SF (50), warga Kelurahan Sukodono, mendadak jadi perbincangan setelah aksi nekatnya terungkap. Dengan kondisi ekonomi yang porak-poranda, SF mengambil keputusan tak lazim, pergi sendiri ke Subang, Jawa Barat, hanya untuk bertemu dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi,atau yang akrab disapa Kang Dedi.
Yang membuat geleng-geleng kepala, SF menempuh jarak sekitar 350 kilometer dengan menumpang kendaraan dari satu mobil ke mobil lainnya, tanpa membawa bekal ataupun uang. Semua itu ia lakukan demi satu tujuan: meminta bantuan biaya pendidikan untuk anaknya yang akan masuk SMA.
“Betul, itu kejadian hampir sebulan yang lalu. Jadi ada warga Kendal yang nekat bertemu Gubernur Kang Dedi,” ujar Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kendal, Muntoha, saat dikonfirmasi pada Senin (21/7/2025).
Menurut Muntoha, SF sebelumnya memiliki usaha ternak lele. Namun, usaha itu gulung tikar dan meninggalkan beban hidup yang makin berat. Tabungan habis, pemasukan nihil, dan di saat yang sama, anaknya harus melanjutkan pendidikan.
“Ekonominya berantakan, usahanya bangkrut. Ditambah lagi anaknya mau masuk SMA,” lanjut Muntoha.
Dalam keputusasaan itulah nama Dedi Mulyadi muncul di benak SF. Sosok pemimpin Jawa Barat ini memang dikenal luas karena sering memberikan bantuan langsung kepada masyarakat kecil. Popularitasnya di media sosial sebagai pejabat yang ‘turun langsung’ tampaknya menyulut harapan SF.
“Kayaknya dia berpikir, kalau ada satu orang yang bisa bantu dia, ya cuma Kang Dedi,” tutur Muntoha.
Ajaibnya, Bertemu Langsung dengan Dedi Mulyadi
Tak seperti kebanyakan warga yang sulit menjangkau pejabat publik, SF justru berhasil menemui langsung Dedi Mulyadi di kediamannya di Subang. Ia bahkan tinggal selama lima hari penuh di rumah sang gubernur dan diberi fasilitas layaknya tamu.
“Segala kebutuhannya dicukupi selama menginap di sana. Dan akhirnya Kang Dedi memberi bantuan berupa uang untuk biaya pendidikan anaknya. Nominalnya saya tidak tahu pasti, karena SF hanya senyum-senyum waktu ditanya,” ungkap Muntoha.
Tak hanya itu, SF juga meminta diantar langsung pulang ke Kendal. Permintaan ini pun dikabulkan. Tim dari Dedi Mulyadi menghubungi Dinsos Kendal untuk proses penjemputan.
Yang tak kalah mencengangkan, SF ternyata pergi tanpa pamit kepada keluarga. Istri dan anaknya panik, bahkan sempat mengira ia menghilang. Hampir sebulan lamanya, mereka menanti kepulangan sang kepala keluarga dengan rasa cemas.
“Dari keluarga sempat ada laporan orang hilang. Kami juga sempat menerima kabar soal gelandangan di Stadion Kendal, tapi itu ternyata warga Bandung. Setelah kita cek lewat scan retina, baru diketahui identitasnya,” jelas Muntoha.
Proses penjemputan SF oleh tim Dinsos Kendal pun bertepatan dengan pengantaran gelandangan asal Bandung ke kampung halamannya. “Ya, ibaratnya seperti barter warga,” kelakar Muntoha.
Kisah SF tak hanya menyisakan haru, tetapi juga memantik rasa penasaran: apa yang membuat seorang pria begitu yakin pada Dedi Mulyadi? Mengapa sosok ini dianggap sebagai harapan terakhir oleh warga yang bahkan bukan dari provinsinya?
SF sendiri tak banyak bicara saat ditanya. Senyum menjadi jawaban atas hampir setiap pertanyaan.
“SF ini seperti hidup dalam tekanan. Waktu ditanya, dia hanya senyum-senyum saja,” ungkap Muntoha.
Kini, SF telah kembali ke keluarganya. Namun perjalanannya menjadi pengingat keras bahwa tekanan ekonomi bisa mendorong seseorang melakukan hal-hal yang tak terduga.
“Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang. Kalau ada kesulitan ekonomi, silakan datang ke Dinsos. Kami siap membantu,” tutup Muntoha.
Penulis : Rob
Editor : Arifin Zaenul


















Komentar