PASURUAN, RadarBangsa.co.id – Umat Hindu Suku Tengger kembali menggelar Upacara Yadnya Karo 2026 yang berlangsung khidmat di Pendopo Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Rabu (29/7/2026). Tradisi tahunan yang bertepatan dengan bulan purnama dalam penanggalan Karo itu menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus wujud bakti kepada Sang Pencipta.
Rangkaian upacara dihadiri ratusan umat Hindu Tengger bersama sejumlah tokoh, di antaranya Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan Agus Setya Wardhana dan Camat Tosari Bachtiar. Seluruh prosesi berlangsung dengan penuh kekhusyukan sebagai bagian dari pelestarian adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Prosesi Yadnya Karo telah dimulai sejak Selasa (28/7/2026) melalui ritual Resik Dhanyang Banyu, Nurunien, hingga Pencucian Jimat Kelontong. Memasuki hari kedua pada Rabu dini hari sekitar pukul 04.00 WIB, ritual dilanjutkan dengan upacara Mbelaraki yang dipimpin para sesepuh adat.
Ketua Paruman Dukun Pandita Tengger Brang Kulon, Romo Eko Warnoto, mengatakan Upacara Yadnya Karo merupakan simbol penghormatan kepada leluhur yang telah tiada atau ngaluhur sekaligus bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta.
“Upacara Karo ini merupakan simbolisasi dari sangkan paraning atau asal-usul penciptaan manusia, yang secara estetis dan filosofis digambarkan melalui pementasan Tari Sodor,” ujar Romo Eko.
Ia menjelaskan Tari Sodor menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Upacara Yadnya Karo. Tarian sakral tersebut dibawakan secara bergantian oleh 13 kelompok penari yang mewakili 11 desa di kawasan Tengger sebelum prosesi dilanjutkan dengan ritual Puja Stuti Jimat Kelontong dan penyimpanan kembali benda pusaka ke tempat suci.
Menurutnya, ritual Resik Dhanyang Banyu memiliki makna menjaga keselarasan antara makrokosmos dan mikrokosmos. Prosesi itu dilakukan sebagai upaya menyelaraskan alam semesta beserta kehidupan manusia agar tetap berada dalam keseimbangan.
“Ritual Resik Dhanyang Banyu bertujuan untuk menyinkronkan alam semesta beserta isinya, termasuk diri manusia. Jika alam ini bersih, vibrasi kesuciannya tentu akan memberikan dampak positif bagi kehidupan manusia,” ungkapnya.
Romo Eko menegaskan Yadnya Karo bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan pilar penting dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual. Ia juga mengajak generasi muda untuk terus merawat identitas budaya Tengger agar tetap lestari.
“Pesan kami sebagai sesepuh Tengger, terutama untuk generasi muda, ingatlah selalu asal-usul dan jati diri Anda. Jangan sampai meninggalkan akar budaya. Lestarikan adat istiadat ini sebagai ungkapan terima kasih dan bakti kita kepada leluhur,” pungkasnya.
Penulis : Ahmad
Editor : Zainul Arifin


















Komentar