Menaker Ungkap Potensi 4,4 Juta Lapangan Kerja dari Ekonomi Sirkular

Minggu, 8 November 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyampaikan keynote speech dalam kegiatan Industrial Engineering Festival of Cirebon (IEFC) ITB 2026 di Kampus ITB Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (7/11/2026). (Dok. Foto: Ho/Kemnaker)

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyampaikan keynote speech dalam kegiatan Industrial Engineering Festival of Cirebon (IEFC) ITB 2026 di Kampus ITB Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (7/11/2026). (Dok. Foto: Ho/Kemnaker)

CIREBON, RadarBangsa.co.id – Transformasi menuju ekonomi sirkular berpotensi membuka tambahan 4,4 juta lapangan kerja hingga 2030. Peluang ini sekaligus diperkirakan memberikan kontribusi sebesar Rp638 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan, ekonomi sirkular membuka kesempatan bagi industri untuk mengubah material yang selama ini dianggap limbah menjadi produk bernilai ekonomi.

Hal tersebut disampaikan Yassierli saat memberikan keynote speech dalam Industrial Engineering Festival of Cirebon (IEFC) ITB 2026 di Kampus ITB Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (7/11/2026).

Menurutnya, ekonomi sirkular merupakan pendekatan industri yang menekan timbulan limbah melalui pemanfaatan kembali material, proses daur ulang, serta inovasi pengolahan bahan baku.

“Circular economy ini sebenarnya sudah lama kita dengar. Esensinya adalah bagaimana kita menghilangkan waste atau limbah melalui recycle, reuse, atau intervensi terhadap materialnya sehingga limbah semakin kecil dan semakin sedikit. Ini menjadi peluang,” ujar Yassierli.

Potensi tersebut, lanjutnya, tersebar di sejumlah sektor, mulai dari pangan, plastik kemasan, elektronik, konstruksi, hingga tekstil.

Yassierli mencontohkan industri pengolahan ikan yang dapat memanfaatkan bagian ikan seperti kepala, sirip, dan ekor untuk menghasilkan produk baru. Material yang sebelumnya dibuang ternyata masih bisa diolah menjadi tepung dan memiliki nilai jual.

“Orang membuang, tetapi kemudian Anda mengambil. Jadi, Anda tidak perlu bayar. Beberapa hari yang lalu saya datang ke sebuah pabrik pengolahan ikan. Kepala, sirip, ekor itu dibuang. Bagi mereka sampah. Tapi bagi orang lain ini ditampung dan kemudian dari situ bisa dibuat pabrik tepung. Banyak hal sebenarnya yang bisa dilakukan,” jelasnya.

Ia juga menyebut komponen kelapa sawit dan kelapa memiliki potensi pemanfaatan lebih luas. Karena itu, pengembangan ekonomi sirkular membutuhkan kolaborasi antara pelaku usaha, akademisi, dan tenaga ahli lintas disiplin ilmu.

Yassierli mendorong mahasiswa teknik industri untuk membangun kolaborasi dengan bidang keilmuan lain, seperti farmasi dan teknik kimia. Sinergi keahlian tersebut diperlukan agar material yang sebelumnya tidak termanfaatkan dapat diolah menjadi produk bernilai tambah sekaligus membuka peluang usaha.

Meski demikian, Menaker mengingatkan bahwa keberhasilan ekonomi sirkular tidak cukup diukur dari banyaknya lapangan kerja yang tercipta. Aspek kesejahteraan dan perlindungan pekerja juga harus menjadi perhatian.

Ia menegaskan, pekerjaan ramah lingkungan atau green jobs harus memenuhi prinsip pekerjaan layak (decent work), termasuk upah yang wajar, perlindungan sosial, serta jaminan keselamatan dan kesehatan kerja.

“Green jobs itu tidak hanya hijau, tetapi juga harus layak. Jangan sampai kita membangun ekosistem yang ramah lingkungan, tetapi pekerjaannya tidak terlindungi dan gajinya jauh di bawah upah minimum,” tegasnya.

Salah satu kelompok pekerja yang menjadi perhatian adalah pemilah sampah. Selama ini, banyak dari mereka bekerja di sektor informal, padahal memiliki kontribusi penting dalam rantai ekonomi sirkular.

Menurut Yassierli, pemerintah berupaya memperkuat pengakuan terhadap profesi pemilah sampah, meningkatkan keterampilan mereka agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah, serta memperluas perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.

Untuk memanfaatkan peluang tersebut, peningkatan kompetensi tenaga kerja menjadi kebutuhan penting. Yassierli menekankan perlunya program peningkatan keterampilan (upskilling) dan pelatihan ulang (reskilling) agar kemampuan pekerja sesuai dengan perubahan kebutuhan industri.

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menjalankan sejumlah program, di antaranya Pelatihan Vokasi Nasional dan Pemagangan Nasional (MagangHub).

“Peluangnya ada di depan mata. Jangan sampai orang Indonesia hanya menjadi pengamat. Kita harus menyiapkan tenaga kerja yang kompeten agar mampu mengambil peluang dari perubahan industri ini. Dan yang tidak kalah penting, kita berkewajiban melindungi mereka dari aspek kesejahteraan, keselamatan dan kesehatan kerja, dan jaminan sosial,” pungkasnya.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Senator Cantik Anggota DPD RI Ning Lia Ajak Generasi Muda Tak Apatis terhadap Politik dan Konstitusi
BSU 2026 Cair Rp900 Ribu Sekaligus, Ini Kriteria Penerimanya
Hadapi Era AI, Wamenaker Dorong Kampus dan Industri Perkuat Kompetensi Lulusan
Kemnaker Selaraskan Pelatihan Vokasi dengan Kebutuhan Industri
Cegah Abrasi, Jejak Bumi dan BP-GMN Tanam Mangrove di Pesisir Kendal
BSU 2026 Rp900 Ribu Dibayar Sekaligus, Ini Syarat Penerimanya
Menaker Yassierli Ungkap 3 Karakter SDM yang Dibutuhkan di Era AI
SMSI Siap Kawal Prabowo, Ini Sikap Organisasi Pers terhadap Pemerintah

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Minggu, 8 November 2026 - 13:39

Menaker Ungkap Potensi 4,4 Juta Lapangan Kerja dari Ekonomi Sirkular

Minggu, 8 November 2026 - 13:16

Senator Cantik Anggota DPD RI Ning Lia Ajak Generasi Muda Tak Apatis terhadap Politik dan Konstitusi

Sabtu, 7 November 2026 - 18:28

BSU 2026 Cair Rp900 Ribu Sekaligus, Ini Kriteria Penerimanya

Sabtu, 7 November 2026 - 17:33

Hadapi Era AI, Wamenaker Dorong Kampus dan Industri Perkuat Kompetensi Lulusan

Sabtu, 7 November 2026 - 17:27

Kemnaker Selaraskan Pelatihan Vokasi dengan Kebutuhan Industri

Berita Terbaru