkuat Perlindungan Pekerja

Senin, 2 November 2026 - 06:05

24 Tim dari 18 Kecamatan Ramaikan Bupati Cup Free Fire Pasuruan

Senin, 2 November 2026 - 01:29

Seni Budaya Kendal Tampil di Panggung Nasional TMII, Sedot Perhatian Pengunjung

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 23:43

SMK Muhammadiyah 3 Weleri Bentuk Siswa Disiplin dan Peduli Lingkungan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:38

Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak

Berita Terbaru