SEMARANG, RadarBangsa.co.id – Jalan Dr. Cipto di kawasan TL Sidodadi, Semarang Timur, mendadak dipadati petugas berseragam pada Sabtu dini hari (19/7/2025). Dalam gelaran Operasi Patuh Candi 2025, aparat gabungan dari Polrestabes Semarang, TNI, hingga instansi pendukung lainnya turun langsung ke jalan untuk menertibkan pengendara yang abai terhadap aturan lalu lintas.
“Kami sengaja laksanakan operasi di waktu rawan, agar bisa langsung menyasar pelanggaran yang sering terjadi saat malam hingga dini hari,” ujar Kompol Sarmina, S.H., M.H., yang memimpin langsung kegiatan tersebut.
Operasi dimulai sejak pukul 00.30 dan berlangsung hingga sekitar pukul 02.40 WIB. Petugas memeriksa setiap kendaraan yang melintas, khususnya mereka yang melanggar aturan krusial seperti tidak memakai helm SNI, berboncengan lebih dari dua orang, mengemudi tanpa SIM, hingga penggunaan knalpot brong.
“Fokus kami adalah mengingatkan pengendara agar sadar bahwa pelanggaran sekecil apa pun bisa berdampak besar, baik bagi keselamatan pribadi maupun orang lain,” kata Iptu Andi S., Kapolsek Semarang Timur yang ikut mendampingi jalannya razia.
Dalam operasi gabungan itu, dikerahkan 51 personel lintas satuan. Mereka terdiri dari anggota Satlantas, tim Patroli Perintis Presisi, Koramil 03/Semarang Timur, serta unit Provost, Reskrim, dan intelijen dari Polrestabes maupun Polsek.
“Kehadiran gabungan unsur TNI dan kepolisian ini untuk memperkuat sinergitas penegakan hukum di lapangan. Kami ingin masyarakat merasa aman sekaligus tertib,” jelas salah satu petugas dari unit Patroli Presisi.
Hasilnya, sebanyak 46 pelanggaran ditindak malam itu. Petugas mengamankan 22 STNK, 14 SIM, serta 10 unit sepeda motor sebagai barang bukti. Selain itu, lima pelanggar lainnya diberi teguran simpatik karena melakukan pelanggaran ringan.
“Kami tak semata-mata menindak, tapi juga edukatif. Ada yang hanya lupa membawa surat kendaraan, itu kami beri teguran, bukan tilang,” ungkap salah satu petugas Satlantas yang bertugas di lokasi.
Kasi Humas Polrestabes Semarang, Kompol Agung Setiyo Budi, S.E., menegaskan bahwa operasi ini bukan hanya upaya represif, tetapi bagian dari kampanye budaya tertib lalu lintas di tengah masyarakat. Terlebih, kawasan ini sering digunakan sebagai ajang balap liar.
“Tujuan akhirnya adalah menciptakan jalan yang aman dan nyaman bagi semua. Kami ingin pengendara paham bahwa disiplin itu bukan karena takut ditilang, tapi karena sadar pentingnya keselamatan,” tegas Kompol Agung.
Lainnya:
- DPRD Musi Rawas Gaspol 4 Raperda Krusial Dibahas, Dari Tata Ruang hingga Ketertiban Daerah
- Banjir Sidoarjo Tak Kunjung Usai, Pemkab Gandeng BNPB Gaspol Rp209 M
- Sidoarjo Hapus Denda Pajak 2026, Warga Dikejar Deadline Oktober
Penulis : Sapta
Editor : Zainul Arifin








