SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membuka Pameran Kiswah Syekh Abdul Qadir Al Jailani di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Rabu (11/3) malam. Pameran ini menampilkan berbagai artefak bersejarah dan manuskrip klasik yang mencerminkan warisan keilmuan serta spiritualitas para ulama.
Salah satu koleksi utama yang menarik perhatian pengunjung adalah kiswah peninggalan Syekh Abdul Qadir Al Jailani, yakni kain penutup makam ulama besar tersebut di Baghdad, Irak. Kiswah ini secara berkala diganti setiap tahun sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh tasawuf yang memiliki pengaruh besar di dunia Islam.
Khofifah menjelaskan, kiswah yang dipamerkan di Surabaya memiliki nilai historis khusus. Kain tersebut diberikan langsung oleh cicit ke-33 Syekh Abdul Qadir Al Jailani, Syekh Afeefuddin Al Jailani, saat Khofifah berziarah ke makam ulama tersebut di Baghdad.
“Ini bukan sekadar benda bersejarah, tetapi juga pengingat tentang pentingnya menjaga warisan keilmuan, akhlak, dan spiritualitas yang diwariskan para ulama besar,” ujar Khofifah dalam sambutannya.
Selain kiswah, pameran ini juga menghadirkan dokumentasi perjalanan Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dari masa ke masa. Arsip foto yang dipamerkan menunjukkan perkembangan masjid yang kini menjadi salah satu ikon religius di Jawa Timur sekaligus pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat.
Pengunjung juga dapat melihat sejumlah manuskrip kitab klasik yang menjadi rujukan pembelajaran di pesantren, seperti Kitab Tashrif Lughati, Kitab Amil, Kitab Fiqh, hingga Kitab Bahjatul Ulum. Koleksi ini menggambarkan kekayaan khazanah intelektual Islam yang diwariskan lintas generasi.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah menyampaikan bahwa Jawa Timur tengah serius melakukan pelestarian turats atau warisan keilmuan klasik. Hingga saat ini, sekitar 400 manuskrip ulama Nusantara telah diteliti, sementara 200 manuskrip lainnya telah didigitalisasi untuk menjaga kelestarian dan memudahkan akses generasi mendatang.
“Sebanyak 48 manuskrip sudah dirangkum dalam bentuk ikhtisar dan dibukukan menjadi dua kitab. Bahkan kitab tersebut sudah saya sampaikan langsung kepada Grand Imam Al-Azhar,” kata Khofifah.
Pameran ini juga menampilkan sejarah dan keteladanan ulama Jawa Timur yang telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, hingga Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kehadiran tokoh-tokoh tersebut menjadi pengingat kontribusi ulama dalam perjalanan bangsa.
Khofifah menegaskan, masjid harus terus berperan sebagai pusat peradaban, pendidikan, dan pembinaan umat. Ia berharap Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dapat semakin memperkuat fungsinya sebagai ruang spiritual sekaligus pusat edukasi bagi masyarakat.
“Masjid harus menjadi ruang belajar dan kolaborasi yang ramah bagi generasi muda agar nilai-nilai kebaikan terus tumbuh di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar