MEDAN, RadarBangsa.co.id – Inovasi pengelolaan limbah rumah sakit yang dikembangkan RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram berhasil menorehkan prestasi di tingkat nasional. Melalui program GEMPITA (Gerakan Pengelolaan Sampah Terintegrasi Menuju Green Hospital), rumah sakit milik Pemerintah Kota Mataram itu meraih Juara 3 Lomba Karya Ilmiah Inovasi LAM KPRS Award 2026 yang diumumkan pada puncak penghargaan di Grand Mercure Hotel Medan, Jumat (26/6/2026).
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas inovasi pengelolaan limbah yang tidak hanya mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien, tetapi juga memperkuat komitmen rumah sakit terhadap pelestarian lingkungan melalui konsep Green Hospital.
Keberhasilan itu diraih setelah RSUD H. Moh. Ruslan mampu bersaing dengan berbagai rumah sakit dari seluruh Indonesia dan masuk dalam jajaran 10 finalis terbaik pada ajang yang diselenggarakan Lembaga Akreditasi Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit (LAM KPRS).
Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.OG., Subsp.F.E.R., M.Kes., M.Sc., mengatakan penghargaan tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh civitas hospitalia yang terus mendorong lahirnya inovasi di lingkungan rumah sakit.
Menurutnya, GEMPITA lahir dari kebutuhan untuk menjawab persoalan pengelolaan limbah yang semakin kompleks. Mulai dari tingginya volume limbah B3 medis, pencampuran limbah infeksius dan noninfeksius, belum optimalnya pemanfaatan limbah noninfeksius, hingga sistem pemantauan yang sebelumnya masih dilakukan secara manual.
Ia menjelaskan, inovasi tersebut dikembangkan melalui pendekatan terintegrasi dengan menerapkan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle. Sistem itu dipadukan dengan digitalisasi pelaporan, pemanfaatan limbah noninfeksius, pengolahan sampah organik, serta pemberdayaan masyarakat untuk mendukung konsep Green Hospital yang berkelanjutan.
Dalam implementasinya, GEMPITA menghadirkan berbagai terobosan. Limbah plabot infus noninfeksius dimanfaatkan melalui kerja sama dengan pihak ketiga untuk didaur ulang menjadi produk bernilai guna, sedangkan jerigen HD bekas cairan hemodialisa diolah menjadi safety box, media tanam produktif, hingga wadah pupuk cair.
Pengelolaan sampah organik juga dilakukan menggunakan teknologi BIOPOT yang menghasilkan kompos dan pupuk organik. Di sisi digital, rumah sakit mengembangkan sistem SI WALET untuk monitoring dan pelaporan pengelolaan limbah secara real time serta aplikasi SEHATI guna memantau kepatuhan pemilahan sampah di setiap unit pelayanan.
Implementasi GEMPITA memberikan hasil yang terukur. RSUD H. Moh. Ruslan mencatat penurunan volume limbah B3 medis sebesar 25 persen, pengurangan sampah organik menuju tempat pemrosesan akhir hingga 40 persen, serta peningkatan kepatuhan pemilahan limbah menjadi lebih dari 80 persen.
Program tersebut juga menghasilkan efisiensi biaya pengelolaan limbah mencapai Rp1.043.735.000. Selain mengurangi beban operasional, sistem yang diterapkan dinilai mampu menciptakan tata kelola limbah yang lebih efektif, transparan, dan berkelanjutan.
Tidak berhenti di lingkungan rumah sakit, GEMPITA juga melibatkan masyarakat melalui program Tukar Sampah Anorganik dengan Kompos. Melalui program itu, warga dapat menukarkan sampah anorganik yang telah dipilah dengan kompos hasil pengolahan sampah organik rumah sakit.
Keberhasilan inovasi tersebut menarik perhatian sejumlah rumah sakit di berbagai daerah untuk melakukan studi tiru. Beberapa di antaranya berasal dari Kabupaten Sumbawa, Lombok Barat, Lombok Utara, hingga sejumlah rumah sakit swasta di luar Nusa Tenggara Barat.
“Prestasi ini bukan hanya tentang meraih penghargaan, tetapi menjadi bukti bahwa rumah sakit dapat memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas sekaligus bertanggung jawab terhadap lingkungan. Melalui GEMPITA, kami berupaya menghadirkan sistem pengelolaan limbah yang tidak hanya aman dan sesuai regulasi, tetapi juga memberikan nilai tambah melalui pemanfaatan kembali limbah dan pengurangan dampak terhadap lingkungan,” kata Eka Nurhayati.
Menurutnya, konsep Green Hospital kini menjadi kebutuhan bagi rumah sakit modern dalam mendukung pembangunan kesehatan yang berkelanjutan. Pengelolaan limbah, lanjutnya, tidak lagi dipandang sebagai beban semata, tetapi dapat diolah menjadi sumber manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan.
“Kami ingin membangun budaya bahwa limbah bukan semata-mata sesuatu yang harus dibuang, tetapi dapat dikelola secara bijak, dimanfaatkan kembali, bahkan memberikan manfaat ekonomi dan sosial. GEMPITA menjadi salah satu langkah nyata RSUD H. Moh. Ruslan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan serta menjaga lingkungan untuk generasi mendatang,” pungkasnya.
Pada ajang LAM KPRS Award 2026, Juara 1 diraih inovasi Transformasi Keperawatan RSCM: Efisiensi Biaya dan Pengelolaan SDM Melalui Kebijakan Sentralisasi dari RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Sementara Juara 2 diraih inovasi Pallia Kids ID: Alur Skrining Kebutuhan Perawatan Paliatif pada Anak dari RSUD Dr. Wahidin Sudiro Husodo Makassar.
Prestasi sebagai Juara 3 Nasional semakin memperkuat posisi RSUD H. Moh. Ruslan sebagai rumah sakit yang mengembangkan inovasi berbasis keberlanjutan. GEMPITA diharapkan menjadi model pengelolaan limbah rumah sakit yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan bagi fasilitas kesehatan di berbagai daerah di Indonesia.
Penulis : Aini
Editor : Zainul Arifin


















Komentar