PASURUAN, RadarBangsa.co.id – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Pasuruan, Senin (28/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap impor susu sekaligus melihat potensi pengembangan peternakan sapi perah di daerah.
Titiek mengunjungi Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Sukamakmur di Kecamatan Grati. Kedatangannya disambut Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo, Ketua KUTT Sukamakmur Evi Zainal Abidin, serta jajaran terkait.
Di lokasi, Titiek meninjau proses produksi susu sapi segar di area kandang (farm). Agenda kemudian dilanjutkan dengan dialog bersama peternak sapi perah, pengurus koperasi susu, hingga perwakilan industri pengolahan susu.
Dalam kesempatan itu, Titiek menyampaikan bahwa produksi susu segar nasional saat ini baru memenuhi sekitar 20 persen dari total kebutuhan dalam negeri. Artinya, sebagian besar kebutuhan masih bergantung pada impor.
Menurut Titiek, pemerintah tengah menyiapkan skema bantuan komprehensif untuk mengejar target swasembada susu nasional. Bantuan tersebut mencakup pembelian sapi perah hingga penyediaan lahan pakan.
“Kita tidak hanya mendatangkan sapi impor dalam jumlah banyak, tetapi juga harus memikirkan pakannya. Begitu sapi datang, mereka makan apa? Jadi pakan harus disediakan melalui penyiapan lahan hijauan,” tegas Titiek.
Ia juga menanggapi aspirasi peternak yang meminta pembatasan impor. Titiek mengatakan produksi lokal tetap menjadi prioritas, namun impor belum dapat dihentikan sepenuhnya selama kebutuhan domestik belum terpenuhi.
“Kita semua inginnya memaksimalkan produksi lokal, tidak ada yang mau impor. Tetapi jika produksi lokal belum memenuhi, sementara kita butuh susu agar anak-anak kita tumbuh cerdas, mau tidak mau impor tetap ada namun harus dibatasi secara ketat,” jelasnya.
Di tengah upaya tersebut, Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo memperkenalkan Genom Sapi Grati, kekayaan genetik lokal yang tengah dikembangkan di Kabupaten Pasuruan. Penelitian terhadap genom tersebut telah rampung dan kini memasuki tahap pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
“Di sini ada varietas sapi yang cuma ada di Kabupaten Pasuruan, yaitu Genom Sapi Grati. Saat ini kami sedang dalam tahap proses mengembangbiakkannya,” ujar Rusdi.
Genom Sapi Grati disebut mampu tumbuh dan produktif di wilayah dataran rendah yang dekat dengan garis pantai. Pengembangan awal akan difokuskan di Kecamatan Grati dan Nguling.
Pemkab Pasuruan bersama pihak koperasi juga membuka peluang agar teknologi genetika tersebut dapat diadopsi daerah lain di Indonesia.
“Kami terus biakkan di Grati dan Nguling. Ke depan, kami juga membuka kesempatan bagi kabupaten atau kota lain yang ingin memanfaatkan Genom Sapi Grati ini untuk membangkitkan kembali industri peternakan susu di daerah mereka,” ungkap Rusdi.
Penulis : Ahmad
Editor : Zainul Arifin


















Komentar