JOMBANG, RadarBangsa.co.id — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, tak hanya menjadi arena musyawarah dan silaturahmi warga Nahdliyin. Di luar arena, perhelatan tersebut ikut menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.
Warung makan, pedagang, pelaku UMKM hingga penyedia jasa ikut merasakan meningkatnya aktivitas selama ribuan peserta muktamar berdatangan. Bahkan, ketika malam semakin larut, sejumlah aktivitas ekonomi di kawasan Tambakberas tetap berlangsung hingga dini hari.
Salah satu kisah yang menarik perhatian Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama atau Ning Lia, datang dari Panji Perdana, penyandang tunanetra asal Kediri.
Panji bersama empat rekannya membuka jasa pijat sederhana di kawasan Muktamar NU. Mereka hanya menggelar tikar sebagai tempat bekerja, tetapi layanan tersebut dibuka selama 24 jam selama muktamar berlangsung.
Ketika sebagian peserta mulai beristirahat pada malam hari, Panji dan empat rekannya tetap bersiaga melayani peserta yang kelelahan dan membutuhkan jasa pijat.
“Dalam sehari bisa melayani sekitar belasan orang,” ujar Panji.
Dari jasa tersebut, Panji mengaku bersama empat rekannya memperoleh penghasilan hingga belasan juta rupiah selama Muktamar NU berlangsung.
Kisah itu membuat Ning Lia, yang juga Wakil Ketua PW Fatayat NU, melihat muktamar dari sisi berbeda. Menurutnya, keberadaan muktamar tidak hanya menghadirkan agenda organisasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar, termasuk penyandang disabilitas.
“Yang membuat saya terharu, muktamar ini ternyata bukan hanya menjadi ruang silaturahmi dan musyawarah bagi warga Nahdliyin. Di luar arena, ada masyarakat yang ikut merasakan berkahnya. Ada yang berdagang, membuka jasa, bahkan teman-teman penyandang disabilitas juga mampu menangkap peluang ekonomi ini,” kata Ning Lia.
Ia menyebut geliat ekonomi selama muktamar sebagai multiplier effect yang dirasakan masyarakat lokal.
“Ini yang saya sebut sebagai berkah muktamar. Ketika ribuan orang datang, tentu ada kebutuhan yang ikut tumbuh. Warung, UMKM, jasa transportasi, penginapan, sampai jasa pijat semuanya mendapatkan ruang. Masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menjadi bagian dari pergerakan ekonomi,” ujarnya.
Selain Panji dan rekan-rekannya, peningkatan aktivitas ekonomi juga dirasakan pelaku usaha di sekitar Pondok Pesantren Bahrul Ulum.
Ahmad Syafi’i, pemilik Warung Lele Legend di Gang IV Pesantren Bahrul Ulum, mengatakan pendapatan hariannya sebelum muktamar berada di kisaran Rp400 ribu hingga Rp500 ribu.
Selama muktamar berlangsung, pendapatan warungnya meningkat lebih dari 100 persen.
“Ini berkah Muktamar. Alhamdulillah, pendapatan warung naik lebih dari 100 persen,” ujar Syafi’i.
Geliat ekonomi tersebut semakin terlihat dengan disediakannya sekitar 1.300 tenant dalam UMKM Expo dan Bazar Muktamar. Para pelaku usaha mendapat ruang untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk kepada peserta dan pengunjung.
Ning Lia mengingatkan agar dampak ekonomi dari muktamar tidak serta-merta diterjemahkan menjadi angka total perputaran uang tanpa data transaksi yang terukur.
“Kalau bicara angka total perputaran ekonomi tentu harus berdasarkan data. Tetapi cerita-cerita dari warga ini menunjukkan bahwa ada manfaat ekonomi yang nyata dan dirasakan langsung,” tegasnya.
Menurut Ning Lia, pengalaman Panji dan para pelaku usaha di sekitar Tambakberas menunjukkan bahwa masyarakat lokal dapat mengambil manfaat dari agenda berskala besar.
“Yang penting bagaimana momentum seperti ini juga bisa menjadi ruang bagi masyarakat lokal untuk ikut tumbuh dan mendapatkan manfaat. Jangan sampai masyarakat sekitar hanya melihat keramaian, tetapi tidak ikut merasakan keberkahannya,” katanya.
Ia berharap manfaat ekonomi yang muncul selama Muktamar NU tidak berhenti setelah kegiatan berakhir.
“Semoga berkah Muktamar tidak berhenti ketika acara selesai. Harapannya, jejaring ekonomi yang terbentuk selama muktamar bisa terus berlanjut. Pelaku UMKM mendapatkan pelanggan baru, masyarakat mendapatkan pengalaman, dan warga sekitar memperoleh manfaat yang berkelanjutan,” imbuhnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar