JEMBER, RadarBangsa.co.id – Target serapan pangan di Jember diproyeksikan tuntas lebih cepat. Bulog Cabang Jember menyatakan capaian penyerapan gabah sudah menembus 83 persen dari target tahunan, membuka peluang target 100 persen tercapai sebelum Juni 2026.
Capaian ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Jember yang digelar di Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Kamis (16/4/2026). Forum tersebut menjadi momentum penting memperkuat sinergi petani, pemerintah, dan BUMN pangan dalam menjaga pasokan beras serta stabilitas harga di masyarakat.
Hadir dalam pertemuan itu Kepala Bulog Jember, perwakilan PT Pupuk Indonesia, pengurus KTNA kecamatan, kelompok tani, penyuluh pertanian DTPH Jember, Pemuda Tani, hingga Forum Kios. Kehadiran lintas sektor dinilai penting karena ketahanan pangan tak hanya soal produksi, tetapi juga distribusi dan perlindungan petani.
Kepala Bulog Jember Moch. Ade Saputra mengungkapkan, hingga pertengahan April pihaknya telah menyerap setara 70.000 ton beras. Angka tersebut hampir menyentuh target tahunan sebesar 84.000 ton.
“Capaian saat ini sudah 83 persen. Dengan tren panen dan kerja sama yang terus berjalan, kami optimistis sebelum Juni target 100 persen bisa terealisasi,” ujar Ade.
Menurutnya, keberhasilan ini ditopang strategi “jemput pangan”, yakni Bulog aktif turun ke lapangan menjemput hasil panen petani bersama kelompok tani dan KTNA. Langkah ini mempercepat penyerapan sekaligus memberi kepastian pasar bagi petani.
Dampaknya, stok beras pemerintah lebih aman dan risiko gejolak harga di tingkat konsumen dapat ditekan. Di sisi lain, petani memperoleh saluran penjualan yang jelas saat panen raya.
Ketua KTNA Jember Moch. Sholeh menyebut kondisi petani saat ini cukup menggembirakan. Harga gabah di lapangan berada di kisaran Rp7.200 hingga Rp7.500 per kilogram, lebih tinggi dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp6.500 per kilogram.
“Tingginya harga ini membuat petani menikmati hasil panennya. Namun jika harga turun, Bulog harus hadir menjadi pelindung petani,” tegasnya.
Selain serapan gabah, forum juga membahas penguatan program maklun melalui koperasi. Skema ini memungkinkan petani menjual hasil panen dalam bentuk beras langsung ke Bulog, memotong rantai distribusi, dan meningkatkan nilai tambah.
“Kalau petani kuat, stok aman, masyarakat pun tenang,” pungkas Sholeh.
Penulis : Herry
Editor : Zainul Arifin


















Komentar