SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur didorong menerjemahkan konsep Gerbang Baru Nusantara: The Next Level menjadi program pembangunan yang konkret, terukur, dan berdampak langsung bagi masyarakat. Penguatan konektivitas, produksi dan perdagangan, serta pengembangan talenta menjadi tiga bidang utama yang dibahas dalam sarasehan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur di atas KRI Makassar 590, Selasa (13/10/2026).
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono menegaskan, konsep tersebut tidak boleh berhenti sebagai slogan. Implementasinya perlu diperkuat dengan pemetaan capaian, identifikasi persoalan, dan penentuan arah kebijakan yang didukung fakta serta data.
“Gerbang Baru Nusantara ini tidak hanya sekadar konsep atau jargon. Kita ingin konsep ini semakin kuat pemahamannya, semakin nyata implementasinya, dan semakin luas manfaatnya bagi seluruh provinsi di Indonesia,” ujar Adhy.
Menurut Adhy, posisi strategis Jawa Timur ditopang tiga bidang, yakni Gerbang Talenta, Gerbang Produksi dan Perdagangan, serta Gerbang Konektivitas yang turut didukung layanan keuangan lintas wilayah.
Pada sektor konektivitas, Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur Nyono memaparkan dukungan jaringan transportasi berupa delapan bandara dan 42 pelabuhan laut. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan pergerakan manusia, barang, dan aktivitas ekonomi antarwilayah.
Nyono juga menyebut Pelabuhan Tanjung Perak melayani 25 dari 41 rute tol laut. Pengembangan transportasi diarahkan pada integrasi angkutan publik, penguatan layanan kepulauan, serta koneksi antarmoda, termasuk melalui Trans Jatim dan angkutan pengumpan.
Sementara itu, sektor produksi dan perdagangan menjadi penopang penting perekonomian Jawa Timur. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur Iwan memaparkan, industri pengolahan berkontribusi 31,27 persen terhadap struktur perekonomian provinsi tersebut pada semester I 2026. Sektor perdagangan menyumbang 18,49 persen.
Penguatan kedua sektor itu diarahkan melalui perluasan pasar ekspor, fasilitasi pertemuan bisnis, partisipasi dalam pameran internasional, serta kemitraan industri kecil dan menengah (IKM) dengan industri besar. Pendampingan IKM juga mencakup pengolahan bahan baku, standardisasi, sertifikasi, hingga pemasaran.
Di bidang perdagangan, Adhy menyoroti misi dagang antarprovinsi yang dapat dilaksanakan hingga dua kali dalam sebulan. Ia menyebut kegiatan tersebut turut mendukung surplus perdagangan Jawa Timur dan memperluas pemasaran produk ke berbagai daerah maupun pasar dunia.
“Dalam perdagangan, misi dagang antarprovinsi bahkan bisa dilaksanakan dua kali dalam sebulan. Hasilnya, Jawa Timur mampu mencatatkan surplus perdagangan. Produk-produk Jawa Timur diminati tidak hanya di berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga di pasar dunia. Inilah yang kita dorong melalui Gerbang Baru Nusantara The Next Level,” tambahnya.
Selain konektivitas dan perdagangan, pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian dari pembahasan. Sektor pendidikan diarahkan untuk memperkuat potensi peserta didik dan mutu layanan, termasuk bagi pelajar dari luar Jawa Timur.
Sarasehan tersebut juga melibatkan sektor kesehatan, agrokompleks, dan pariwisata. Pembahasan mencakup layanan rumah sakit yang menjangkau masyarakat lintas daerah, kontribusi pertanian dan peternakan terhadap pasokan pangan, serta potensi pariwisata dalam memperluas manfaat ekonomi.
Pengamat sosial Jawa Timur sekaligus akademisi Universitas Trunojoyo Madura, Surokim AS, menilai visi Gerbang Baru Nusantara perlu menjadi dorongan bagi seluruh perangkat daerah untuk meningkatkan kinerja dan menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat.
“Gerbang Baru Nusantara harus benar-benar menjadi tantangan sekaligus energi bagi seluruh perangkat daerah untuk naik level. Bukan sekadar menjadi visi tertulis atau jargon, melainkan sumber inspirasi bagi setiap langkah dan kebijakan pembangunan di Jawa Timur,” ujarnya.
Sementara itu, akademisi Universitas Airlangga, Suko Widodo, menekankan pentingnya keselarasan identitas, reputasi, komunikasi, dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Menurutnya, kepercayaan warga terhadap pemerintah berkaitan dengan pengalaman nyata atas pelayanan yang diterima.
Diskusi yang dipandu Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Jawa Timur tersebut diarahkan untuk menghasilkan tiga hingga lima rekomendasi prioritas berbasis fakta dan data. Rekomendasi itu akan menjadi bahan pertimbangan pimpinan dalam merumuskan kebijakan dan program penguatan Gerbang Baru Nusantara.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar