BANYUWANGI, RadarBangsa.co.id – Pasar Banyuwangi kini menawarkan pengalaman lebih dari sekadar berbelanja. Setelah direvitalisasi Kementerian Pekerjaan Umum dan mulai beroperasi pada 1 Oktober 2026, pasar ini menjadi ruang berkumpul warga sekaligus destinasi kuliner dan wisata sejarah di pusat kota.
Sejak dini hari, aktivitas perdagangan berlangsung dengan masyarakat yang membeli berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari sayur-mayur, daging hingga ikan. Namun, suasana kawasan berubah ketika sore hingga malam tiba. Warga datang untuk menikmati kuliner, bersantai, atau mengabadikan suasana bangunan pasar yang tampil lebih estetik.
Perubahan tersebut terlihat dari perpaduan arsitektur khas rumah Osing dengan pencahayaan hangat di sejumlah sudut bangunan. Trotoar yang luas di bagian depan, dilengkapi deretan kursi, juga memberi ruang bagi masyarakat untuk menikmati suasana pusat kota.
Reta, warga Kelurahan Sobo, merasakan suasana berbeda ketika menghabiskan libur akhir pekan bersama suaminya pada Minggu (11/10/2026) malam.
“Suasananya hangat dan dirancang begitu nyaman. Bibes-nya seperti berwisata di luar kota. Kita di sini menikmati sajian ketan dan minuman hangat, suami juga bisa santai ngopi,” tutur Reta.
Selain kuliner, lantai dua pasar menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung. Pada siang hingga sore hari, kawasan ini menawarkan pemandangan kota dengan latar Pegunungan Ijen di sisi barat. Sementara malam hari, balkon lantai dua menjadi tempat untuk menikmati suasana kota dan lalu lintas kendaraan di bawah cahaya lampu.
Daya tarik pasar ini juga berkaitan dengan nilai sejarah bangunannya. Gerbang depan Pasar Banyuwangi merupakan bangunan bersejarah yang bentuknya tetap dipertahankan setelah revitalisasi.
Lokasinya juga berdekatan dengan Asrama Inggrisan, kompleks perkantoran telegraf yang pernah menjadi bagian dari jaringan komunikasi internasional. Pada 1871, kabel telegraf bawah laut menghubungkan Eropa dengan Australia, dengan Banyuwangi menjadi salah satu titik penghubungnya.
Perpaduan fungsi ekonomi, ruang publik, dan warisan sejarah itu turut menarik perhatian pengunjung dari luar daerah. Neneng, warga Surabaya, mengaku mengetahui Pasar Banyuwangi melalui video di media sosial sebelum memutuskan datang langsung.
“Awalnya tahu dari medsos karena tempatnya kelihatan sangat estetis. Setelah datang sendiri, ternyata memang asyik,” kata Neneng.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, wajah baru pasar tersebut diharapkan memperluas peran pasar rakyat sebagai pusat kegiatan ekonomi sekaligus ruang interaksi sosial masyarakat.
“Dengan tetap menghidupkan kegiatan perdagangan, pasar ini juga menjadi alternatif destinasi heritage yang memperkaya pengalaman warga maupun wisatawan saat berkunjung ke Banyuwangi,” kata Ipuk.
Dengan demikian, Pasar Banyuwangi tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai tempat perdagangan sekaligus menawarkan ruang bagi masyarakat untuk menikmati kuliner, suasana kota, arsitektur, dan jejak sejarah Banyuwangi.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar