BANYUWANGI, RadarBangsa.co.id — Di tengah rimbunnya kawasan Puncak Puthuk Giri, Kelurahan Giri, Banyuwangi, terdapat situs religi yang terus didatangi peziarah dari berbagai daerah. Makam Buyut Sayu Atika bukan hanya menyimpan jejak sejarah, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi warga melalui tumbuhnya wisata religi yang ramai sepanjang tahun.
Lokasi makam berada di kawasan perbukitan yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota. Namun justru suasana hening dan sakral itu menjadi alasan utama ribuan peziarah datang untuk berdoa, berziarah, serta mengenang sosok perempuan yang dihormati masyarakat setempat.
Bagi warga Banyuwangi, Makam Buyut Sayu Atika atau Eyang Putri Atika bukan sekadar tempat pemakaman. Situs ini telah berkembang menjadi destinasi wisata religi utama yang mempertemukan peziarah lokal maupun luar daerah, sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar.
Aktivitas peziarah mendorong perputaran ekonomi di kawasan sekitar. Mulai dari pedagang makanan, jasa parkir, penjual bunga tabur, hingga pelaku UMKM merasakan manfaat dari meningkatnya kunjungan. Kehadiran wisata religi dinilai menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga.
Akses menuju lokasi juga relatif memadai. Pengunjung dapat memilih beberapa jalur pendakian, salah satunya melalui rute di belakang Masjid Baitul Ma’wa, Jalan Raden Wijaya, Lingkungan Payaman, Giri. Kemudahan akses ini membuat situs tersebut tetap ramai dikunjungi berbagai kalangan.
Juru pelihara makam, Jum’ali, mengatakan sosok yang dimakamkan di bukit itu diyakini sebagai Dewi Sekardadu, ibu dari Sunan Giri, salah satu tokoh penting penyebaran Islam di Nusantara. “Beliau adalah ibunda dari Sunan Giri. Dari pernikahan Dewi Sekardadu dengan Syekh Maulana Ishak lahirlah tokoh besar yang dikenal sebagai anggota Wali Songo,” ujar Jum’ali, Jumat (17/5/2026).
Menurut cerita turun-temurun, Dewi Sekardadu merupakan putri Prabu Minak Sembuyu, penguasa Kerajaan Blambangan. Pada masa itu, wilayah kerajaan disebut dilanda pagebluk hebat yang menimbulkan banyak korban jiwa.
Dalam situasi tersebut, Dewi Sekardadu jatuh sakit. Sang raja lalu mengadakan sayembara bagi siapa pun yang mampu menyembuhkan putrinya dan menghentikan wabah. Syekh Maulana Ishak disebut berhasil memenuhi syarat tersebut hingga kemudian menikahi sang putri.
Namun konflik muncul ketika ajaran baru yang dibawa Maulana Ishak mendapat penolakan dari lingkungan kerajaan. Ketegangan itu membuat Maulana Ishak meninggalkan Blambangan, sementara Dewi Sekardadu yang tengah mengandung harus menghadapi ujian berat.
Kisah berlanjut tragis ketika bayi yang baru lahir dihanyutkan ke laut. Dewi Sekardadu berusaha mengejar dan menyelamatkan anaknya, namun akhirnya wafat di tengah ombak. Cerita pengorbanan itulah yang terus hidup dan menjadi alasan banyak orang datang berziarah.
Keberadaan situs ini menunjukkan bahwa pelestarian sejarah dan budaya memiliki dampak nyata bagi masyarakat. Selain menjaga identitas daerah, wisata religi juga memperkuat ekonomi lokal dan memperluas daya tarik Banyuwangi sebagai tujuan wisata nasional.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar