Ribuan Kasus TB Masih Ditemukan, Sidoarjo Perkuat Deteksi Dini hingga Tingkat Desa

Jumat, 22 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SIDOARJO, RadarBangsa.co.id-Pemerintah Kabupaten Sidoarjo tak ingin menunggu hingga tahun 2030 untuk menghapus tuberkulosis (TB). Target besar langsung dipasang: eliminasi TB harus tercapai pada 2028.

Untuk mengejar target ambisius tersebut, Pemkab Sidoarjo mulai menggerakkan seluruh kekuatan hingga level paling bawah. Tim Penggerak PKK Kabupaten Sidoarjo kini didorong menjadi ujung tombak perang melawan penyakit menular mematikan itu melalui deteksi dini, pendampingan pasien hingga edukasi lingkungan sehat.

Langkah serius itu mengemuka dalam Sosialisasi Peran PKK dalam Penanggulangan TBC Berbasis Lingkungan di Pendopo Delta Wibawa, Kamis (21/5/2026).

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sidoarjo, Sriatun Subandi menegaskan, PKK memiliki posisi strategis karena langsung bersentuhan dengan masyarakat hingga tingkat rumah tangga.

“PKK fokus pada deteksi dini, pendampingan pasien, dan promosi lingkungan sehat untuk memutus rantai penularan tuberkulosis,” tegasnya.

Menurut Sriatun, perang melawan TB tidak cukup hanya mengandalkan rumah sakit atau tenaga medis. Peran ibu rumah tangga justru menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan sehat bagi keluarga.

Ia bahkan menyebut ibu sebagai “insinyur rumah tangga” yang menentukan kualitas kesehatan keluarga melalui pengaturan ventilasi, pencahayaan hingga kebersihan rumah.

“Ibu di rumah adalah perancang utama kesejahteraan keluarga. Ibu punya kekuatan mengatur tata letak dan ventilasi rumah agar menjadi hunian sehat dan nyaman,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Sriatun juga menggencarkan gerakan “Pentasuling” atau pepe bantal, kasur dan guling. Gerakan sederhana ini dinilai efektif mencegah berkembangnya kuman penyakit di lingkungan rumah.

“Kader harus mengedukasi masyarakat agar rutin menjemur perlengkapan tidur supaya rumah tetap sehat,” ujarnya.

Tak hanya soal lingkungan, Sriatun juga menyoroti stigma terhadap pasien TB yang masih sering terjadi di masyarakat. Banyak penderita TB merasa minder, takut dijauhi hingga enggan berobat karena khawatir dikucilkan.

“Jangan takut kepada pasien TB dan jangan sampai dikucilkan. Mereka butuh dukungan agar rutin minum obat, kontrol dan menjaga pola makan sehat,” tandasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya disiplin penggunaan masker bagi pasien TB untuk mencegah penularan kepada orang lain.

Ancaman TB sendiri bukan perkara sepele. Dokter spesialis paru, dr. Bagus Wicaksono mengungkapkan, satu pasien TB aktif bisa menularkan penyakit kepada 15 hingga 20 orang apabila tidak segera ditangani.

“TB sangat mudah menular jika penderita tidak segera diobati,” jelasnya.

Ia meminta masyarakat lebih waspada terhadap gejala TB seperti batuk lebih dari dua minggu, batuk darah, sesak napas dan nyeri dada. Jika mengalami gejala tersebut, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

“TB bisa sembuh jika ditemukan lebih awal dan pasien disiplin menjalani pengobatan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI), Khusnul Khotimah menegaskan lingkungan rumah menjadi faktor penting dalam penularan TB.

Ventilasi buruk, rumah lembab, pencahayaan minim hingga kepadatan penghuni disebut menjadi pemicu cepatnya penyebaran penyakit tersebut.

“Rumah sehat harus memiliki ventilasi cukup dan kelembaban ideal sekitar 60 persen,” ujarnya.
Ia menegaskan perang melawan TB harus dilakukan bersama-sama, mulai tenaga kesehatan, kader hingga masyarakat.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo menunjukkan persoalan TB masih menjadi ancaman serius. Saat ini terdapat sekitar 5.800 kasus TB di Sidoarjo dengan capaian penanganan sekitar 91 persen atau sekitar 5.700 kasus telah tertangani.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sidoarjo, Djoko Setijono mengatakan, Pemkab kini memperkuat layanan pengobatan TB di 170 fasilitas kesehatan sekaligus menggencarkan screening massal untuk menemukan kasus suspect TB lebih cepat.

Tak hanya itu, pembentukan Desa Siaga TB juga terus diperluas hingga tingkat desa dan kecamatan melalui kolaborasi lintas sektor.

Dengan langkah agresif tersebut, Pemkab Sidoarjo optimistis target eliminasi TB tahun 2028 bukan sekadar slogan, melainkan target nyata yang bisa diwujudkan bersama masyarakat.

Penulis : Tom

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi
Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter
Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit
Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan
Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember
Hari Jadi Pasuruan ke-1097, RSUD Bangil Gelar Baksos Medis Gratis untuk Puluhan Warga
Tiga Kali Raih Diamond Status, RSUD HMR Mataram Selamatkan 234 Pasien Stroke
95 Lukisan SBY Dipamerkan di Surabaya, Khofifah Soroti Karya tentang Tsunami Aceh
Tag :

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 20:40

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi

Rabu, 16 September 2026 - 20:16

Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter

Rabu, 16 September 2026 - 20:05

Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit

Rabu, 16 September 2026 - 19:58

Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan

Rabu, 16 September 2026 - 18:45

Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember

Berita Terbaru