LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Negeri Kabupaten Lamongan menggelar rapat koordinasi (Rakor) berkala di Aula SMP Negeri 5 Lamongan, Rabu (22/7/2026). Kegiatan ini menjadi forum penguatan literasi dan numerasi berbasis praktik sebagai bagian dari transformasi pembelajaran abad ke-21 di satuan pendidikan.
Sebanyak 45 dari 48 kepala SMP Negeri se-Kabupaten Lamongan hadir dalam rakor tersebut. Agenda utama diisi diseminasi penguatan literasi dan numerasi yang disampaikan Kepala SMPN 1 Paciran, Abdullah Taufiq, S.Pd., M.Pd., dengan menghadirkan Pengawas Pembina dan Korwas SMP sebagai narasumber.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan, Ebid Beny Putra, S.Pt., M.M., mewakili Kepala Dinas Pendidikan Lamongan yang berhalangan hadir, menegaskan pentingnya penguatan kompetensi dasar peserta didik di era pembelajaran modern.
“Literasi dan numerasi adalah kompetensi dasar abad ke-21. Namun, hasil asesmen nasional maupun internasional menunjukkan capaian siswa SMP masih perlu terus ditingkatkan,” ujar Ebid, Kamis (23/7/2026).
Abdullah Taufiq menjelaskan bahwa literasi dan numerasi tidak hanya menjadi tanggung jawab mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika, tetapi harus terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran. Menurutnya, implementasi di sekolah masih memerlukan penguatan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga asesmen.
“Penguatan literasi dan numerasi harus menjadi budaya belajar di sekolah. Guru dan kepala sekolah membutuhkan pendampingan yang sistemik agar praktik baik yang telah dilakukan mampu diterapkan secara konsisten dan berdampak pada kemampuan berpikir kritis murid,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa perubahan paradigma pembelajaran perlu dilakukan secara mendasar. Literasi tidak hanya diukur dari jumlah buku yang tersedia, tetapi juga kemampuan menghadirkan teks multimodal yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.
SMPN 1 Paciran menjadi salah satu contoh penerapan praktik baik melalui lingkungan literasi, pojok baca, pohon literasi, pameran karya, lesson study, Seliber, hingga asesmen CBT berbasis literasi dan numerasi.
“Literasi dan numerasi bersifat fleksibel. Implementasinya dapat dilakukan melalui intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, pembiasaan hingga asesmen dengan tetap memperhatikan karakteristik materi pembelajaran,” pungkas Abdullah.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar