Biaya Politik Tinggi Picu Politik Transaksional, Prof. Albertus Soroti Distorsi Pilkada

Jumat, 16 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Prof. Albertus Wahyurudhanto memberikan paparan di Simposium Nasional SMSI, Jakarta, Rabu (14/1/2026). Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id

Prof. Albertus Wahyurudhanto memberikan paparan di Simposium Nasional SMSI, Jakarta, Rabu (14/1/2026). Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id

JAKARTA, RadarBangsa.co.id — Tingginya biaya politik dalam pemilihan kepala daerah secara langsung dinilai memperkuat praktik politik transaksional dan berpotensi menurunkan kualitas demokrasi, kata Prof. Dr. Albertus Wahyurudhanto, M.Si., Guru Besar Ilmu Pemerintahan STIK, saat Simposium Nasional SMSI, Rabu (14/1/2026).

Prof. Albertus menekankan bahwa masalah utama Pilkada bukan sekadar model pemilihan, melainkan mahalnya ongkos kontestasi politik. Menurutnya, calon dengan modal besar lebih mudah menang, sedangkan integritas, pengalaman, dan kapasitas kepemimpinan sering kali terpinggirkan.

“Pilkada langsung hari ini cenderung menjadi arena kompetisi modal. Kandidat yang memiliki sumber daya finansial besar lebih berpeluang, sementara kapasitas, integritas, dan rekam jejak kepemimpinan sering kali terpinggirkan,” ujarnya dalam simposium di Press Club Indonesia, Jakarta Pusat.

Fenomena ini mendorong praktik politik uang sejak tahap penjaringan internal partai hingga pemerintahan pasca-terpilih, yang dapat menggeser fokus kebijakan dari kepentingan publik menjadi pemulihan modal politik.

Prof. Albertus menilai wacana pengembalian Pilkada melalui DPRD tidak serta-merta menghapus politik transaksional, tetapi dapat menekan biaya politik jika disertai sistem pengawasan ketat dan transparan.

“Jika Pilkada dilakukan melalui DPRD, risiko politik uang memang tidak hilang, tetapi bisa lebih terkendali karena ruang transaksi lebih sempit dan dapat diawasi secara institusional,” katanya.

Ia juga menyinggung pengalaman historis era sebelum reformasi, termasuk masa Orde Baru, yang menunjukkan demokrasi bisa lebih rasional dan efisien bila disertai kontrol dan mekanisme meritokrasi.

“Model lama tentu tidak ideal dan tidak bisa diterapkan mentah-mentah. Namun ada nilai yang bisa dipelajari, yakni demokrasi harus rasional, berbiaya wajar, dan tidak membebani sistem pemerintahan,” tambahnya.

Prof. Albertus menekankan bahwa jika wacana Pilkada melalui DPRD diterapkan kembali, harus disertai reformasi menyeluruh, termasuk seleksi calon berbasis merit, keterbukaan proses pengambilan keputusan, dan akuntabilitas DPRD terhadap publik.

Simposium Nasional SMSI menjadi ajang pertukaran gagasan antara akademisi, praktisi media, dan pemangku kepentingan, menegaskan perlunya evaluasi sistem Pilkada agar tetap sejalan dengan nilai-nilai Demokrasi Pancasila menjelang agenda pemilihan kepala daerah berikutnya.

Dampak tingginya biaya politik dalam Pilkada langsung menuntut perhatian serius dari pembuat kebijakan. Evaluasi sistem dan reformasi mekanisme seleksi kepala daerah menjadi langkah krusial untuk menjaga kualitas demokrasi dan akuntabilitas pemerintahan daerah.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Pernah Mendaki Ijen, Konjen AS Terpikat Wisata dan Kuliner Banyuwangi
Operasi Patuh Candi 2026, Polres Kendal Mengajak Warga Tertib Taat Bayar Pajak
496 Tahun Pamekasan, Komitmen Baru untuk Daerah yang Lebih Maju
Pemprov Jatim Raih Satya JKN Awards 2026, Khofifah Perkuat Perlindungan Pekerja
24 Tim dari 18 Kecamatan Ramaikan Bupati Cup Free Fire Pasuruan
Seni Budaya Kendal Tampil di Panggung Nasional TMII, Sedot Perhatian Pengunjung
SMK Muhammadiyah 3 Weleri Bentuk Siswa Disiplin dan Peduli Lingkungan
Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 10:12

Pernah Mendaki Ijen, Konjen AS Terpikat Wisata dan Kuliner Banyuwangi

Kamis, 5 November 2026 - 22:03

Operasi Patuh Candi 2026, Polres Kendal Mengajak Warga Tertib Taat Bayar Pajak

Kamis, 5 November 2026 - 08:46

496 Tahun Pamekasan, Komitmen Baru untuk Daerah yang Lebih Maju

Senin, 2 November 2026 - 10:14

Pemprov Jatim Raih Satya JKN Awards 2026, Khofifah Perkuat Perlindungan Pekerja

Senin, 2 November 2026 - 06:05

24 Tim dari 18 Kecamatan Ramaikan Bupati Cup Free Fire Pasuruan

Berita Terbaru