PASURUAN, RadarBangsa.co.id – Kabupaten Pasuruan menegaskan posisinya sebagai sentra susu segar terbesar kedua di Jawa Timur. Salah satu penopang utama capaian tersebut berada di Kecamatan Puspo, melalui peran Koperasi Unit Desa (KUD) Sembada yang mengelola produksi susu sapi perah dari ribuan peternak lokal.
Ketua KUD Sembada, Purwo Budi Setyawan, menjelaskan bahwa koperasi saat ini mampu memproduksi sekitar 30 ton susu segar setiap hari. Produksi tersebut berasal dari 2.700 peternak yang tersebar di tujuh desa di Kecamatan Puspo, yakni Puspo, Jimbaran, Keduwung, Kemiri, Palangsari, dan Janjang Wulung.
“Kontributor terbesar berasal dari Desa Jimbaran dan Janjang Wulung. Dua wilayah ini menjadi tulang punggung suplai harian kami,” ujar Purwo Budi Setyawan saat ditemui, Jumat (9/1/2026).
Secara teknis, susu hasil perahan dikumpulkan melalui 12 pos penampungan sementara. Dari titik ini, susu langsung menjalani proses pendinginan dengan standar suhu tertentu sebelum dikirim ke industri pengolahan susu (IPS) maupun didistribusikan untuk konsumsi masyarakat.
“Saat ini seluruh pengiriman industri kami suplai ke Ultra Jaya di Bandung dan Indolakto,” kata Setyawan.
Selain memenuhi kebutuhan industri nasional, KUD Sembada juga memastikan pasokan susu segar bagi masyarakat sekitar tetap terjaga. Menurut Setyawan, pasar lokal menjadi prioritas yang tidak boleh diabaikan.
“Kebutuhan warga lokal pasti kami perhatikan. Bahkan distribusi kami menjangkau pasar lokal hingga luar wilayah Pasuruan,” ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh susu yang dikelola telah memenuhi standar operasional prosedur. Kualitas total solid tercatat di atas 12 persen, sementara Total Plate Count (TPC) atau jumlah bakteri berada di bawah satu juta per 10 mililiter susu.
“Kami tegaskan kepada peternak, yang kami beli bukan sekadar susu, tapi kualitas. Semua harus sesuai SOP,” ucapnya.
Ke depan, KUD Sembada menargetkan peningkatan pasokan ke industri hingga 40 ton per hari. Untuk mencapai target tersebut, koperasi menempuh strategi peningkatan kualitas pakan dan penambahan populasi sapi perah.
“Kami bekerja sama dengan Bank Jatim melalui pembiayaan Rp 18 miliar untuk infestasi hingga 700 ekor sapi. Kami juga menerapkan sistem gado dengan peternak, di mana anak sapi pertama menjadi milik koperasi dan anak kedua milik peternak,” tutur Setyawan.
Langkah ini diharapkan memperkuat posisi Pasuruan sebagai daerah penyangga industri susu nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak sapi perah secara berkelanjutan.
Penulis : Ahmad
Editor : Zainul Arifin








