LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Kebakaran hebat melanda kawasan Pasar Agrobis, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Sabtu (12/7/2026) sekitar pukul 20.30 WIB. Sedikitnya 10 stan toko hangus dilalap api dalam peristiwa tersebut. Tidak ada korban jiwa, namun kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp1 miliar.
Api pertama kali muncul dari Stan B01 yang menjual berbagai jenis plastik dan styrofoam. Kobaran api kemudian dengan cepat merambat ke stan lain karena material yang mudah terbakar, sehingga petugas harus mengerahkan armada dari sejumlah daerah untuk mengendalikan kebakaran.
Kapolsek Babat, Kompol Chakim Amrulloh, mengatakan hasil keterangan saksi menunjukkan api pertama kali terlihat berasal dari bagian dalam Stan B01 yang berada di Blok B Nomor 01.
“Api terlihat menyala dari bagian dalam dan atas stan, kemudian dengan cepat menjalar ke luar hingga membakar tumpukan styrofoam di depan toko,” kata Kompol Chakim Amrulloh.
Menurutnya, saksi yang berada di lokasi sempat berteriak meminta pertolongan warga. Namun, kobaran api sudah terlanjur membesar sehingga tidak memungkinkan dipadamkan menggunakan peralatan seadanya.
“Material plastik dan styrofoam yang mudah terbakar membuat api cepat membesar,” jelasnya.
Kompol Chakim mengungkapkan, dua saksi yang pertama kali mengetahui kejadian tersebut adalah Anton (38) dan Didik (42), warga Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban. Keduanya segera meminta bantuan warga sekitar sekaligus menghubungi petugas pemadam kebakaran.
Petugas pemadam kebakaran gabungan kemudian diterjunkan dengan mengerahkan 11 unit mobil pemadam dan satu unit kendaraan suplai air. Armada berasal dari Damkar Ngimbang dua unit, Lamongan tiga unit, Babat satu unit, Paciran satu unit, Bojonegoro satu unit, Tuban dua unit, Yon TP satu unit, serta dua unit kendaraan suplai air dari BPBD.
Petugas berjibaku memadamkan kobaran api sekaligus melakukan pembasahan di lokasi untuk mencegah munculnya titik api baru. Hingga penanganan selesai, sedikitnya 10 stan dilaporkan terdampak kebakaran.
Sementara itu, pemilik stan, Chaerul Fitrianto, mengaku terakhir meninggalkan tokonya pada Minggu dini hari sekitar pukul 01.00 WIB setelah memastikan seluruh aliran listrik dalam kondisi mati.
“Saya terakhir meninggalkan toko sekitar pukul 01.00 WIB. Saat itu seluruh aliran listrik sudah saya matikan,” ungkap Chaerul.
Ia menjelaskan bahwa setiap hari Minggu tokonya memang tidak beroperasi. Barang yang tersimpan di dalam stan berupa plastik dan styrofoam miliknya maupun barang titipan dari pihak lain.
“Di dalam stan tidak ada barang elektronik. Isinya hanya plastik dan styrofoam,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar