PAMEKASAN, RadarBangsa.co.id – Sebanyak 2.000 anak disabilitas dari berbagai wilayah Madura berkumpul di Gedung Bakorwil IV Pamekasan, Minggu (26/4/2026). Kegiatan santunan yang digelar BIP Foundation ini tak hanya menghadirkan suasana haru, tetapi juga menyoroti pentingnya akses layanan publik yang inklusif bagi penyandang disabilitas.
Acara bertema “Memetik Berkah melalui Senyum Anak-anak Surga” ini menjadi momentum untuk mendorong perhatian lebih serius terhadap kelompok rentan. Di tengah keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, dan fasilitas umum, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa hak penyandang disabilitas masih perlu diperjuangkan secara sistematis.
Pendiri BIP Foundation, H. Ali Zainal Abidin, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar santunan, tetapi upaya membangun kepedulian sosial yang berkelanjutan.
“Kami ingin hadir sebagai sahabat, bukan hanya pemberi bantuan. Anak-anak ini berhak mendapatkan perhatian, ruang, dan kebahagiaan yang sama,” ujarnya.
Ia menilai masih banyak penyandang disabilitas yang belum tersentuh layanan secara optimal, baik dari sisi infrastruktur maupun dukungan sosial. Karena itu, keterlibatan masyarakat dinilai penting untuk menutup celah tersebut.
“Di luar sana masih banyak yang membutuhkan uluran tangan. Kepedulian kecil bisa menjadi kekuatan besar bagi mereka untuk terus bertahan,” imbuhnya.
Sementara itu, Bupati Pamekasan turut mengapresiasi inisiatif tersebut dan menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan komunitas dalam memperkuat layanan inklusif.
“Ini bukan sekadar bantuan sosial, tetapi bentuk nyata memanusiakan manusia. Kami melihat ini sebagai energi positif bagi pembangunan daerah,” kata Bupati.
Menurutnya, pemerintah memiliki keterbatasan dalam menjangkau seluruh kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, sinergi dengan komunitas seperti BIP Foundation menjadi kunci untuk memastikan penyandang disabilitas mendapatkan hak yang setara.
Selama kegiatan berlangsung, panitia menyediakan fasilitas ramah disabilitas, mulai dari akses kursi roda, toilet khusus, hingga pendamping bagi peserta. Langkah ini menjadi contoh konkret bagaimana pelayanan inklusif dapat diterapkan dalam kegiatan publik.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi mendorong kebijakan yang lebih kuat terkait aksesibilitas layanan publik. Dengan begitu, penyandang disabilitas tidak hanya mendapat bantuan sesaat, tetapi juga jaminan hak dalam kehidupan sehari-hari.
“Anak-anak ini harus kita pastikan mendapat akses dan kesempatan yang sama. Itu tanggung jawab bersama,” pungkas Bupati.
Penulis : Debora
Editor : Zainul Arifin


















Komentar