JAKARTA, RadarBangsa.co.id — Anggota DPD RI Lia Istifhama melakukan kunjungan kerja ke Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI), Jakarta, untuk membahas penguatan ekosistem kepemudaan nasional, pengembangan program magang bersertifikat, serta perlindungan atlet pascakarier. Dalam pertemuan tersebut, Lia berdialog langsung dengan Deputi Bidang Pelayanan Kepemudaan Kemenpora, Drs. Yohan, M.Si., membicarakan tantangan dan arah kebijakan kepemudaan ke depan.
Pertemuan ini menyoroti urgensi kehadiran negara dalam menjamin keberlanjutan masa depan atlet setelah tidak lagi aktif bertanding. Lia Istifhama menilai, perhatian terhadap atlet tidak boleh berhenti pada fase prestasi, tetapi harus berlanjut hingga masa transisi dan pascakarier agar para atlet tetap memperoleh kesejahteraan yang layak.
“Usia atlet itu terbatas. Setelah mereka selesai berprestasi, negara tidak boleh meninggalkan begitu saja,” ujar Lia.
Menurut Lia, atlet merupakan duta bangsa yang telah mengharumkan nama Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. Oleh karena itu, negara memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional untuk memastikan perlindungan yang manusiawi, termasuk akses pendidikan lanjutan, peluang kerja, serta skema jaminan hari tua atau pensiun. Ia mengapresiasi Kemenpora yang telah menginisiasi komunikasi lintas kementerian terkait wacana beasiswa dan perlindungan sosial bagi atlet.
Selain isu atlet, dialog juga menekankan pentingnya pembinaan karakter pemuda sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia. Lia menyoroti tantangan generasi muda di tengah disrupsi digital, derasnya arus informasi, serta potensi tumbuhnya sikap apatis jika tidak diimbangi dengan nilai patriotisme, empati sosial, dan ketangguhan karakter.
Dalam paparannya, Kemenpora menyampaikan bahwa tantangan kepemudaan saat ini diperberat oleh tingginya proporsi pemuda dalam kategori NEET (Not in Employment, Education, and Training) yang mencapai 23,78 persen. Angka ini menunjukkan masih besarnya kelompok pemuda yang belum terserap dalam dunia pendidikan, pelatihan, maupun kerja, sehingga membutuhkan intervensi kebijakan yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Merespons kondisi tersebut, Lia mendukung strategi Kemenpora dalam mendorong program pelatihan dan pemagangan bersertifikat. Menurutnya, sertifikasi kompetensi menjadi instrumen penting untuk menjembatani kebutuhan dunia kerja dengan kapasitas pemuda.
“Hari ini ijazah saja tidak cukup. Pemuda perlu keterampilan dan pengalaman yang diakui, dan itu dibuktikan dengan sertifikat,” kata Lia.
Kemenpora menegaskan bahwa program pelatihan bersertifikat tidak berhenti pada penerbitan dokumen, tetapi diarahkan pada penguatan kompetensi riil serta dukungan keberlanjutan, termasuk pengembangan ekosistem kewirausahaan. Berbagai pelatihan telah dilaksanakan di sejumlah daerah, termasuk Jawa Timur pada Desember lalu, dengan melibatkan peserta kepemudaan lintas latar belakang.
Pertemuan ini juga membahas inovasi desain program kepemudaan agar menjangkau lebih luas dari total sekitar 66,83 juta pemuda Indonesia. Salah satu gagasan yang mengemuka adalah pengembangan youth camp dan pertukaran pemuda secara berjenjang, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional dan internasional.
Selain itu, dibahas pula rencana penempatan pemuda magang di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) daerah. Program ini diharapkan memperkuat literasi kepemudaan, mendukung komunikasi publik program pemerintah, sekaligus mendorong keterlibatan aktif pemuda dalam layanan kepemudaan.
“Ketika pemuda dilibatkan secara nyata, akan tumbuh rasa bangga dan kepedulian terhadap program kepemudaan,” ujar Lia.
Sementara itu, Deputi Bidang Pelayanan Kepemudaan Kemenpora Yohan menegaskan komitmen Kemenpora untuk terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dengan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, serta mitra strategis lainnya. Sinergi ini dinilai penting agar kebijakan kepemudaan berjalan adaptif, inklusif, dan berorientasi masa depan.
Kunjungan kerja ini menegaskan sinergi antara DPD RI dan Kemenpora RI dalam membangun generasi muda Indonesia yang berkarakter, kompeten, produktif, dan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








