SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Keberhasilan Tim Kesenian Kyai Lodra meraih gelar Juara Umum Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI sekaligus membawa pulang Piala Bergilir Presiden Republik Indonesia mendapat apresiasi dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Penghargaan tersebut diserahkan di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pekan lalu.
Selain memberikan penghargaan kepada tim juara, Gubernur Khofifah juga menyerahkan apresiasi kepada 77 anggota Tim Kyai Lodra. Masing-masing menerima piagam penghargaan dan uang apresiasi sebesar Rp1 juta, sedangkan tim memperoleh piagam penghargaan serta uang pembinaan senilai Rp40 juta atas prestasi yang diraih dalam ajang nasional tersebut.
Menurut Khofifah, kemenangan Tim Kyai Lodra bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo, tetapi juga menjadi kebanggaan seluruh Jawa Timur. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa kesenian tradisional tetap mampu berkembang, beradaptasi, dan bersaing di tingkat nasional tanpa kehilangan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Keberhasilan Tim Kesenian Kyai Lodra menjadi bukti nyata kesenian tradisi Jawa Timur tetap memiliki daya tarik, relevansi, dan kualitas terbaiknya di tengah dinamika zaman. Tradisi bukan sesuatu yang statis, melainkan terus bertransformasi tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang menjadi ruhnya,” kata Khofifah.
Ia menjelaskan Reog Ponorogo bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi merupakan identitas budaya Jawa Timur yang sarat dengan nilai keberanian, ketangguhan, gotong royong, kreativitas, serta penghormatan terhadap warisan leluhur. Karena itu, pelestarian Reog harus terus diperkuat melalui pembinaan, regenerasi, dan pemberian ruang bagi generasi muda untuk terus berkarya.
Khofifah menilai perkembangan teknologi dan arus globalisasi justru menuntut adanya penguatan identitas budaya daerah. Menurutnya, budaya tradisional memiliki peran strategis sebagai pembentuk karakter bangsa sekaligus modal penting dalam pembangunan daerah.
“Pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui upaya menjaga warisan yang telah ada. Kita juga harus membuka ruang yang luas bagi kreativitas, inovasi, dan regenerasi agar budaya tetap relevan, dicintai, dan mampu menjawab tantangan zaman,” ujarnya.
Lebih jauh, Khofifah mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat ekosistem kebudayaan melalui kolaborasi antara pemerintah, seniman, akademisi, komunitas budaya, hingga masyarakat. Ia menilai budaya bukan hanya aset warisan, tetapi juga memiliki potensi besar untuk mendukung sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan pembangunan daerah.
“Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat ekosistem kebudayaan, memperluas ruang kreativitas bagi generasi muda, serta menjadikan budaya sebagai kekuatan karakter sekaligus kekuatan pembangunan daerah,” terangnya.
Khofifah berharap capaian Tim Kyai Lodra dapat menjadi inspirasi bagi pelaku seni budaya di Jawa Timur agar terus berinovasi tanpa meninggalkan akar tradisi. Menurutnya, keberlangsungan Reog Ponorogo bergantung pada kemampuan semua pihak menjaga proses regenerasi seniman dan mempertahankan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Mari kita jaga, lestarikan, dan wariskan semangat Reog kepada generasi penerus. Karena di dalamnya tersimpan jati diri, karakter, serta kebanggaan Jawa Timur yang akan terus menguatkan Indonesia,” jelasnya.
Ketua Tim Kesenian Kyai Lodra, Joko Winarko, menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, khususnya Gubernur Khofifah dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur. Menurutnya, pembinaan yang diberikan selama ini menjadi salah satu faktor penting di balik keberhasilan tim meraih prestasi nasional.
Ia menjelaskan, selain menjadi Juara Umum Festival Nasional Reog Ponorogo XXXI, Tim Kyai Lodra juga berhasil memborong penghargaan Penyaji Terbaik, Penata Musik Terbaik, dan Penata Tari Terbaik. Capaian tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh anggota tim serta dukungan berbagai pihak.
“Alhamdulillah kami berhasil meraih juara umum sekaligus memperoleh penghargaan penyaji terbaik, penata musik terbaik, dan penata tari terbaik. Prestasi ini merupakan buah dari kerja keras seluruh tim peserta serta dukungan dari berbagai pihak,” ungkapnya.
Joko berharap Reog Ponorogo terus berkembang sebagai ruang pengabdian bagi para seniman, budayawan, akademisi, dan generasi muda untuk menjaga sekaligus mengembangkan seni budaya Indonesia agar semakin dikenal luas. “Kami berharap semakin banyak generasi muda yang terlibat dalam pelestarian dan pengembangan Reog Ponorogo sehingga warisan budaya ini terus hidup dan berkembang,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar